Dia di Tangan yang Terbaik

Salah seorang rekan baik saya baru saja memberitahu bahwa dia telah kehilangan bayinya. Si kecil meninggal dalam kandungan di usia sekitar tujuh bulan. Saya bisa memahami kesedihan mendalam yang rekan saya dan pasangannya rasakan. Tentu saja tidak mudah melewati semua ini.

Pengalaman rekan saya ini membawa memori saya kembali ke masa tiga tahun lalu, ketika saya mengalami krisis terkait dengan anak saya. Tanggal 22 Agustus tahun itu, Tuhan membuat senyum tak hentinya mengembang di wajah saya ketika Dia mengaruniakan Edward Calvin Kristianto kepada saya dan istri (saya rasa saya tidak perlu menjelaskan ulang bahwa melalui nama itu, saya berharap dia sesaleh Jonatahan EDWARD, sepintar John CALVIN, dan setampan Stefanus KRISTIANTO hehehe). Beberapa hari kemudian, sukacita ini kian memuncak. Ketika saya akan membawanya pulang, sambil terlelap, dia tersenyum dalam gendongan saya. Anda bisa bayangkan? Mungkin waktu itu merupakan salah satu momen terindah dalam hidup saya!

Krisis terjadi esok harinya, ketika kami membawanya ke dokter untuk periksa paska kelahiran. Dokter menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laborat, anak kami divonis mengalami masalah enzim. Anak kami mengalami defisiensi enzim yang namanya G6PD. Kami yang awam soal penyakit itu segera bertanya pada Google yang “Mahatahu” perihal seluk beluk penyakit itu.

Singkatnya, enzim G6PD merupakan enzim yang membuat sel darah merah kita lebih stabil. Defisiensi enzim tersebut menyebabkan sel darah merah kita akan lebih mudah pecah. Efek bila terlalu banyak sel darah merah yang pecah, si penderita akan mengalami anemia atau, bila dalam taraf yang sangat serius, bahkan kematian! Mengetahui hal itu membuat saya merasa jantung saya copot seketika!

Dijelaskan kemudian oleh dokter dan Google yang “Mahatahu” bahwa seumur hidupnya anak kami harus menghindari beragam faktor pemicu yang bisa menyebabkan sel darah merahnya pecah. Faktor pemicu itu mencakup antara lain, faktor makanan (pantang kacang-kacangan, khususnya kacang koro), obat-obatan (pantang obat mengandung sulfa), dan kontak langsung dengan kamper/kapur barus (mengetahui hal ini, kami dan keluarga segera membuang segala jenis kamper dari rumah kami, baik di Surabaya maupun di Batu hehehe). Jujur, kenyataan itu membuat saya yang rasanya baru saja diangkat Tuhan ke awan-awan, mendadak bak dibanting keras-keras ke tanah! Saya hanya bisa terpekur bak burung yang tak tahu arah pulang.

Dua hari kemudian, kami hendak mencoba mencari pendapat kedua perihal keadaan anak kami. Saya mencoba mendaftar di dokter anak yang praktik di dekat pastori tempat kami tinggal. Sepulang dari mendaftar, saya terperanjat mendapati anak kami tidak bisa dibangunkan. Saya mencoba menggoyang-goyangnya bahkan menggebrak ranjang tempat dia tidur. Namun, tak ada respon! Saya ingat waktu itu istri saya hanya bisa menangis sambil menyebut-nyebut nama anak kami. Segera saya putuskan membawa anak kami ke UGD supaya dia segera bisa ditangani. Dalam perjalanan menuju rumah sakit itu, saya yang dari kecil diajarkan untuk tidak mudah menangis, tak kuasa untuk menahan derai air mata. Saya hanya berdoa dalam hati, “Tuhan, tolong selamatkan anak kami!”

Singkat cerita, ternyata anak kami hanya tertidur lelap sehingga dia susah dibangunkan (hehehe bikin kaget aja). Tapi sayangnya, masalah tidak berhenti di sana. Kami mendapati bahwa ternyata anak kami juga memiliki masalah dalam sistem digestifnya. Waktu itu, dia selalu menangis setiap kali hendak buang air besar. Dia nampak kesulitan dan kesakitan untuk bisa mengeluarkan fesesnya. Beberapa hari kemudian, saya dan istri memutuskan untuk membawa anak kami menjalani pemeriksaan darah dan beberapa pemeriksaan lain di sebuah laboratorium.

Waktu itu, saya memilih tinggal di rumah. Selain karena saya harus mempersiapkan diri untuk pelayanan, saya juga tak kuat melihat jarum suntik menembus kulit anak kami yang baru berusia semingguan. Ketika istri saya, mami serta koko saya berangkat mengantar anak kami menjalani pemeriksaan, sambil mencuci pakaian Calvin, saya menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan. Jujur, pengalaman itu merupakan salah satu titik nadir kehidupan yang pernah saya alami. Saya protes pada Tuhan! Saya kecewa pada-Nya! Bila Anda memiliki anak, Anda pasti bisa memahami apa yang saya rasakan waktu itu! Meski saya berulang kali mengajar jemaat untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan, tapi jujur, sangat tidak mudah bagi saya untuk bersyukur dalam keadaan demikian.

Satu titik dimana Tuhan mengubah pola pikir saya terjadi beberapa hari kemudian. Mentor akademis saya mengunjungi kami untuk melihat anak kami. Di tengah kunjungan itu, saya menceritakan keadaan anak kami dan segala kegalauan yang menghinggapi saya. Mentor saya kemudian menceritakan pengalamannya hampir kehilangan anak keduanya. Di akhir ceritanya, dia mengingatkan saya, “anak itu milik Tuhan. Bila memang Dia mengambilnya, satu penghiburan besar buat kita karena kita tahu anak kita ada di Tangan yang Terbaik.”

Rekans, saya menyadari kehilangan buah hati yang kita kasihi bukanlah fase yang mudah untuk dilewati. Saya memang tidak pernah (dan tidak berharap) mengalaminya. Pengalaman hanya membawa saya sampai sebatas “hampir merasakannya.” Puji syukur pada Tuhan, Dia masih mempercayakan Calvin pada kami. Meski demikian, keadaan Calvin mengajar kami untuk tetap sadar bahwa dia memang bukan milik kami. Dia adalah milik Tuhan yang Tuhan titipkan pada kami untuk kami didik menjadi gambar dan rupa Allah berikutnya. Karena itu, kami harus belajar siap bila sewaktu-waktu Tuhan ingin dia kembali (meski sekali lagi, kami terus berharap Tuhan memberi kami waktu bersama yang panjang).

Karena itu, dalam kehilangan yang kita alami, belajarlah untuk tidak larut dalam kesedihan. Jangan marah pada Tuhan karena kita kehilangan hak kita, yaitu waktu untuk bersama dengan buah hati kita. Jangan juga kecewa karena penerus nama keluarga dan pembawa harapan kita Tuhan ambil kembali. Sebaliknya, belajarlah bersukacita karena buah hati yang kita kasihi ada di Tangan yang Terbaik. Dia sedang menikmati hal-hal yang baik, jauh lebih baik daripada apa yang kita bisa berikan untuknya. Lagipula, bukankah mengasihi berarti mengharapkan yang terbaik untuk orang yang kita kasihi? Bila dia sedang mendapatkan hal-hal yang baik, lantas mengapa kita bersedih?

*Didedikasikan untuk rekan yang baru saja kehilangan buah hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s