Kekuatan di Tengah Kedukaan

Pada tanggal 31 Juli 2015, saya harus kembali ke Malang untuk melanjutkan studi. Berbeda dengan biasanya, saya sangat tidak rela untuk kembali ke Malang. Sepertinya saya kurang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga. Waktu kami bersama bisa dibilang cukup singkat dan saya hampir tidak ingin kembali ke Malang.

Sesampainya di Malang, saya menceritakan hal ini kepada teman-teman yang ada disana dan mereka mengatakan bahwa semua orang juga pasti merasakan hal yang sama. Perasaan itu adalah perasaan yang wajar. Ya, saya tahu itu, tapi tetap saja saya sangat tidak rela. Sampai beberapa hari saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semua itu wajar dan sebentar lagi perasaan itu akan hilang. Namun, perasaan itu tidak kunjung hilang. Ada perasaan bersalah yang terus ada di dalam hati saya kenapa saya tidak menghabiskan waktu banyak dengan keluarga.

Di suatu sore, tanggal 10 Agustus 2015, sekitar jam 6, saya melihat handphone dan mendapati Stefanus Kristianto dan Ricky Njoto sedang meributkan sesuatu yang berkenaan dengan alamat saya (saya tidak sempat membaca semua chat nya). Dengan perasaan bingung campur takut saya membuka artikel yang dikirimkan. Namun, karena sinyalnya jelek, susah sekali untuk membuka artikel itu. Saya memutuskan untuk cek notification yang lain dan benar saja mama saya mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa “mpek (kakak laki-laki dari papa) meninggal tadi sore” waktu itu saya masih tidak percaya. Bagaimana mungkin mpek saya yang sehat-sehat saja (yang saya tahu beliau punya riwayat diabetes) bisa meninggal tiba-tiba. Dengan tangan yang bergetar, saya menelpon mama saya. Begitu mama saya menjawab telpon, saya bertanya apa yang terjadi dengan mpek saya. Mama saya pun berkata bahwa mpek saya sudah meninggal. Waktu mendengar hal itu langsung dari mulut mama saya, barulah saya percaya bahwa mpek saya memang sudah meninggal. Mama saya bercerita sambil menangis apa yang terjadi, tapi saya sudah tidak bisa mendengar sepenuhnya. Air mata saya mengalir terus dan begitu mama saya menutup telpon, saya menangis keras, cukup keras sampai beberapa teman di asrama berkerumun menenangkan saya.

Pada saat saya menangis, saya berpikir. Kenapa kamu menangis keras sekali disini? Malu dilihat orang banyak. Saya tahu saya harus berhenti tapi saya tidak bisa berhenti menangis. Salah satu teman bertanya, apakah beliau sudah percaya Kristus? Kalau sudah percaya Kristus, kamu tidak perlu sedih, beliau sudah bahagia disana. Kemudian saya kembali berpikir, saya tahu beliau sudah bahagia disana tapi tetap saja saya sangat kehilangan. Saya juga teringat perkataan Paulus boleh bersedih tapi jangan berlama-lama,mpek lebih baik disana, mpek lebih bahagia disana, bahkan mengingat perkataan teman saya  “Alangkah indahnya kalau kita meninggal di saat kita sudah menyelesaikan tugas kita” dan saya merasa mpek sudah menyelesaikan tugasnya dengan cukup baik, tapi tangisan saya tidak kunjung berhenti.

Bicara soal mpek saya, beliau adalah hamba Tuhan yang sangat luar biasa. Dia pernah terhilang dan Tuhan membawanya kembali, memanggilnya untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Setiap kali bercerita tentang betapa baiknya Tuhan, betapa indahnya isi alkitab, beliau selalu bersemangat, berapi-api. Beliau juga yang terus mendukung saya. Dia begitu semangat waktu mendengar saya mau menjadi hamba Tuhan. Setiap saya pulang atau bertemu dengan beliau, beliau selalu bertanya bagaimana sekolahnya, apa saja yang sudah kamu pelajari dan saat saya tidak begitu bersemangat menjelaskannya dan merasa bahwa apa yang saya ketahui masih sangat sedikit, beliau langsung memberikan semangat, “Nggak papa, kamu masih awal tapi sungguh kalau kamu belajar, alkitab itu bagus sekali, indah!” kemudian beliau melanjutkan dengan memberikan contoh keindahan Alkitab, keajaiban-keajaiban yang Tuhan lakukan dalam Alkitab dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya kepada saya, tapi beliau selalu bersemangat menceritakan tentang Tuhan dan Alkitab kepada semua orang yang ditemuinya. Beliau juga lah salah satu orang yang membuat papa saya percaya, bahkan sekarang sudah hampir semua keluarga besar saya percaya dan saya yakin beliau punya andil karena beliau tidak pernah lelah memberitakan Kristus.

Hal lain yang paling saya ingat adalah mpek saya sangat suka bahasa Yunani. Dia berjanji kepada saya, kalau ada yang saya tidak bisa, boleh bertanya pada beliau dan beliau akan mengajari saya. Dia menjelaskan betapa pentingnya bahasa Yunani dan Ibrani bagi kita yang terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Namun, belum sempat beliau mengajari saya, beliau sudah pulang.

Waktu saya kembali ke Surabaya dan bertemu dengan aem (istri mpek), hal pertama yang aem saya katakan adalah “kamu harus meneruskan mpek. Cuma kamu satu-satunya ahli warisnya mpek”  waktu itu saya tidak kuasa lagi menahan air mata. Jujur saja, sebelumnya, saya berpikir menghentikan niat saya menjadi hamba Tuhan. Saya merasa saya tidak mampu. Sudah setahun saya menjalani panggilan tapi kelihatannya tidak ada perubahan yang signifikan. Saya tetap malas, saya tetap “malu” menginjili, banyak hal yang membuat saya terdistraksi sehingga saya tidak bisa fokus. Saya sempat berpikir, apakah benar memang Tuhan  memanggil saya. Sekarang, Tuhan menjawab saya dengan cara yang cukup menyakitkan. Kemarin, di samping peti mati mpek saya, saya berjanji bahwa saya akan menjalani panggilan Tuhan dengan setia seperti apa yang mpek lakukan.

Melalui peristiwa ini, selain Tuhan meneguhkan panggilan saya, Tuhan juga kembali membakar hati saya untuk bermisi, untuk menyelamatkan jiwa-jiwa di luar sana yang belum mengenal Tuhan. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan dipanggil pulang. Sebagai orang kristen, saat kita dipanggil pulang, apa yang bisa kita pertanggungjwabkan di hadapan Dia. Apakah kita pulang dengan tangan kosong, tanpa ada jiwa yang kita bawa di hadapan Tuhan? Apakah kita pulang tanpa memikirkan orangtua, saudara, teman, kerabat kita yang belum percaya, tanpa memikirkan kemana mereka setelah mereka meninggal nanti?

Sungguh betapa indahnya jika semua lidah, semua bangsa bersujud di hadapan Tuhan dan memuliakan Dia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s