Paulus: Latar Belakang Kehidupan dan Perannya

Paulus merupakan seorang sosok yang begitu kontroversial, namun juga sentral dalam Kekristenan. Disebut kontroversial karena, “He prompted vehement opposition from Jewish Christians, violent reaction from his Judean compatriots, and even criminal punishment from Greco-Roman authorities. You do not get beaten, flogged, imprisoned, and stoned without saying and doing things that are deemed controversial, offensive, and even subversive.[1] Akan tetapi, sosok yang sama tersebut juga merupakan sosok kunci dalam Kekristenan. Bahkan bisa dibilang bahwa setelah Yesus tentu saja, pribadi ini merupakan pribadi yang paling signifikan dalam Kekristenan. Setelah Yesus, ia adalah pribadi yang paling mendominasi bagian-bagian Perjanjian Baru. Selain itu, dari dua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru, tiga belas surat atau sekitar separuh kitab Perjanjian Baru, ditulis oleh Paulus.[2] Sehingga, tanpa mengesampingkan penulis kitab lainnya, cukup beralasan dikatakan bahwa teologi Kristen amat dipengaruhi oleh pemikiran Paulus. Akan tetapi siapakah sosok ini sebenarnya?

Latar Belakang Paulus

Di dalam Alkitab setidaknya disebutkan ada dua nama Paulus, yakni Paulus sang rasul dan Sergius Paulus, seorang gubernur Romawi di Siprus yang dipertobatkan oleh Paulus (Kis. 13:7). Jerome berpendapat bahwa ada kaitan di antara dua nama ini. Ia menyatakan bahwa ada kebiasaan di antara jenderal-jenderal Roma yang terkenal untuk mengambil nama dari negara dimana mereka mencapai kemenangannya yang paling besar untuk dijadikan nama tambahan baginya. Sebab itu, ia berpendapat bahwa karena Paulus telah berhasil mengajak Sergius Paulus untuk menjadi pengikut Kristus, ia mengambil nama Paulus sebagai kenang-kenangan. Ini didukung oleh konteks narasi Kisah Para Rasul, dimana Saulus berganti menjadi Paulus pertama kalinya setelah peristiwa tersebut (bnd. Kis. 13:13).[3].

Meskipun penjelasan ini menarik, namun nampaknya lebih tepat melihat bahwa Paulus memang memiliki dua nama, nama Ibrani (Saulus) dan nama Yunani (Paulus[4]; bnd. Kefas dan Petrus; Tomas dan Didimus; Tabita dan Dorkas). Nama Paulus sama sekali tidak menggantikan nama Saulus! Paulus tidak menggunakan nama Saulus dalam tulisannya sebab ia menulis pada orang-orang Kristen yang rata-rata bukanlah orang Yahudi. Lagipula, nama Yunani saulos memang jarang digunakan sebab memiliki arti yang kurang baik (mengangkang, menggoyang, pincang). Sementara Lukas perlu menuliskan nama tersebut untuk menyesuaikan dengan suara ilahi yang didengar Paulus dalam panggilannya di Damsyik (Kis. 9:4; 22:7; 26:14).[5]

Walau dalam surat-suratnya ia tidak pernah menyebutkan asal-usulnya, namun Lukas mencatat pernyataan Paulus bahwa ia dilahirkan di Tarsus, Kilikia dan dibesarkan di Yerusalem (Kis. 21:39; 22:3[6]). Ia didik[7] dengan teliti di bawah bimbingan Gamaliel, seorang guru yang terkenal pada zaman itu (bnd. Kis. 5:34) dalam hal studi Taurat dan kemudian menjadi seorang yang militan serta giat bekerja bagi Allah.[8] Hal terakhir inilah yang seringkali dibanggakannya dalam beberapa bagian suratnya: semangatnya  melayani Allah, bukan kualitas akademisnya (Bnd. Gal. 1:13-14)[9]. Militansi teologis Paulus salah satunya terwujud dalam penyiksaannya terhadap orang-orang Kristen awal. Di dalam Perjanjian Lama, bisa ditemukan banyak contoh militansi teologi yang berujung pada upaya pemusnahan kesesatan, misalnya tindakan Pinehas (Bil. 25:6-13; Mzm. 106:30-31; Sir. 45:28-32; 1Mak. 2:25, 54; 4Mak. 18:12), Saul (1Sam. 28:9), Elia (1Ra. 18:40; 19:14) dan Yehu (2Raj. 10:16). Sehingga, tindakan Paulus menyiksa orang-orang Kristen awal hanyalah imitasi dari bentuk militansi yang telah terekam dalam sejarah ini.[10]

Akan tetapi, meski dididik dalam pemikiran Yahudi yang ketat, Paulus juga mengenal dengan baik pemikiran non-Yahudi. Ini bisa dideteksi dari beberapa kali rujukannya terhadap pemikiran non-Yahudi (mis. Epimenides: Kis. 17:28f; Epikurus: 1Kor. 15:32b; Menander: 1Kor. 15:33; Aratus: Tit. 1:12). Fenomena ini sendiri disebabkan oleh, “ ‘In antiquity ideas did not flow in pipes’ and Paul’s world was one in which he was exposed to many different influences and combinations of influences[11]

Pertobatan Paulus

Sebuah momen penting yang mengubah hidup Paulus terjadi dalam perjalanan-Nya ke Damsyik. Momen yang membuat seorang penganiaya jemaat berubah menjadi pemberita Injil Kristus yang terkemuka. Pengalaman ini dideskripsikan sekali oleh Lukas (Kis. 9:3-6), dua kali oleh Paulus dalam Kisah Para Rasul (Kis. 22:6-11; 26:12-15) dan sekali dalam suratnya (Gal. 1:15-16). Meski demkian, rujukan terhadap perstiwa ini bisa ditemukan dalam banyak bagian surat Paulus. Ini menunjukkan besarnya signifikansi peristiwa tersebut bagi hidup Paulus. Mayoritas sarjana, bahkan, melihat peristiwa ini dan implikasinya memiliki peran yang penting dalam pembentukan teologi Paulus. Melaui peristiwa ini, Paulus tersadar bahwa apa yang dulu dianggapnya sebagai militansi bagi Allah ternyata sebenarnya merupakan penganiayaan terhadap Allah, sehingga tidak bisa tidak, dia harus berbalik.

Perjumpaan Paulus dengan Kristus ini bukanlah sekadar pengalaman psikologis belaka. Beberapa pemikir sempat mempermasalahkan ‘kontradiksi’ catatan Lukas untuk menunjukkan bahwa peristiwa pertobatan Paulus hanya merupakan pengalaman psikologis subyektif, bukan wahyu yang riil. Lukas memberikan tiga laporan yang berbeda mengenai peristiwa pertobatan Paulus.

Kis. 9:7. Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

Kis. 22:9. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.

Kis. 26:13-14. “ … tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.”

Di dalam Kis. 26:13 dikatakan bahwa semua orang (Paulus dan rekannya) melihat cahaya yang turun dari langit. Di dalam 9:7, dikatakan rekan-rekan Paulus mendengar suara tetapi tidak melihat siapapun, sementara dalam 22:9, dikatakan rekan-rekan Paulus memang melihat cahaya tetapi tidak mendengar suara.

Perbedaan catatan ini sebenarnya bukan merupakan kontradiksi, tetapi justru melengkapi rekonstruksi peristiwa. Kebingungan terjadi karena beberapa pemikir tersebut melupakan luasnya jangkauan semantik kata Yunani, fone. Longenecker mengingatkan bahwa fone bisa berarti bunyi dalam arti nada atau suara atau ucapan yang diartikulasikan. Satu kata untuk menyebut tiga jenis suara yang berbeda.[12] Bertolak dari penjelasan ini, laporan Lukas bisa direkonstruksi demikian: rekan-rekan Paulus memang melihat cahaya itu, tetapi tidak melihat siapapun. Mereka memang mendengar suara Tuhan tetapi hanya sekedar sebagai sebuah kebisingan, dan tidak sejelas Paulus. Hanya Paulus yang mengerti suara dari surga tersebut. Penyebabnya karena fokus utama Tuhan bukanlah rekan-rekan Paulus tetapi Paulus. Hal ini didukung oeh fakta bahwa hanya Paulus yang mengalami kebutaan setelah melihat cahaya tersebut, sementara rekan lainnya tidak.[13] Bagaimanapun, suara dan cahaya yang dialami orang-orang yang bersama Paulus menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar peristiwa psikologis atau halusinasi belaka, sebab tidak mungkin beberapa orang mengalami halusinasi yang sama dalam waktu bersamaan.

Peristiwa pewahyuan ini juga bukan peristiwa yang dipersiapkan. Peristiwa ini merupakan – meminjam bahasa teologis Wesleyanisme – sebuah ‘krisis’ dalam hidup Paulus. Tidak ada petunjuk bahwa sebelumnya Paulus merasa tidak puas dengan keyakinan Yudaismenya atau rindu mencari pengalaman yang lebih dalam dengan Allah atau sedang dipersuasi oleh sikap hidup orang-orang Kristen (khususnya Stefanus), seperti yang diusulkan oleh beberapa sarjana.[14] Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Paulus, ada sebuah penyataan yang diingat Paulus, “Sukar bagimu menendang ke galah rangsang” (Kis. 26:14).[15] Longenecker menjelaskan bahwa dalam dunia Yunani kuno, ungkapan ini merupakan ekspresi yang terkenal yang mengekspresikan perlawanan terhadap yang Ilahi (bnd. Eripides Bacchanals 794-95; Aeschylus Prometheus Bound 324-5; Agamemnon 1624; Pindar Pythia 2.94-95; Terence Phormio 1.2.27).[16] Jadi, maknanya bukan bahwa Paulus telah menolak bujukan Roh melalui pergumulan batinnya, tetapi bahwa dia seharusnya tidak menolak kehendak Allah yang dinyatakan melalui wahyu dari sorga. Rujukan Fil. 3:3-11 juga mendukung bahwa perubahan Paulus merupakan perubahan yang dramatis dan seketika dari seorang Yahudi yang militan dan penganiaya gereja menjadi seorang pengikut Yesus yang setia.

Relasi Paulus dan Yesus

Meskipun tidak pernah membanggakan kemampuan intelektualnya, namun dari tulisan-tulisan dan ajarannya, terlihat bahwa Paulus merupakan sosok yang memunyai intelektualitas mumpuni. Ia mampu menyajikan sebuah teologi yang mendalam dan tajam dalam surat-suratnya. Namun, teologi itu tentu tidak mungkin terbentuk dalam kehampaan. Paulus pasti memiliki sumber-sumber darimana ia membentuk teologinya. Carson dan Moo menyebut setidaknya ada enam sumber pengajaran Paulus: pewahyuan, tradisi Kristen awal, pengajaran Yesus, Perjanjian Lama, dunia Yunani kuno, dan, seperti yang disebutkan sebelumnya, Yudaisme.[17]

Di antara sumber-sumber ini, hal yang paling sering diperdebatkan ialah relasi antara ajaran Paulus dan ajaran Yesus. Beberapa sarjana meragukan keabsahan dan kesinambungan relasi di antara keduanya. Mereka sangsi bahwa Paulus telah menggambarkan ajaran Yesus dengan benar. Bahkan mereka menuduh Paulus telah menyimpangkan ajaran Yesus di sana-sini. Hal ini menjadi masalah sebab cukup banyak teologi Kristen yang didasarkan ajaran Paulus. Itu sebabnya mereka lantas mempertanyakan apakah kekristenan hari ini benar-benar layak disebut Kristianitas (berdasarkan pada ajaran Yesus) ataukah justru seharusnya disebut Paulinisme?

Argumen yang diajukan para sarjana tersebut bisa diringkaskan sebagai berikut:

  • Latar belakang pemikiran Paulus sebenarnya bukanlah Yudaisme tetapi pemikiran kafir.
  • Apa yang dialami Paulus di dalam perjalanannya ke Damsyik sebenarnya adalah halusinasi bukan pewahyuan. Di satu sisi, halusinasi ini menyebabkan kekacauan dalam diri Paulus, dan di sisi lain, menimbulkan obsesi yang besar pada pribadi Yesus.
  • Akan tetapi, ketertarikan Paulus hanya sebatas pada sosok Yesus bukan ajaran-Nya. Seperti yang diungkapkan Bultmann, “Jesus’ teaching is – to all intents and purposes – irrelevant for Paul.[18] Sosok Yesus memang sangat menarik bagi Paulus, tetapi tidak dengan ajaran-Nya.[19] Paulus hanya tertarik berbicara tentang Kristus bukan tentang ajaran dari Hal ini bisa dideteksi dari jarangnya Paulus mengutip ajaran atau perkataan Yesus secara langsung. Paulus mengutip ucapan atau ajaran Yesus hanya dalam beberapa kesempatan saja; tindakan yang demikian ini tentu amat janggal untuk dilakukan oleh seorang Paulus, bila ia memang seorang pengikut ajaran Yesus yang setia.
  • Sayangnya, ketika membicarakan sosok Yesus, pengaruh filosofi kafir Paulus memainkan peran utama. Akibatnya, ia menampilkan sosok Yesus, yang tadinya seorang guru Yahudi, menjadi seorang tokoh yang setengah kafir. Demikian pula ajaran Yesus, yang pada dasarnya sederhana dan ethically-oriented, diubahnya menjadi sebuah agama yang spekulatif dan mistis. Ini bisa terdeteksi dari (i) banyaknya ajaran Paulus yang tidak bisa ditemukan baik dalam ajaran Yesus maupun dalam Perjanjian Lama dan (ii) banyaknya konflik di antara ajaran Yesus dan Paulus (misalnya soal sikap terhadap Taurat).

Beberapa sarjana yang sampai pada kesimpulan yang negatif ini, di antaranya ialah Karen Armstrong,[20] Hyam Maccoby,[21] Geza Vermes,[22] Maurice Casey,[23] dan Burton Mack.[24] Dalam ranah populer, karya A.N. Wilson juga mengemukakan isu ini dalam bahasa yang lebih mudah dipahami dibanding karya-karya akademis sebelumnya.[25] Bahkan menarik dicatat, isu ini juga dimunculkan oleh pemikir non-Kristen dalam menyerang kekristenan, misalnya dalam tulisan seorang pemikir Islam, Hasbullah Bakry.[26]

Topik ini merupakan sebuah problematika yang amat siginifikan untuk dipikirkan Kaum Injili. Wenham[27] memaparkan beberapa alasan mengapa hal ini penting untuk digumuli dan dijawab:

  1. Legitimasi Paulus dan kekristenan tradisional. Seperti disebutkan sebelumnya, kekristenan saat ini berhutang besar pada interpretasi Paulus terhadap diri Yesus. Bila interpretasi Paulus terhadap Yesus merupakan penyelewengan atau pengembangan yang keliru, maka tentunya akan berdampak pada keabsahan Kekristenan tradisional saat ini.
  2. Natur iman Kristen. Iman Kristen merupakan agama yang paling unik karena klaimnya sebagai agama yang berakar pada fakta sejarah: “Christianity is not myth or philosophy or a system of ethics but a historical revelation.”[28] Sehingga, bila interpretasi Paulus atas Yesus hanyalah mitos belaka dan tidak berakar pada sejarah yang aktual, maka kekristenan tidak sehistoris yang dikira selama ini.
  3. Terang kisah Injil dan sejarah Injil. Paulus merupakan salah satu saksi utama terhadap historisitas kisah-kisah Injil. Namun, kesaksiannya dikutip baik oleh sarjana skeptis maupun sarjana konservatif untuk mendukung pandangan mereka. Karena itu, mengevaluasi bukti-bukti yang dia berikan menjadi satu hal yang niscaya dilakukan: apakah dia mendukung kaum skeptis atau kelompok konservatif.
  4. Kesatuan, keragaman, dan inpirasi Alkitab. Pandangan tradisional meyakini bahwa Kitab Suci dinafaskan oleh Allah dan tidak ada pertentangannya di dalamnya meskipun ada banyak konsep yang diusung oleh para penulisnya. Seandainya interpretasi Paulus terhadap Yesus tidak valid, maka telah terjadi pertentangan teologis di antara keduanya, dan dengan demikian klaim kesatuan dan inspirasi Alkitab pun perlu dikaji ulang.

Karena hal-hal inilah maka Kaum Injili perlu menjelaskan dengan baik relasi di antara Yesus dan Paulus.

Evaluasi

Menyikapi tuduhan ini, ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dan dikritisi. Pertama, usulan bahwa pemikiran helenis Paulus lebih jauh kental tinimbang konsep Yudaismenya tidak memiliki bukti yang cukup. Wright dengan jelas menolak usulan tidak berdasar ini[29], bahkan Ia menunjukkan bahwa Paulus merupakan seorang Yahudi yang amat ketat (bnd. Gal. 1:13-14; Fil. 3:4b-6). Ia menuliskan:

Saul’s persecution of the church, and the word ‘zeal’ with which he describes it, puts him firmly on the map of a certain type of first-century Judaism. It gives us access to quite a wide database with which to plot the sort of agendas he must have been following, agendas which make sense of his activity in persecuting the church even beyond the borders of the Holy Land itself. It reveals Saul of Tarsus not just as a Jew, but as a Pharisee; not just as a Pharisee, but as a Shammaite Pharisee; not just, perhaps, as a Shammaite Pharisee, but as one of the strictest of the strict.[30]

Paulus memang mengenal baik budaya helenistik atau budaya non-Yahudi lainnya, namun demikian, tidak ada alasan yang kuat untuk meragukan keyahudian Paulus. Dari tulisannya bisa terlihat bahwa ia akrab dengan Perjanjian Lama serta  mengenal dengan amat baik tulisan para rabi maupun tradisi Yahudi (bnd. LATAR BELAKANG PAULUS di atas). Lagipula, andaikata, ia memang lebih helenis daripada Yudais, maka akan sulit dimengerti bagaimana mungkin Imam Besar bersedia memberikan surat kuasa kepadanya untuk menangkap pengikut Jalan Tuhan? (Kis. 9:1-2).[31] Carson dan Moo menyimpulkan,

“ … Paul must have known the Greek world well, and it is to be expected that he would use the language of that world to express the significance of Christ and even borrow its concepts where they could help illuminate aspects of the gospel.  But it is unlikely that we should consider the Greek world a source for Paul’s teaching in the strict sense. It sometimes provided the clothing, but rarely, if ever, the body of teaching that was clothed. Particularly unlikely is the hypothesis that Paul borrowed from the mystery religions. The parallels are simply not very close, and every one of the alleged cases of borrowing can be explained more satisfactorily in other terms.”[32]

Kedua, tuduhan bahwa peristiwa menuju Damsyik merupakan halusinasi juga nampaknya sulit untuk dipercaya. Sebab bila peristiwa tersebut merupakan halusinansi belaka, mengapa orang-orang yang bersama Paulus juga bisa mendengar suara Tuhan? (Kis. 9:7; 22:9; 26:13). Bagaimana mungkin beberapa orang bisa mengalami halusinasi yang sama dalam waktu bersamaan? Lebih lagi, bahasa yang digunakan Paulus dalam mendeskripsikan perjumpaan Yesus dengan Paulus amat jelas menunjukkan aktualitas peristiwa ini. Wright menambahkan,

Borrowing Luke’s language, Paul saw the risen Jesus even after the ascension. The language he uses is not the language of mystical vision, of spiritual or religious experiences without any definite object referent. Paul did not think he went on seeing Jesus in this way in his subsequent continuing Christian experience, though he remained intensely conscious of his presence, love and sustaining power. He uses the language of actual seeing.[33]

Ketiga, mengenai jarangnya Paulus mengutip Yesus secara langsung, Wenham[34] beragumen bahwa ada banyak kemungkinan yang masuk akal mengapa Paulus jarang merujuk hidup dan perkataan Yesus, di antaranya praduga bahwa penerima suratnya sudah familiar dengan Injil Yesus, tujuan klarifikasi dari suratnya, dan konteks baru yang Paulus usung. Meski demikian, Paulus tetap mendasarkan klaim otoritasnya atas ucapan dan ajaran Yesus. DeSilva memberi beberapa contoh, misalnya pengajaran Yesus tentang perceraian (Mat. 19:6, 9; Mrk. 10:9-12) menjadi landasan bagi nasihat Paulus dalam 1Kor. 7:11. Deklarasi Paulus bahwa tidak ada sesuatu yang najis pada dirinya sendiri (Rm. 14:14) didasarkan pada ajaran Yesus dalam Mrk. 7:14-23 . Dan kesimpulan Paulus bahwa “segala sesuatu adalah suci” (Rm. 14:20)  sejalan dengan catatan Markus bahwa Tuhan menyatakan semua makanan halal (Mrk. 7:19).[35]

Keempat, penelitian yang bermutu terhadap ajaran Yesus dan teologi Paulus justru menunjukkan adanya keterkaitan erat di antara keduanya. Karya masif Wenham menunjukkan dengan baik bahwa teologi Paulus berakar kuat dalam ajaran Yesus. Wenham membahas beberapa topik penting, di antaranya tentang kerajaan Allah menurut Yesus dan Paulus (bab 2), pemahaman Yesus tentang diri-Nya dan pemahaman Paulus tentang Yesus (bab 3 dan 8), penyaliban (bab 4), komunitas Kristen (bab 5), hidup dalam kasih (bab 6) dan kedatangan Yesus (bab 7). Wenham mulai dengan membandingkan pandangan kedua tokoh ini dan lantas menghubungkannya. Hasilnya, ia menemukan ada kaitan yang kuat di antara keduanya.[36]

Misalnya ajaran tentang salib dan keberdosaan manusia. Paulus mengungkapkan hal ini salah satunya dalam Roma 3:21-26. Di ayat 23, ia menyimpulkan bahwa semua manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dalam keadaan yang fatal ini, Paulus menjelaskan bahwa salib adalah satu-satunya jalan keluar. Kematian Yesus, baginya, merupakan korban yang menggantikan banyak orang! Hal ini sejalan dengan bagaimana Yesus melihat pelayanan-Nya, yakni sebagai perwujudan kasih Ilahi bagi orang berdosa: Dia adalah tabib bagi mereka yang sakit secara literal, spiritual dan sosial. Di sini, Paulus mengartikulasikan ide tentang kematian Yesus sebagai sebuah aksi Ilahi yang muncul secara implisit dalam beberapa bagian Injil, misalnya dalam perjamuan terakhir, ketika Ia mengatakan bahwa anggur dan roti melambangkan tubuh dan darahnya yang diserahkan “bagi kamu” dan “bagi banyak orang” (Mat. 26:28; Mrk. 14:24; Luk. 22:19-20), atau dalam catatan Lukas tentang doa Yesus di kayu salib (Luk. 23:34, 43). Beberapa contoh lain lagi, misalnya:

  • Eskatologi Paulus dalam 1 Tesalonika 4 dan 5 serta 2 Tesalonika 2 dalam taraf tertentu bergantung pada kotbah Tuhan Yesus tentang akhir zaman di bukit Zaitun (Olivet Discourse; Mrk. 13 dan paralelnya).[37]
  • Cara Tuhan Yesus menyebut Allah sebagai “Abba! Bapa” (Mrk. 14:36), dinyatakan Paulus, juga akan menjadi cara orang-orang percaya, yang telah diadopsi oleh Roh, untuk menyebut Allah (Rm. 8:15; Gal. 4:6).
  • Seperti yang ditunjukkan Thompson, beragam pengajaran etis yang diungkapkan Paulus dalam Roma 12-15 ternyata memiliki kesamaan dengan kotbah Yesus di bukit.[38]

Contoh-contoh ini hanyalah sekelumit bukti dari puluhan bukti lain yang jelas menunjukkan bahwa dalam membangun teologinya, Paulus amat bergantung pada ajaran Yesus.

Kelima, hal yang dilupakan oleh para sarjana tersebut ialah teologi gereja yang sudah terbentuk dan kontrol dari para rasul. Penting diingat bahwa paska-pertobatannya, Paulus masuk ke dalam sebuah komunitas yang sudah lebih dahulu terbentuk dan memiliki konsep teologi. Ide tentang Yesus sebagai Mesias, doktrin tentang Allah dan sebagainya, sudah ada sebelum Paulus bertobat dan terhisab dalam komunitas Kristen. Sehingga tentu saja mustahil bagi Paulus untuk bisa mengubah doktrin-doktin asali ini sesuka hatinya. Sebagai petobat (atau rasul) baru dia tidak mungkin memiliki pengaruh seluas para murid yang lain.

Andaikata pun ia memiliki pengaruh yang luas, hal yang tidak boleh dilupakan ialah kontrol para rasul lainnya. Seandainya Paulus memang merencanakan untuk mengubah ajaran Yesus menjadi ajaran yang sama sekali berbeda, maka kontrol dari para murid lainnya tidak akan memungkinkan ajaran Paulus berkembang dengan luas. Pada masa itu, seandainya muncul sebuah ajaran yang sesat atau tidak sesuai dengan ajaran ortodoks, maka para rasul akan mengeluarkan sebuah surat atau tulisan yang membantah ajaran tersebut. Kenyataannya, bila memang Paulus menyimpangkan ajaran Yesus, tidak ada tulisan dari rasul lain yang membantah surat-suratnya.[39] Bahkan Petrus, seorang rasul yang amat disegani pada masa gereja awal, justru memepertegas otoritas surat Paulus (2Pet. 4:15-16). Ketiadaan bantahan ini menunjukkan bahwa pada dasarnya apa yang diajarkan Paulus dalam surat-suratnya senada dengan apa yang diyakini para rasul lainnya. Paulus ialah pengikut setia dari Yesus, bukan pendiri Kekristenan sebab bentuk kekristenan sendiri sudah ada sebelum Paulus bertobat.

Terakhir, penting dicatat, mengatakan bahwa Paulus merupakan pengikut setia Yesus tidak berarti bahwa Paulus tidak memiliki titik perbedaan atau pengembangan terhadap ajaran Yesus. Para sarjana mengakui bahwa dalam beberapa hal Paulus memang mengembangkan ajaran Yesus. Barclay[40] memberi contoh, misalnya soal momen Jumat Agung, Paskah, dan misi kepada orang non-Yahudi, merupakan bentuk pengembangan Paulus terhadap ajaran Yesus. Situasi dan konteks sosial yang berbeda di antara keduanya tidak memungkinkan bagi Paulus untuk hanya sekedar mengulang kotbah-kotbah Yesus. DeSilva[41] juga menulis hal yang senada, “Paul could not simply repeat the teaching of Jesus; he also had to “actualize” the achievement of Jesus in his death and resurrection.” Meskipun perbedaan ini penting, tetapi perbedaan-perbedaan ini tidak menunjukkan kontradiksi secara fundamental; beberapa ajaran Paulus yang dianggap tidak bisa dibuktikan bergantung pada ajaran Yesus, sebenarnya juga tidak bisa dibuktikan bertentangan dengan ajaran-Nya.

Catatan AKhir

[1] Michael Bird,”Introduction,” in Four Views on the Apostle Paul (Counterpoints: Bible and Theology; ed. Michael F. Bird Grand Rapids: Zondervan, 2012), 9.

[2] Beberapa sarjana menganggap bahwa Paulus hanya menulis sekitar 7-8 surat saja, yakni Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, dan Filemon. Sedangkan surat-surat lainnya merupakan surat deutero-paulinis (ditulis oleh murid Paulus atau seseorang yang mengenal pemikiran Paulus dengan baik; misalnya 2 Tesalonika) dan/atau pseudonimus (misalnya surat Efesus). Bermacam alasan diajukan untuk menolak kepengarangan Paulus atas surat-surat tersebut, salah satunya soal perbedaan kosakata, gaya bahasa dan masalah historis-kronologis. Namun, banyak sarjana Injili (e.g.Guthrie, Carson, deSilva) telah menunjukkan bahwa kepengarangan Paulus atas surat-surat tersebut tetap lebih tepat untuk dipertahankan. Sehingga, pandangan tradisional yang mengaitkan Paulus dengan tiga belas surat Perjanjian Baru tetap dipertahankan di sini.

[3] William Barclay, Duta bagi Kristus (Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 89-90.

[4] Sayang sekali kita tidak mengetahui nama lengkap Paulus. Sebagai warga negara Roma, Paulus pasti memiliki nama lengkap yang setidaknya terdiri dari tiga nama [praenomen (nama awal), nomen (nama keluarga), dan cognomen (nama panggilan)], termasuk nama pemimpin Romawi yang menganugerahi keluarganya kewarganegaraan Romawi. Kita hanya mengetahui cognomen, Paulus. Di dalam tulisannya, dia tidak pernah menggunakan nama lengkapnya, ini mengindikasikan bahwa, baginya, status sipilnya tidak penting bagi panggilan dan fungsinya dalam gereja awal. Meski demikian nama ini nampak berguna bagi relasi Paulus dengan kalangan atas dan juga membantunya mengatasi beberapa konflik dalam perjalanan misinya. Lihat Klaus Haacker, The Theology of Paul’s Letter to the Romans (Cambridge: CUP, 2003), 3; bnd. D.A. Carson and Douglas J. Moo, An Introruction to the New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 2005), 355.

[5] Haacker, The Theology of Paul, 3.

[6] Kesaksian Paulus dalam Kis. 22:3 sempat menimbulkan sedikit perdebatan mengenai tempat ia dibesarkan: apakah “kota ini” merujuk pada Tarsus dalam klausa sebelumnya atau pada Yerusalem tempat ia sedang berbicara? Pembacaan konteks secara alami nampaknya lebih mendukung pada Yerusalem seebagai kota yang dimaksud Paulus. Lagipula, sebagaimana yang diungkapkan Haacker, “If Paul had been brought up in Tarsus and significantly shaped by this cultural background, he could hardly have called himsef ‘a Hebrew of Hebrew” in Phil. 3:5” (Haacker,The Theology of Paul, 4; bnd. 2Kor. 11:22; Kis. 6:1 soal kontras Yunani dan Ibrani).

[7] Istilah paideuo dalam Kis. 22:3 secara umum berarti (i) pendidikan dalam keluarga, (ii) pendidikan dalam sekolah atau konteks seperti sekolah, dan tidak harus selalu berarti pendidikan (teologis) formal atau teknis.

[8] Menurut beberapa sumber rabinik, Gamaliel I, guru dari Paulus merupakan seorang farisi dari mazhab Hilel. Mazhab ini terkenal dengan sikapnya yang lebih liberal tinimbang mazhab Shammai. Sikap ini bisa dilihat dalam tindakan Gamaliel yang lebih lunak terhadap pengikut gereja awal (Kis. 5:34-39). Sehingga, sikap Paulus yang begitu semangat menyiksa gerakan Kristen awal menunjukkan bahwa dalam hal ini ia berbeda dengan gurunya. Itu pula sebabnya beberapa sarjana menduga bahwa mazhab Paulus secara umum ialah Shammai. Bnd. N.T. Wright, What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Grand Rapids: Eerdmans, 1997), 29ff.

Walau demikian, pengaruh Hilelisme tetap terlihat dalam diri Paulus. Sikap Paulus paska pertobatan yang mengonsentrasikan kegiatan misinya pada bangsa-bangsa non-Yahudi, sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran Hilel. Tidak seperti kaum Shammai yang mengesklusi orang non-Yahudi dalam rencana Allah, mazhab Hilel percaya bahwa orang non-Yahudi pun memiliki tempat dalam rencana Allah. Ini membuat penganut mazhab ini lebih terbuka terhadap “kaum yang berbeda.”

[9] Haacker (The Theology of Paul, 4) mengingatkan, “So let us forget about the ‘rabbi’ or ‘extremely learned man’ (‘vir doctissimus,’ as Jerome called Paul in his letter No. 120.II).

[10] Sejarah Perjanjian Lama ini juga memberi pencerahan dalam memahami pemberontakan Makabe (yang menolak helenisasi agama yang berlangsung saat itu) maupun beberapa pemberontakan Yahudi pada masa Yesus dan Paulus hidup. Memandang gerakan-gerakan tersebut hanya sebagai upaya independensi-nasionalistik akan menghilangkan dimensi yang penting dari gerakan-gerakan tersebut.

[11] Carson and Moo, An Introduction to the NT, 357.

[12] Richard N. Longenecker, Acts (EBC 9; ed. Frank E. Gaebelein; Grand Rapids: Zondervan, 1991),370)

[13] Bnd. I Howard Marshall Acts (TNTC; Surabaya: Momentum, 2007), 170, 355; Simon J. Kistemaker, Acts (NTC; Grand Rapids: Baker, 1990), 336, 785-6.

[14] Mis. Barclay, Duta bagi Kristus, 58-60; Marshall, Acts, 395.

[15] Beberapa naskah Western (E dan bermacam versi Latin, Siria dan Georgia) melakukan harmonistic corruption dengan menambahkan ungkapan ini dalam Kis. 9:4 dan 22:7. Akan tetapi, naskah-naskah terbaik tidak memiliki ungkapan ini di Kis. 9:4 dan 22:7, meskipun melalui Erasmus frase ini kemudian dimasukkan dalam Textus Receptus.

[16] Longenecker, Acts, 552-3.

[17] Carson and Moo, An Introduction to the NT, 370-5.

[18] Rudolph Bultmann, The Significance of the Historical Jesus for the Theology of Paul,” Faith and Understanding: Collected Essays (London: SCM, 1969), 223.

[19] Hal senada juga bisa ditemukan dalam karya-karya yang disebutkan sebelumnya, seperti yang diungkapkan deSilva, “such books are merely extreme (and rather sensatioanlistic) manisfestation of the often-made observation that, on the one hand, Pauls doesn’t seem to be as concerned with the teaching of Jesus as we would expect, and that, on other hand, Paul seems to be far more concerned with the person of Jesus, and with the meaning of His death and resurrection, than Jesus ever was.” Lihat David A. deSilva, An Introduction to the New Testament: Contexts, Methods and Ministry Formation (Nottingham/Downers Grove: Apollos/IVP, 2004). 484.

[20] The First Christian: Saint Paul’s Impact on Christianity (London: Pan, 1983).

[21] The Mythmaker: Paul and the Invention of Christianity (London: Weidenfeld and Nicholson, 1986)

[22] Jesus and the World of Judaism (London: SCM, 1983). Di halaman 56-57, Vermes menulis, “little by little, the Christ of Pauline theology and his Gentile chuch took over from the holy man of Galilee.”; sementara dalam karyanya yang lain, ia bertanya, “Is it an exaggeration to suggest that ocean separate Paul’s Christian Gospel from the religion of Jesus the Jew?,” lihat Religion of Jesus (London: SCM, 1993), 212.

[23] From Jewish Prophet to Gentile God (Cambridge: Clarke, 1991).

[24] The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins (New York/Shaftesbury: HarperCollins/Element, 1993).

[25] Paul: The Mind of Apostle (New York: Norton, 1997).

[26] Hasbullah Bakry, Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW dalam Bible (Jakarta:Mutiara Sumber Widya, 2004), 92-114.

[27]David Wenham, Paul: Follower of Jesus or Founder of Christianity (Grand Rapids: Eerdmans, 1995), 8-13.

[28] Ibid, 10.

[29] Wright, What St. Paul, 25-35; Bnd. Barclay, Duta bagi Kristus, 8-17.

[30] Wright, What St. Paul, 26.

[31] Bnd. W.R. Stegner, “Paul the Jew,” Dictionary of Paul and His Letters (ed. Gerald F. Hawthorne, Ralph P. Martin, and Daniel G. Reid; Downers Grove: IVP, 1993), 503-511.

[32] Carson and Moo, An Introduction to the NT, 374.

[33] Wright, What St. Paul, 35-6; Bnd. Wenham, Did St. Paul Get Jesus Right? (Oxford: Lion, 2010), 33-4

[34] Wenham, Paul, 402-8.

[35]deSilva, An Introduction to the NT, 484.

[36] Lihat juga deSilva, An Introduction to the NT, 484-5; J.M.G. Barclay, “Jesus and Paul,” Dictionary of Paul and His Letters, 498-502, dan juga tulisan singkat Richard Deem, “Did Paul Invent Christianity? Is the Founder of the Christian Religion Paul of Tarsus or Jesus of Nazareth?,”di sini

[36] David Wenham, The Rediscovery od Jesus’s Eschatological Discourse (Gospel Perspective; Shefield: JSOT, 1984), 4:372-3.

[38] Michael Thompson, Clothed with Christ: The Example and Teaching of Jesus in Romans 12.1-15.13 (JSNT Supp; Sheffield: Sheffield Academic, 1991).

[39] Tuduhan tentang pertentangan antara Yakobus dan Paulus akan dibahas kemudian (kalau sempat hehehe).

[40] Barclay Duta bagi Kristus, 502; Bnd. Wenham, Paul, 378-80)

[41] deSilva, An Introduction to the NT, 485; bnd. Wright, What St. Paul, 181.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s