Pencarian Kebenaran I: Apakah Allah/Tuhan itu Ada?

Artikel ini saya tulis berdasarkan beberapa artikel di blog saya yang dahulu (yang sudah punah) dengan sedikit tambahan-tambahan di sana-sini. Artikel-artikel saya yang terdahulu kebanyakan saya tulis dalam Bahasa Inggris, tetapi saya rindu orang-orang awam di Indonesia dapat membaca artikel ini dan mengetahui kebenaran yang saya claim sehingga mereka pun bisa mengakui hal yang sama. Ini alasan mengapa saya menulis artikel ini dalam Bahasa Indonesia. Saya berencana menulis artikel ini sebagai pembuka satu seri tulisan tentang “Pencarian Kebenaran”, dimana saya akan memaparkan secara singkat alasan-alasan mengapa saya percaya hal yang saya percayai. Di artikel yang pertama ini saya akan menjelaskan alasan mengapa saya percaya bahwa Allah/Tuhan itu ada. Karena natur pembahasan ini menuntut saya untuk tidak memasuki area ‘Kekristenan’, saya hanya akan memberikan alasan-alasan yang mendukung Teisme (lawan dari Ateisme), baru setelah ini di artikel-artikel berikutnya saya akan memaparkan sedikit tentang Kekristenan (Yesus, Alkitab, dsb.).

Sebelum saya memasuki pembahasan, saya merasa pembaca perlu mengetahui beberapa hal:

1. Karena tujuan artikel ini hanya untuk mendukung Teisme, sangatlah normal jika di akhir artikel pembaca berpikir, “Ini bukan berarti Tuhannya orang Kristen yang paling benar, bisa saja Islam, Hindu, Mitologi Yunani, atau bahkan Deisme yang benar.”

2. Saya mengharapkan pembaca datang ke artikel ini bukan dengan asumsi bahwa science adalah lawan dari Teisme. Bukan. Saya merasa science berpotensi menjelaskan banyak hal tentang Teisme, tetapi perlu diketahui bahwa science dihipotesiskan dan dilaksanakan oleh manusia yang terbatas, yang cenderung melakukan kesalahan sewaktu-waktu, dan yang sampai sekarang masih berkembang dengan temuan-temuan baru yang membuktikan bahwa science tidak memiliki semua jawaban yang ada.

3. Saya merasa Teisme tidak perlu berargumen untuk mendiskredit Ateisme. Justru sebaliknya, saya merasa Ateisme yang perlu berargumen untuk mendiskredit Teisme. Teisme hanya perlu berargumen bahwa keberadaan Tuhan adalah penjelasan terbaik untuk dunia, sedangkan Ateisme perlu berargumen bahwa Teisme salah (keberadaan Tuhan bukanlah penjelasan terbaik) dan bahwa Ateisme sudah mecari di seluruh alam semesta dan menemukan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Yuk, mari kita bersama-sama memasuki penjelasan singkat mengapa Allah/Tuhan itu ada.

1. Asal Mula Dunia

Argumen yang paling sering digunakan oleh Ateisme adalah: dunia ini tercipta dengan sendirinya dan keberadaan Allah tidak diperlukan. Saya hampir tertawa setiap kali mendengar argumen ini. Argumen ini sekali lagi mengaku bahwa Ateisme memiliki jawaban tentang asal-usul alam semesta dari pencarian science. Loh, bukankah Teisme juga mengaku memiliki jawaban yang sama? Teisme mengaku memiliki informasi yang diberikan oleh sang Pencipta itu sendiri, sedangkan Ateisme mengaku terbangun di tempat yang dia sendiri tidak tau lalu mencari dan akhirnya menemukan bahwa tempat itu muncul dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Mari kita pikirkan yang mana yang lebih masuk akal; orang A membawa lukisan lalu dia bilang, “Lukisan ini dibuat oleh Picasso. Saya tidak melihat dia melukis, tetapi saya tau karena Picasso sendiri yang bilang ke saya.”, sedangkan orang B membawa lukisan yang sama persis lalu dia bilang, “Lukisan ini muncul dengan sendirinya di kamar saya. Saya tidak melihat munculnya kapan dan bagaimana, tetapi saya menyelidiki jadi saya tau.” Saya berharap pembaca tau siapa orang A dan siapa orang B.

Keberadaan dunia ini hanya bisa dijelaskan jika Pencipta itu ada. Argumen yang biasa digunakan adalah seperti ini:

1. Semua yang ada pasti memiliki penyebab.

2. Dunia ini ada.

3. Maka dunia ini memiliki penyebab.

Ateisme sering berargumen bahwa “penyebab” ini tidak harus merupakan Allah. Science telah membuktikan bahwa penyebab asal mula dunia adalah Big Bang. Disini perlu dijelaskan bahwa teori Big Bang disebut sebuah ‘teori’ karena teori ini belum bisa dibuktikan. Akan tetapi kita juga perlu mengetahui bahwa sebagian besar orang-orang di dalam science sekarang mengakui bahwa Big Bang adalah penjelasan terbaik untuk asal mula alam semesta, jadi saya akan berargumen dengan asumsi bahwa Big Bang itu benar. Pertama, meskipun Big Bang itu benar, banyak ahli-ahli Alkitab yang tidak melihat masalah dengan itu. Penciptaan di kitab Kejadian tidak harus berkontradiksi dengan Big Bang. Teori-teori yang tercakup di dalam paham Old Earth Creationism (paham bahwa bumi berumur jutaan tahun) semuanya sejalan dengan Big Bang (dan bahkan dengan teori Evolusi). Teori yang sekarang sedang trend adalah teori John Walton, seorang ahli Perjanjian Lama di Wheaton College, yang mengatakan bahwa penciptaan di Kejadian 1 adalah penciptaan fungsi dan bukan penciptaan materi. Karena kita tidak mengetahui apa yang terjadi saat penciptaan materi, maka Big Bang tidak perlu mengkontradiksi apapun. Saya disini tidak mendukung apapun dari beberapa teori di atas, tetapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa Teisme tidak harus kontradiksi dengan Big Bang.

Kedua, meskipun Big Bang itu benar, teori ini justru memberikan pertanyaan yang baru, yaitu; apa (atau siapa) yang menyebabkan Big Bang. Kemungkinan bahwa Allah lah yang menciptakan dunia (melalui Big Bang atau bukan) masih belum terhilangkan. Hal ini justru membuktikan bahwa science tidak memiliki semua jawaban, dan bahwa asal mula alam semesta belum terjawab melalui teori Big Bang. Jadi, keberadaan Allah masih menjadi penjelasan terbaik untuk keberadaan alam semesta.

Sidenote: teori evolusi pun memiliki lubang yang bernama Cambrian Explosion yang Charles Darwin sendiri akui bisa menjadi argument untuk melawan teori evolusi.

2. Keteraturan di Dunia

Saat kita melihat dunia, kita melihat keteraturan. Kita melihat tubuh kita yang di desain dengan teraturnya sehingga bisa berfungsi khusus untuk yang kita perlukan. Kita melihat tumbuh-tumbuhan yang menghirup karbondioksida dan mengeluarkan oksigen saat manusia menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Kita melihat bumi yang berada di jarak yang tepat dari matahari (yang ilmuwan percaya jika bumi berada sedikit saja lebih dekat ke matahari kita akan mati kepanasan, dan jika sedikit saja lebih jauh kita akan mati kedinginan) untuk kita tinggali. Saat kita melihat ini semua, konklusi natural yang akan kita tarik adalah bahwa ada pihak yang mengatur semua ini. Science pun membuktikan bahwa di dunia ini ada 15 konstan (konstan gravitasi, konstan nuklir, dsb.) yang semuanya memiliki nilai tepat (exact values). Jika ada satu konstan saja yang berganti nilai sebanyak 1 bagian dari 1 juta (0,000001) – atau di beberapa kasus bahkan 1 bagian dari 1 juta juta (0,000000000001) – alam semesta tidak akan terjadi, galaksi, bintang, planet, dan manusia tidak akan ada.

Tentu saja, ada beberapa penjelasan lain untuk keteraturan ini, seperti misalnya teori tentang multiverse (bahwa ada banyak alam semesta yang muncul, dan ada atau tidaknya alam semesta itu hanyalah tergantung kebetulan – kita ada karena kebetulan alam semesta kita berhasil muncul), tetapi saya merasa adanya Pengatur (Allah) adalah penjelasan terbaik untuk keteraturan yang kita lihat. Saya merasa kemungkinan dengan angka seperti di atas itu terlalu tidak mungkin untuk menjadi kebetulan. William L. Craig, seorang apologist Kristen, bahkan berkata, “Hal ini seperti jika Anda berdiri di depan 100 orang penembak yang terlatih yang diberi perintah untuk membunuh Anda. Saat Anda mendengar perintah ‘Siap! Tembak!’ dan Anda mendengar  banyak suara tembakan, tetapi setelah selesai Anda sadar bahwa Anda belum mati. Apakah Anda akan berpikir bahwa setiap orang dari mereka meleset ataukah Anda berpikir bahwa mereka memang sengaja tidak membunuh Anda?”

3. Moralitas Manusia

Salah satu argumen lain yang Ateisme sering gunakan adalah: Jika Allah itu ada, mengapa banyak sekali kejahatan? Saya merasa argumen ini justru berpotensi menyerang Ateisme sendiri. Pertama, adanya kejahatan tidak pernah menjadi kontradiksi keberadaan Allah. Berbagai agama di dunia ini menyembah dewa-dewa yang memang menyebabkan kejahatan. Saya setuju bahwa tuhan yang seperti ini tidak patut dipuja, tetapi saya hanya menunjukkan bahwa keberadaan kejahatan tidak harus secara logis mengimplikasikan ketidak beradaan Allah.

Kedua, jika Allah tidak ada, bagaimana mungkin kita tau apa yang jahat dan apa yang baik? Jika kita muncul secara kebetulan tanpa tujuan, mengapa kita harus tau yang baik? Dari mana kita tau itu? Pengetahuan kita tentang yang baik dan jahat ada karena ada standard kebaikan yang sempurna dan absolut, yang adalah Allah sendiri. Kita hanya bisa tau kebaikan jika ada yang menanamkan pengetahuan itu di dalam diri kita.

Beberapa ilmuwan berargumen bahwa moralitas adalah suatu produk evolusi, sama seperti Teisme adalah produk evolusi. Manusia secara tidak sadar menciptakan konsep tentang kebaikan untuk bertahan hidup, sama seperti konsep penyembahan suatu tuhan diciptakan secara tidak sadar juga untuk bertahan hidup. Sekali lagi saya merasa konsep ini berpotensi untuk menyerang Ateisme sendiri. Ateisme berargumen seperti itu dengan dasar Ateisme dan science (khususnya teori evolusi). Jika kita tidak bisa mempercayai Teisme karena Teisme adalah produk evolusi yang tidak memiliki kebenaran, maka mengapa kita harus mempercayai Ateisme dan science? Bukankah Ateisme dan science bisa juga adalah produk evolusi yang tidak memiliki kebenaran? Lagi-lagi saya merasa bahwa keberadaan Allah adalah penjelasan terbaik untuk keberadaan moralitas di dalam manusia.

Penutup

Ada banyak lagi argumen-argumen yang dijadikan dasar untuk percaya bahwa Allah itu ada. Saya tidak dapat menjelaskan semuanya (jika pembaca tertarik , bisa membaca buku-buku di references di bawah). Saya merasa tidak ada argumen apapun yang bisa 100% meyakinkan semua orang untuk percaya bahwa Allah itu ada, tetapi saya tetap yakin bahwa keberadaan Allah adalah penjelasan yang terbaik untuk dunia ini. Jangan sampai setelah berpikir pun, kita memasuki konklusi bahwa, “Saya merasa penjelasan tentang keberadaan Allah masuk akal, tetapi saya hanya tidak mau percaya kepada Allah.” atau, “Saya tidak percaya kepada Allah karena saya malas memikirkan tentang itu.” Saya hanya ingin mendorong pembaca untuk memikirkan, jika Anda mengakhiri hidup Anda hari ini, lalu ternyata menemukan bahwa Allah itu ada, apa yang Anda lakukan?

References:

Collins, Robin, ‘A Scientific Argument for the Existence of God’, pages 47-75 in Reason for the Hope Within, Ed. Michael J. Murray, Grand Rapids: W. B Eerdmans, 1999.

Craig, William L., Reasonable Faith, 3rd. Ed., Wheaton: Crossway, 2008.

Davis, William C., ‘Theistic Arguments’, pages 20-46 in Reason for the Hope Within, Ed.  Michael J. Murray, Grand Rapids: W. B Eerdmans, 1999.

Keller, Timothy, The Reason for God, London: Hodder, 2008.

McGrath, Alister E., Mere Apologetics: How to Help Seekers & Skeptics Find Faith, Grand Rapids: Baker Books, 2012.

Swinburne, Richard, The Existence of God, 2nd Ed., Oxford: Clarendon Press, 2004.

Advertisements

5 thoughts on “Pencarian Kebenaran I: Apakah Allah/Tuhan itu Ada?

  1. dunia ini tak berawal dan takberakhir dunia ini memang sudah ada sejak dulu, pikir dgn panjang pikir dgn baik, para ahli tak menemukan adanya kebenaran tuhan.

    Like

    1. LG,

      “Para ahli tak menemukan adanya kebenaran tuhan”. Para ahli yang mana dulu? Ada banyak asosiasi-asosiasi para ahli sains Kristen di seluruh dunia. Sepanjang sejarah pun, banyak orang-orang yang kita ketahui sebagai ahli sains dan mereka merupakan orang-orang beragama. Contoh: Galileo Galilei, Francis Bacon, Blaise Pascal, dll. Bahkan, orang-orang seperti Charles Darwin dan Albert Einsten pun tidak menentang adanya Tuhan, meskipun mereka bukan Kristen. Charles Darwin berkata bahwa dunia yang indah ini tidak mungkin merupakan suatu kebetulan yang dipaksakan. Albert Einstein juga berkata bahwa terdapat suatu misteri di balik keberadaan dunia ini.

      “Dunia ini tak berawal dan tak berakhir, dunia ini memang sudah ada sejak dulu”. Tolong saya diberitahu, ahli yang mana yang berkata seperti ini? Kebanyak ahli sains percaya akan teori Big Bang, yang merupakan AWAL dari alam semesta. Jika dunia ini tak berawal dan tak berakhir, mengapa kita melihat bahwa keadaan alam semesta kita makin memburuk? Para ahli pun berkata bahwa matahari makin menua dan akan mati.

      Like

  2. para ahli lebih bisa di perjaya, agama ada pada zaman dulu, dari mana mereka tau terbentuknya dunia ini karan bumi terlebih dahulu ada sebelum manusia, dan zaman dinosaurus ada sebelum zaman manusia, tapi ini bertentangan dgn agama yang mana setelah bumi terbentuk tidak ada hewan purba tapi adam dan hawa.

    Like

    1. LG,

      Saya sudah berkata di artikel di atas, bahwa banyak ahli-ahli Kristen yang juga percaya bahwa dinosaurus ada sebelum manusia, dan manusia bukanlah yang pertama yang diciptakan. Yang Anda sebut sebagai “agama” merupakan sebuah karikatur dari apa yang sebenarnya dipercaya oleh orang-orang beragama. Banyak orang-orang Kristen yang melihat bahwa perkataan para ahli sains tidak bertentangan dengan agama.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s