Happy Birthday Indonesiaku!!

Dalam perjalanan pulang dari gereja kemarin sore, kami bertemu dengan dua orang ibu-ibu lansia di bus yang kami tumpangi. Dari logatnya terlihat jelas bahwa mereka merupakan penduduk asli Singapura. Mereka duduk tepat di depan kami, berhadap-hadapan dengan kami. Awalnya, kedua ibu tersebut senyum-senyum melihat tingkah Calvin yang tengah asyik bernyanyi. Mereka lantas memuji keramahan yang ditunjukkan Calvin kepada orang baru.

Pembicaraan kami berkembang ketika salah seorang ibu merasa bahwa logat Calvin mirip sekali dengan logat penduduk lokal (tidak tahu apakah ini berkat atau bukan hehehe). Beliau lantas bertanya apakah kami penduduk asli Singapura juga. Kami menjawab bahwa kami berasal dari Indonesia. Si Ibu bertanya lagi apakah saya orang Chinese. Sambil mengiyakan, saya kemudian menjelaskan panjang lebar marga saya, sejarah singkat perubahan marga keluarga saya dan beberapa hal lain. Mengetahui bahwa saya seorang Chinese, nampaknya membuat si ibu bersemangat. Entah kenapa?

Beliau lantas menyarankan supaya kami mencoba bekerja di Singapura supaya bisa memperoleh permanent resident atau, bahkan, menjadi warga negara setempat. Berulang kali beliau menyarankan hal tersebut kepada kami, bahkan beliau memberi beberapa tips kepada kami. Tapi, bagian yang paling saya suka sih sebenarnya ketika beliau memuji bahwa Calvin ganteng, just like his dad hehehe …

**********

Ketika tiba di apartment, saya tiba-tiba tertarik merenungkan apa itu arti Nasionalisme bagi saya. Saya menggambarkannya seperti cinta kepada pasangan kita. Pasangan kita mungkin bukan orang yang paling tampan atau cantik di dunia (kecuali kita mau terus nggombal sih hehehe); mereka bukan orang yang paling baik; mereka juga bukan orang yang paling kaya; mereka bahkan ada dengan segala kekurangan mereka … tapi, somehow, kita merasa pasangan kita adalah orang yang paling tepat yang Tuhan berikan buat kita.

Sama dengan itu, bagi saya, jujur saja, Indonesia bukanlah negara yang paling baik. Semenjak saya tinggal di Singapura, saya makin menyadari betapa jauh tertinggalnya Indonesia.

Di Singapura tidak ada jalanan bergelombang atau berlubang seperti halnya di Indonesia …

Di Singapura transportasi publik benar-benar nyaman, sementara di Indonesia cenderung menakutkan (banyak copet dan jambret di bus atau pemerkosaan di mikrolet) …

Di Singapura (sampai dengan saat ini) tidak ada kemacetan, sementara di Indonesia nampaknya itu sudah menjadi makanan wajib (khususnya di Surabaya) …

Di Singapura lalu lintas cenderung tertib dan teratur, sementara di Indonesia mobil pun berani melawan arah hehehe …

Di Singapura benar-benar aman. Angka kejahatan bisa dibilang minim kalau tidak mau dibilang nol (kata pemudi saya dua atau tiga tahun lalu terjadi penjambretan perdana di sini dan pelakunya orang Indonesia!). Sementara di Indonesia, rasanya berita kriminal sudah menjadi makanan harian …

Di Singapura kesehatan dan higienitas makanan benar-benar diperhatikan pemerintah, sementara di Indonesia beras pun diplastikin hehehe (ambigu ya hehehe) …

Di Singapura jaminan hidup hari tua benar-benar diperhatikan, sementara di Indonesia masih perlu ditingkatkan …

Di Singapura jaminan dan penanganan kesehatan benar-benar bagus, sementara di Indonesia dokter malpraktik pun bisa lepas dari tuntutan hukum …

Di Singapura korupsi benar-benar minim (kalau ada pun mungkin di bawah meja), tapi di Indonesia (kata dosen saya) bahkan mejanya pun dikorupsi hehehe …

Dalam bidang saya misalnya, tunjangan untuk dosen teologi atau hamba Tuhan di Singapura mungkin berkisar lima hingga sepuluh kali lipat dari tunjangan hamba Tuhan di Indonesia …

Daftar ini pasti bisa bertambah panjang …

Tapi …

Entah mengapa ajakan menjadi warga negara Singapura nampak tidak menarik buat saya. Saya tetap ingin kembali dan mewarnai Indonesia. Ya, negara saya memang bukan negara yang terbaik tetapi saya merasa di sanalah Tuhan mau saya berkarya dan mengusahakan yang terbaik …

Karena itu, di hari ulang tahun negeri saya ini, bersama dengan hati yang tulus mengucapkan selamat ulang tahun, terselip juga sebuah doa agar Tuhan terus memberkati bangsa Indonesia. Saya berharap Tuhan membangkitkan anak-anak-Nya dan orang-orang yang masih punya hati bagi bangsa ini untuk membawa perubahan positif bagi bangsa Indonesia. Dirgahayu Indonesia ke-70! Jayalah Indonesia! Saya bangga menjadi orang Indonesia! Merdeka!!!Dirgahayu-Indonesia-2015-5-38378-HD-Screensavers

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s