Menimbang Ulang Mandat Beranakcucu

Setelah hampir dua bulan studi di sini, saya mendapati bahwa ada beberapa dosen di sini yang tidak memiliki anak. Entah bagaimana, hal ini lantas membawa ingatan saya mundur kepada pengalaman salah seorang dosen saya di Indonesia, yang kini sudah almarhum. Hingga meninggalnya beliau dan istri juga tidak mendapat kesempatan memiliki buah hati. Uniknya, berbeda dengan kebanyakan pasangan di Indonesia masa itu, beliau dan istri sengaja tidak mencari tahu apakah ada problem kesehatan yang menjadi penyebab mereka tidak memiliki anak. Alasannya sangat berkesan bagi saya. Beliau mengatakan beliau tidak mau nantinya pihak yang memiliki masalah kesehatan dipandang rendah oleh masyarakat. Kita boleh setuju dengan alasan beliau, juga boleh tidak, tapi saya jelas merasakan bahwa alasan beliau itu muncul dari rasa kasih yang besar terhadap pasanganya.

Di sisi lain, sadar atau tidak, penyataan dosen saya ini sebenarnya juga mencerminkan situasi sosial di Indonesia masa itu (dan nampaknya juga hingga sekarang) yang memandang pasangan yang tidak memiliki anak dengan tatapan aneh. Terlebih bila kemudian diketahui bahwa penyebabnya karena salah satu dari pasangan tersebut memiliki problem kesehatan, maka biasanya orang tersebut akan dilihat dengan pandangan sinis; seolah orang tersebut adalah manusia yang tak penuh kodratnya. Saya tidak tahu bagaimana dengan situasi sosial di Singapura, namun saya menduga dengan pola pikir masyarakatnya yang cenderung moderat, nampaknya dosen-dosen saya di sini memiliki nasib yang lebih baik dibanding dosen saya tersebut.

Menariknya kesalahpahaman tersebut muncul sejak lama. Bahkan sejak masa para patriakh di Perjanjian Lama, perempuan mandul atau pasangan yang tidak memiliki anak akan dianggap rendah oleh masyarakat jaman itu. Ya, saya menyebut cara berpikir demikian sebagai sebuah kesalahpahaman, sebab pandangan tersebut lahir bukan dari pemahaman yang tepat mengenai tujuan Allah memerintahkan manusia beranakcucu.

Banyak orang salah memahami mandat beranakcucu yang Allah berikan di dalam Kejadian 1:28 sekadar sebagai mandat berkembang biak. Tentu saja itu hal yang konyol! Richard Pratt dalam salah satu karyanya Designed for Dignity, menyatakan bahwa bila kita memahami mandat tersebut hanya sebatas perintah berkembang biak, maka konsekuensinya, manusia menjadi tidak ada bedanya dengan binatang! Bukankah Allah juga memerintahkan bintang untuk berkembang biak?

Lantas apa yang membedakan perintah Allah kepada binatang dan mandat Allah kepada manusia? Pratt menjelaskan bahwa mandat beranakcucu tersebut harus dipahami dalam konteks peran manusia sebagai gambar dan rupa Allah, atau dalam bahasa yang lebih gamblang, sebagai “patung-patung” Allah. Seperti halnya patung raja-raja masa itu yang menjadi simbol kehadiran raja dan penunjuk siapa yang berkuasa di daerah tersebut, maka manusia – sebagai “patung” Allah – berkewajiban mencerminkan Allah kepada dunia dan menunjukkan bahwa Dialah yang menjadi penguasa dunia ini: dalam bahasa yang lebih teologis, manusia memiliki tugas untuk menghadirkan Allah di dunia ini.

Dalam kerangka berpikir demikian, mandat Allah supaya manusia beranakcucu bukanlah sekadar perintah menghasilkan manusia baru, tetapi lebih dari itu, menghasilkan gambar dan rupa Allah yang baru.

Dengan kata lain, mandat beranakcucu bukanlah perintah untuk sekadar menambah jumlah penduduk bumi atau mencetak penerus nama keluarga, apalagi memproduksi “robot kecil” untuk memuaskan ambisi kita. Mandat ini ialah perintah untuk membentuk pribadi-pribadi yang mencerminkan dan menghadirkan Allah di dalam dunia.

Memiliki anak biologis memang merupakan salah satu cara mencetak pribadi-pribadi yang mencerminkan Allah tersebut, namun tidak akan pernah menjadi satu-satunya cara.

Kembali ke soal dosen saya tadi. Saya melihat beliau justru lebih memahami dengan baik mandat Allah tersebut. Beliau memang tidak memiliki anak biologis, tetapi beliau mencurahkan hidupnya untuk mendidik anak-anak muda hidup sebagai murid Kristus. Beliau bahkan aktif dalam penginjilan pribadi dan banyak memenangkan jiwa bagi Kristus. Setidaknya, dengan dua cara itu beliau telah menghasilkan gambar dan rupa Allah yang baru dan dengan demikian lebih menghidupi mandat Allah tersebut. Hal yang sama juga saya temukan dalam beberapa rekan hamba Tuhan. Mereka telah dan terus beranakcucu meskipun mereka tidak memiliki anak secara biologis. Ini kontras dengan banyak pasangan yang meskipun memiliki keturunan biologis tidak pernah sadar bahwa tugas utama mereka ialah mencetak gambar dan rupa Allah yang baru.

Memiliki anak biologis merupakan sebuah berkat, namun demikian tidak pernah menjadi suatu keharusan Di mata Tuhan, suami istri merupakan sebuah kesatuan yang utuh dengan atau tanpa adanya anak. Lagipula, esensi mandat beranakcucu yang Tuhan berikan bukanlah soal memiliki keturunan biologis melainkan tentang mencetak gambar dan rupa Allah yang baru; menghasilkan pribadi-pribadi yang menunjukkan dan menghadirkan Allah kepada dunia.

Advertisements

2 thoughts on “Menimbang Ulang Mandat Beranakcucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s