Pencarian Kebenaran II: Mengapa Allah Tritunggal?

Saya telah menjelaskan secara singkat mengapa saya percaya bahwa Allah/Tuhan itu ada (baca disini). Di akhir artikel saya berkonklusi bahwa keberadaan Allah adalah penjelasan yang terbaik untuk dunia ini, tetapi saya sama sekali tidak berusaha menunjukkan Allah yang mana itu. Di artikel kedua ini saya ingin berargumen bahwa, berangkat dari kesimpulan di artikel pertama, Allah Tritunggal (Allah Kekristenan) lah yang merupakan penjelasan terbaik untuk dunia.

Perlu pembaca ketahui bahwa kepercayaan Kristen bukanlah kepercayaan satu dimensi; hanya karena seseorang percaya Allah Tritunggal bukan berarti secara otomatis orang itu menjadi Kristen. Kepercayaan Kristen (setidaknya Kristen Injili) adalah kepercayaan yang terakumulasi dari beberapa elemen dasar yang terdiri dari, antara lain; Allah Tritunggal, Yesus sebagai juruselamat, Alkitab sebagai inspirasi dari Allah Tritunggal, dsb. Karena itu, untuk menjawab pertanyaan, “Mengapa Kekristenan?” saya merasa satu artikel tidak akan cukup lengkap. Oleh sebab itu, artikel kedua ini hanya akan berargumen bahwa Allah Tritunggal adalah penjelasan terbaik, dan baru di episode-episode selanjutnya saya akan mencoba menjelaskan mengapa Yesus dan Alkitab adalah benar. Semua elemen-elemen ini, jika digabung, saya harap akan menjadi argumen yang cukup kuat untuk menjelaskan mengapa kebenaran terletak di iman Kristen.

trinity

Allah yang Personal

Allah haruslah sebuah pribadi. Allah bukanlah sebuah sistem yang tidak memiliki kehendak ataupun pikiran, karena jika Allah tidak memiliki kehendak itu berarti alam semesta tercipta karena kebetulan, dan kita telah melihat di artikel pertama sekecil apa kemungkinan untuk terjadinya alam semesta secara kebetulan. Bukan hanya Allah harus merupakan sebuah pribadi, tetapi Allah harus merupakan sebuah pribadi yang berada di luar alam semesta dan bukan merupakan bagian darinya. Jika Allah berbagian di dalam alam semesta (seperti Panenteisme contohnya, yang berkata bahwa allah berada di dalam semua hal di dunia), ataupun jika alam semesta merupakan bagian dari Allah (seperti Panteisme contohnya), itu berarti bahwa Allah mengambil bagian di dalam sifat-sifat yang berada di dalam alam semesta. Hal ini tidaklah ideal. Alam semesta terbatas, Allah haruslah tidak terbatas. Alam semesta mengandung kejahatan, Allah haruslah baik secara sempurna. Seorang allah yang mengambil bagian di dalam sifat-sifat ini bukanlah allah yang ideal, dan dengan begitu dia tidak pantas disebut allah (apalagi disembah!). Jadi, Allah haruslah sepenuhnya transcendent, atau berbeda sepenuhnya dari alam semesta.

Allah haruslah personal juga karena Dia harus memiliki keinginan untuk berhubungan dengan ciptaanNya. Seorang allah yang tidak berkeinginan untuk berhubungan dengan ciptaannya memiliki banyak sekali kekurangan. Pertama, allah tersebut sama sekali tidak layak untuk kita sembah ataupun untuk memiliki hubungan pribadi apapun dengan manusia. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan ciptaannya, jadi mengapa kita harus berhubungan dengan dia? Kedua, konsep allah yang tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan ciptaannya menciptakan sebuah kesalahan berpikir. Saat kita berkata, “Allah itu ada, tetapi dia sama sekali tidak mau berhubungan dengan ciptaan, dia hanya menciptakan lalu ditinggal begitu saja.”, saat itu kita mengaku bahwa kita memiliki pengetahuan bahwa allah yang seperti itu ada. Tetapi bagaimana kita bisa tau bahwa allah yang seperti itu ada jika dia sendiri tidak memberitaukannya kepada kita (karena dia tidak mau berhubungan dengan kita)? Karena itu, untuk mengaku bahwa Allah itu ada, Allah itu haruslah merupakan sebuah pribadi yang sepenuhnya berbeda dari ciptaan tetapi mau berhubungan dengan ciptaan, dengan begitu Dia sendiri yang bisa memberitaukan kepada kita tentang Dia.

Allah yang Berrelasi

Allah yang benar bukan hanya harus berkeinginan untuk berrelasi, tetapi Dia juga harus memiliki relasi. Dunia kita adalah dunia yang penuh dengan relasi yang (mendekati) ideal dengan satu sama lain. Sewaktu di Sekolah Dasar kita diajarkan tentang hubungan antar makhluk hidup yang bernama simbiosis, ataupun rantai makanan. Tanpa belajar itu pun kita bisa mengobservasi bahwa kita semua adalah makhluk sosial. Kita harus berhubungan dengan satu sama lain. Fakta bahwa Anda membaca artikel ini pun menunjukkan bahwa Anda secara tidak langsung “bersosialisasi” dengan saya di dalam dimensi ide.

Karena alam semesta itu penuh dengan relasi dan hal ini adalah baik (bukan hanya baik, tetapi juga necessary/perlu), Allah yang menciptakan itu haruslah merupakan Allah yang memiliki relasi. Di bagian sebelumnya saya berkata bahwa Allah harus transcendent, karena Dia tidak boleh memiliki sifat-sifat alam semesta seperti jahat ataupun terbatas, loh kok sekarang bilang bahwa Allah harus berrelasi karena itu adalah sifat alam semesta? Kan kontradiksi? Biar saya jelaskan. Pertama, sifat-sifat di atas yang saya bilang tidak boleh dimiliki Allah adalah sifat-sifat non-ideal. Alam semesta kita terbatas dan memiliki kejahatan. Bayangkan alam semesta yang sepenuhnya baik dan tidak terbatas, bukankah itu ideal? Allah haruslah seperti itu. Sifat yang saya jelaskan disini, sifat berrelasi, adalah sifat yang sudah ideal, karena tanpa relasi alam semesta tidak akan berjalan dengan baik. Karena kebaikan yang ada itu, Pencipta alam semesta haruslah memiliki sifat ideal itu dahulu barulah Dia bisa menanamkan kebaikan itu ke dalam ciptaan. Bukan hanya itu, relasi ini di dalam bentuk sempurnanya di dalam diri manusia harus ditemani oleh sesuatu yang bernama kasih. Semua manusia secara natural tau bahwa kasih adalah ideal, dan saya sudah berargumen di artikel yang pertama bahwa kita tau mana yang baik haruslah karena Allah sendiri yang menanamkan standart itu ke dalam diri kita, maka dari itu Allah haruslah mengandung kasih. Kedua, ada perbedaan antara kalimat “Allah memiliki sifat-sifat dunia karena Dia berbagian di dunia dan dunia berbagian di dalam Dia” dengan kalimat “alam semesta memiliki beberapa sifat Allah, karena Allah yang menciptakan dunia dan menanamkan sifat-sifatNya kedalamnya”. Kalimat pertama adalah maksud saya di bagian sebelumnya. Kalimat kedua adalah maksud saya di bagian ini.

Sifat berrelasi yang mengasihi ini juga harus dimiliki Allah secara eternal (tanpa batas waktu). Karena Allah harus tidak memiliki batas waktu (karena jika tidak, berarti Dia memiliki awal mula, yang berarti Dia harus diciptakan, yang berarti Dia bukan Allah – tetapi ciptaan), maka Dia tidak bisa berubah. Jika Allah bisa berubah, maka kembali lagi ke atas, Dia tidaklah berada di luar alam semesta, karena Dia dipengaruhi sesuatu di luar diriNya. Dan jika Dia bisa berubah di dalam naturNya, Dia bukanlah tanpa batas waktu, karena itu berarti ada waktu dimana Dia “tidak seperti ini” dan ada waktu dimana Dia “mulai menjadi seperti ini”. Topik waktu dan hubungannya dengan Allah adalah topik yang rumit, jadi karena ruang tulis yang terbatas saya akan berkonklusi bahwa; karena Allah tidak bisa berubah, Dia harus sejak selamanya sampai selamanya memiliki relasi yang mengasihi, meskipun sebelum dunia diciptakan pun Dia harus memiliki relasi. Allah yang seperti ini hanya bisa diperlihatkan di Allah Tritunggal, yang saling berrelasi di dalam diriNya sendiri. Dan bukan hanya itu, Allah di Alkitab adalah Allah yang merupakan kasih. Bukan hanya Allah memiliki kasih, tetapi Dia benar-benar memenuhi syarat berrelasi ini karena Dia adalah kasih (1 Yohanes 4:8).

Allah yang Berkuasa dan Menyelamatkan

Allah yang benar juga haruslah berkuasa untuk melakukan apapun yang Dia mau (asalkan sesuai dengan naturNya). Hal yang paling dasar adalah Allah harus berkuasa menciptakan. Jika tidak, alam semesta ini lagi-lagi dipertanyakan asal-usulnya. Bukan hanya itu saja, karena dunia ini memiliki kejahatan, Allah yang patut disembah haruslah memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengalahkan kejahatan. Dunia ini memiliki banyak masalah, semua manusia mengetahui itu, dan masalah adalah hal yang tidak ideal, maka dari itu seorang Pribadi yang ideal dan sempurna haruslah memiliki keinginan dan kemampuan untuk membasmi kejahatan untuk dianggap sempurna dan ideal, meskipun kapan Dia membasmi kejahatan itu sepenuhnya terserah Dia (karena Dia yang mahatau tau kapan waktu yang ideal).

Di dalam Allah Tritunggal, bukan hanya ada kemauan dan kemampuan untuk mengalahkan kejahatan, tetapi Dia sudah berinisiatif memulainya. Di sini saya akan sedikit mengambil materi dari Alkitab. Memang, saya belum membuktikan bahwa Alkitab bisa dipercaya, saya akan mencoba melakukannya di artikel ketiga. Alkitab mengatakan bahwa sejak kejahatan masuk ke dalam dunia pun, Allah langsung berinisiatif merencanakan kekalahan kejahatan itu (Kejadian 3:15). Rencana ini pun lambat laun terungkap, dan saya merasa rencana keselamatan yang dilakukan oleh Allah Tritunggal adalah yang paling sempurna dan paling indah dibanding allah-allah lain. Allah Bapa yang berinisiatif merencanakan keselamatan dari awal dan membangun perjanjian-perjanjian dengan ciptaan (Nuh, Abraham, Daud, dst.) untuk memastikan bahwa rencanaNya akan terpenuhi. Allah Bapa lah juga yang mengirim Allah Anak dan Roh Kudus untuk menjalankan rencana yang dari awal. Allah Anak datang ke dalam dunia di dalam Yesus dari Nazaret, menunjukkan kepada manusia tentang Allah yang tidak bisa dilihat, dan menjalani kehidupan yang sempurna hanya untuk pada akhirnya dibunuh supaya dua dimensi kemuliaan Allah (kasih dan keadilan – yang dua-dua nya kita anggap ideal) dua-duanya bisa dilihat bersamaan di pengorbanan Yesus; mengampuni dosa tetapi juga menghukum dosa melalui pengorbananNya sendiri. Dan bukan hanya berhenti disana, Roh Kudus juga berperan membersihkan manusia dari kejahatan. Penebusan Allah Anak tidak akan berarti jika manusia tidak mempercayai Dia dan jika manusia hanya menerima keselamatan itu asal-asalan lalu tetap berbuat kejahatan sampai akhirnya. Karena itu, Roh Kudus lah yang memulai penyucian di dalam diri manusia sehingga manusia bukan hanya menerima keselamatan, tetapi juga agar tidak berbuat jahat. Rencana keselamatan dengan dimensi yang lengkap seperti ini hanya bisa dilakukan oleh Allah Tritunggal, satu Allah dengan tiga Pribadi yang masing-masing adalah sepenuhnya Allah.

Saya merasa kebanyakan agama-agama lain di dunia ini hanya menawarkan apa yang Allah Bapa di kekristenan lakukan. Allah mereka merencanakan keselamatan dari kejahatan, lalu memberikan “perjanjian”, atau hukum “jika kamu melakukan ini maka kamu selamat”. Padahal secara fakta semua manusia tau bahwa tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah. Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna dan cukup pantas untuk diselamatkan. Lalu pertanyaannya, apakah kita harus sempurna untuk diselamatkan? Bagaimana dengan hukum hitung-hitungan; kebaikan/amal ditimbang dengan kejahatan, jika kebaikan lebih banyak maka bisa diselamatkan? Masalahnya, seberapa banyak kebaikan yang harus kita lakukan supaya pantas diselamatkan? Mampukah kita sampai ke titik itu? Jika Allah itu begitu sempurna kebaikanNya, Dia tidak akan mampu mentolerir kejahatan setitik pun, dan karena itu segudang kebaikan pun tidak akan cukup untuk menutup setitik kejahatan itu dimata Dia. Bukankah hal ini logis? Ataukah kita berpikir bahwa Allah bisa kita sogok dengan kebaikan kita? Jika Allah bisa mentolerir setitik kejahatan dengan melihat segudang kebaikan, maka Dia secara logis bukan baik secara murni dan secara sempurna. Maka dari itu, keselamatan yang diperlukan adalah yang diberikan oleh Allah Tritunggal; bukan hanya hukum dan perjanjian, tetapi juga pengorbanan untuk menggantikan hukuman kita, dan “kemampuan” untuk menjauhi kejahatan.

Konklusi

Saya telah secara singkat (percayalah, tadi itu singkat) memaparkan mengapa saya pikir Allah Tritunggal adalah Allah yang benar. Akan tetapi, keberadaan Allah Tritunggal ini kita bisa ketahui hanya dari Alkitab. Saya telah berargumen bahwa Allah yang benar haruslah Allah yang mau memberitaukan diriNya kepada kita, karena hanya dengan itu kita bisa mengetahui diriNya. Akan tetapi, bisakah kita mempercayai apa yang Alkitab katakan? Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini di artikel selanjutnya.

Soli Deo Gloria

 

References:

Butin, Philip W. The Trinity. Louisville: Geneva Press, 2001.

Carson, Donald A. The Difficult Doctrine of the Love of God. Leicester: Inter-Varsity Press, 2001.

Leithart, Peter J. Traces of the Trinity: Signs of God in Creation and Human Experience. Grand Rapids: Brazo Press, 2015.

Advertisements

One thought on “Pencarian Kebenaran II: Mengapa Allah Tritunggal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s