Sukacita: Bisakah Kita Mendapatkannya?

Artikel ini saya tulis untuk majalah terbitan Sidang Baptis Indonesia di Melbourne.

USB_connection

Semua manusia menginginkan sukacita, atau yang kebanyakan orang sebut dengan kebahagian (ada perbedaan antara sukacita dan kebahagiaan, tetapi untuk kebahagiaan bersama mari kita lupakan masalah ini sebentar). Masalahnya adalah, sukacita yang kita dapatkan di dunia ini sangat semu dan hanya bersifat sementara karena hasrat jiwa kita yang tidak terbatas tidak bisa dipuaskan oleh apapun yang terbatas. Kekristenan menyadari masalah ini dan mengajarkan solusi yang menurut saya lebih memuaskan dari pandangan yang lain.

Pendeta Presbyterian Timothy Keller menulis di dalam bukunya The Reason for God (2008, p.135): “Bukankah rasa lapar menunjukkan kepada kita bahwa makanan itu ada? (…) Pada saat yang sama kita memiliki hasrat yang tidak bisa dipenuhi oleh apapun di dunia, bukankah itu menandakan bahwa ‘sesuatu’ yang memenuhi hasrat itu ada?” Ya, untuk mendapatkan sukacita sebesar-besarnya kita harus memenuhi hasrat kita, tetapi hasrat kita yang tidak terbatas itu hanya bisa dipenuhi oleh ‘sesuatu’ yang tidak terbatas, yaitu Allah. Saya sering mengumpamakan hidup manusia ini seperti USB flash drive dan Allah adalah USB port (saya tahu ini perumpamaan yang konyol, tapi biarlah, saya memang suka berbuat konyol). Saat USB flash drive tersambung dengan USB port, sukacita manusia akan terpenuhi. Tetapi masalahnya, saat manusia jatuh dalam dosa, USB port itu sudah tidak mau lagi menerima corrupted USB flash drive. Sejak saat itu manusia berusaha menyambungkan USB flash drive-nya dengan koneksi yang lain; narkoba, pornografi, alkohol menjadi koneksi-koneksi alternatif untuk memenuhi kekosongan USB flash drive. Akan tetapi, sebuah flash drive tidak akan masuk ke colokan TV ataupun amplifier gitar, maka dari itu kekosongan di dalam diri manusia tetap abadi dan tidak terpenuhi.

Melalui konsep ini kita bisa melihat mengapa kita tidak bisa mendapatkan sukacita yang sejati. Bagaimana mungkin alkohol, sex, dan segala pernak-pernik dunia gemerlap itu memenuhi hati kita yang tidak berujung? C. S. Lewis, penulis seri Narnia dan seorang teolog abad 20, menulis: “Sepertinya Tuhan kita menemukan bahwa hasrat hati kita ini tidaklah terlalu kuat, tetapi malah terlalu lemah. Kita adalah makhluk setengah hati, bermain-main dengan minuman, sex, dan ambisi kita sendiri saat sukacita yang tidak terbatas sedang ditawarkan ke kita; seperti seorang anak yang bebal yang ingin pergi bermain lumpur di daerah kumuh karena dia tidak tahu rasanya bermain pasir di pantai.”

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Jika kita sudah tahu bahwa ada ‘USB port’ untuk ‘USB flash drive’ kita, mengapa kita tidak berusaha mengejar ‘USB port’ tersebut? Allah memisahkan kita dari diriNya karena kita berdosa, tetapi kita tahu bahwa ada Pribadi yang mendamaikan kita dengan Allah, seorang Yesus Kristus. Undanglah Yesus dan biarkan kemuliaan Allah yang tidak terbatas mengisi jiwamu yang kosong. Jika itu sudah kamu lakukan, berdoalah agar kamu diijinkanNya untuk melayani Dia dan mengenal Dia lebih lagi. Saya berdoa agar kemuliaan Allah memancar di dalammu dan memenuhi ruang hatimu dengan sukacita yang sejati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s