Menapaki Kemurahan demi Kemurahan: Sebuah Sharing

Tidak terasa hampir tiga bulan sudah saya menjalani studi di negeri Singa ini. Menariknya, dalam tiap harinya saya makin menyadari bahwa anugerah Tuhan bekerja lebih dari apa yang saya pikirkan. Setidaknya sejauh ini, ada tiga kemurahan yang bisa saya sharingkan. Kemurahan pertama saya rasakan ketika saya diterima di beberapa seminari yang saya tuju (termasuk kampus saya sekarang) dan mendapat beragam beasiswa untuk studi tersebut (termasuk beasiswa dari sebuah lembaga beasiswa untuk studi di kampus saya sekarang). Jujur saja, di tengah pesimisme saya, hal tersebut merupakan kejutan besar dari Tuhan.

**********

Kemurahan kedua saya rasakan ketika Tuhan membuka jalan bagi pergumulan saya membawa keluarga menemani studi. Meskipun saya mendapat beasiswa untuk studi di sini, tetapi beasiswa tersebut hanya mencakup kebutuhan saya pribadi. Itu pun hanya meliputi biaya studi, tempat tinggal dan makan bagi saya sendiri. Biaya buku, transportasi, dan berbagai kebutuhan lain tidak tercakup dalam beasiswa tersebut. Oleh karena itu, awalnya saya berpikir untuk berangkat studi sendiri sebab keadaan finansial yang ala “Jerman” (diejer-ejer gak uman; dihitung-hitung gak kebagian wkwkwkw) jelas tidak memungkinkan saya membawa keluarga.

Akan tetapi, mendekati hari keberangkatan hati saya semakin gelisah. Saya merasa tidak mampu berpisah dengan istri dan anak saya. Anak saya masih tiga tahun. Tentunya, dia masih sangat membutuhkan figur papanya. Selain itu, saya takut pengalaman seorang rekan hamba Tuhan bakal terulang pada saya. Rekan ini berangkat studi sendiri selama beberapa tahun, dan ketika pulang anaknya memanggil beliau: “Om!” Meskipun kini teknologi sudah semakin maju, namun saya tetap yakin bahwa kehadiran fisik tidak akan bisa tergantikan bahkan oleh video call sekalipun.

Singkat cerita, setelah bergumul cukup lama dan mencoba mengkalkulasi kebutuhan, Tuhan akhirnya membuka jalan melalui gereja yang saya layani. Mereka bersedia mendukung saya secara finansial supaya saya bisa membawa keluarga saya menemani saya studi. Puji Tuhan!! Tidak hanya itu, beberapa jemaat yang pernah saya layani dan seorang rekan lama saya juga bersedia membantu secara finansial untuk studi saya. Akibatnya, kebutuhan saya dan keluarga selama studi benar-benar tercukupkan. Tidak berlebihan, namun juga tidak kurang. In short, saya benar-benar sekolah gratis!

Hanya saja, masalah belum selesai. Karena semula saya mendaftar untuk single hostel berarti saya harus segera mengontak pihak sekolah untuk mengubahnya ke family housing. Masalah muncul karena apartemen untuk keluarga tidak selalu tersedia. Pihak sekolah hanya menyarankan supaya saya mengirimkan aplikasi sesegera mungkin. Saya pun segera mendaftar dan menunggu jawaban. Sayangnya, sampai dengan hari keberangkatan saya, tidak ada kejelasan apakah saya bisa membawa keluarga saya atau tidak, sehingga akhirnya saya pun harus berangkat sendiri.

Selama di pesawat saya berulang kali berdoa memohon kemurahan Tuhan supaya ada apartemen yang tersedia bagi keluarga saya. Skenario terburuk waktu itu, saya harus berpisah dengan keluarga selama setengah tahun pertama sambil menunggu ketersediaan apartemen keluarga. Tapi uniknya, tiap kali berdoa saya merasa Tuhan mengingatkan, “Uangnya sudah Aku kirim, jadi gak mungkin orangnya Aku tinggalkan.” Benar saja, setibanya di kampus, ternyata nama saya sudah terdaftar di apartemen keluarga! Pihak sekolah menjelaskan bahwa tiap kali menghubungi saya, surel yang mereka kirim selalu tidak sampai. Herannya, setelah itu tidak pernah lagi ada masalah ketika mereka mengirimkan email kepada saya. Waktu itu, saya bergumam, “Tuhan, lagi bercanda nih?” Tapi it’s ok, kemurahan-Nya memang ngeri-ngeri sedap bukan? Hehehe

**********

Kemurahan ketiga baru saja kami alami dalam minggu ini. Untuk menemani saya studi di sini, istri dan anak saya harus memiliki Long-Term Visit Pass (LTVP). Puji Tuhan, proses pengajuan aplikasi pada bulan Juli kemarin berjalan dengan lancar. Sekitar akhir Agustus, surat persetujuan dari pemerintah Singapura dikeluarkan dan kami pun harus segera membuat appointment secara online untuk mengurus LTVP. Masalahnya hari terdekat yang tersedia untuk mengurus LTVP ialah 19 Oktober 2015, sementara Short-Term Visit Pass (STVP) istri dan anak saya akan berakhir pada tanggal 25 September 2015, alias hari ini!

Dari pengalaman beberapa rekan, saya memutuskan untuk memperpanjang STVP istri dan anak saya barang sebulan sambil menunggu tanggal 19 Oktober 2015. Kami memutuskan mengurus perpanjangan STVP setelah tanggal 19 September, sebab bila kami mengurusnya sebelum tanggal 19 September maka nantinya ada beberapa hari di bulan Oktober istri dan anak saya akan menjadi pendatang ilegal di Singapura. Tentu saja hal itu, dengan sendirinya, akan membatalkan pengajuan LTVP mereka.

Kami akhirnya memutuskan untuk memperpanjang STVP pada tanggal 22 September lalu. Ketika kami tiba di kantor Imigrasi Singapura, kami terkejut ketika petugas front office memberitahu bahwa kami harus memiliki sponsor lokal untuk memperpanjang STVP (padahal menurut pengalaman rekan-rekan sama sekali tidak perlu!). Kami sempat bingung dan frustrasi dengan keadaan tersebut. Apalagi petugas front-office tersebut terkesan tidak kooperatif. Beruntung salah seorang staff imigrasi kemudian berbaik hati membantu kami. Dia menyarankan istri saya supaya segera cek kesehatan (sebagai syarat penerbitan LTVP) dan kembali ke kantor imigrasi pada tanggal 25 September pukul 10 pagi apapun hasilnya, untuk pengurusan LTVP.

Hari itu, dengan tergesa, kami segera menuju klinik tempat mahasiswa TTC biasa melakukan cek kesehatan. Setelah tes, kami diberitahu bahwa hasil tes kesehatan tersebut baru akan keluar pada tanggal 25 September pukul 15.00! Meskipun staff imigrasi tersebut berpesan supaya kami kembali tanggal 25 September bagaimanapun hasilnya, dan meskipun kami mencoba untuk tenang, jujur saja, saya tetap merasa kalut. Saya sempat berpikir bila ternyata kami mengalami kesulitan nantinya, mungkin saya akan mengungsikan istri dan anak saya ke Batam barang beberapa hari supaya ketika mereka kembali mereka mendapatkan STVP baru.

IMG_20150925_190757(1)Tadi pagi, kami kembali mendatangi kantor imigrasi Singapura. Ketika mengambil nomor antrian di front-office, istri saya bercerita bahwa sempat ada kesulitan. Beruntung Tuhan membuat petugas front-office berbaik hati kepada istri saya sehingga istri saya bisa mendapat nomor antrian. Semua proses berjalan baik sampai akhirnya petugas imigrasi menyadari istri saya belum memiliki hasil tes kesehatan. Petugas tersebut memberitahu istri saya untuk mengambil hasilnya dan kembali sebelum pukul 16.30. Akhirnya, kembali dengan tergesa kami menuju ke tempat istri saya melakukan tes kesehatan. Kami menunggu hampir dua jam sebelum akhirnya mendapatkan hasil tes kesehatan tersebut dan, setelah itu, dengan tergesa kami kembali ke kantor imigrasi. Singkat cerita, setelah melalui beragam proses, hari ini LTVP istri dan anak saya pun diterbitkan!

**********

Sejujurnya, hati dan pikiran saya lelah, fisik saya pun juga letih harus bolak balik. Tadi pagi bahkan saya sempat berkelakar kepada istri saya, “Yaelah, ribetnya hidup di negeri orang.” Tapi dalam kelelahan dan keletihan ini saya merasa kembali ada anugerah Tuhan yang besar. Saya bersyukur Tuhan memberi waktu yang tepat untuk pengurusan LTVP ini, tidak terlalu cepat namun juga tidak terlambat. Semula kami berencana mengurus perpanjangan STVP pada tanggal 21 September, namun karena asap impor dari Indonesia yang cukup tebal hari itu, ditambah kondisi fisik saya tidak fit hari itu, kami harus menangguhkan rencana itu untuk hari selanjutnya. Bersyukur pada tanggal 22 September saya sudah jauh lebih kuat dan asap sedikit menipis. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi bila kami mengurusnya pada tanggal 23 September? Kami bersyukur ada staff imigrasi yang berbaik hati membantu kami. Bahkan kami bersyukur Tuhan mengubah pengurusan perpanjangan STVP menjadi penerbitan LTVP! Singkatnya, kami bersyukur Tuhan mengatur semuanya sehingga kami kembali bisa melihat kemurahan-Nya bagi kami.

Semua ini mengingatkan saya pada sebuah lagu pendek yang menjadi lagu tema keluarga kami. Lagu ini berjudul “Tuhan, Kau Sungguh Baik.” Liriknya sederhana namun terus mengingatkan saya dan keluarga (dan saya harap juga Anda) bahwa Tuhan benar-benar baik. Blessings!

Hari-hari yang t’lah ku lalui, Ku saksikan, betapa karya-Mu

Selalu nyata di dalam hidupku, Tuhan, Kau sungguh baik

Banyak p’ristiwa dan kejadian, Membuat diri s’makin menyadari

Bahwa rancangan-Mu indah dalam hidupku, Tuhan, Kau sungguh baik

Reff:

Ku kagum akan Kau Tuhanku, Engkau melebihi apapun di dunia ini

Tak ‘kan ku berhenti ‘tuk s’lalu memuji-Mu, Tuhan, Kau sungguh baik

Advertisements

4 thoughts on “Menapaki Kemurahan demi Kemurahan: Sebuah Sharing

  1. Pengalaman yg hampir sama pak.
    Saya sudah stress duluan… Yg bisa saya lakukan adalah berdoa.
    Tp Tuhan itu sudah mengatur sedemikian rupa. Apa yg saya khawatirkan dibuktikan oleh Tuhan bahwa semuanya itu tdk benar. Karena Tuhan maha kuasa. Master planner.
    Jbu pak n fam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s