Tuhan Menyediakan Bahkan Sebelum Kita Membutuhkan

Sekitar akhir Desember tahun 2014 lalu saya berkesempatan untuk menyampaikan firman Tuhan di Radio Wijaya Surabaya (saya sebut namanya sebab radio ini milik jemaat saya hehehe). Waktu itu, saya menyampaikan modifikasi kotbah lama saya dari Matius 6:25-34 yang berbicara soal kekuatiran akan kebutuhan hidup. Satu kalimat yang kemudian saya gunakan untuk memungkasi kotbah saya waktu itu berbunyi demikian, “Tuhan menyediakan bahkan sebelum kita membutuhkan!”Nah, yang ingin saya sharingkan kali ini ialah pengalaman saya dengan kalimat pamungkas itu.

Sejak tinggal di Singapura untuk studi, saya meminta istri saya untuk mulai mencatat pengeluaran kami. Meski Tuhan menggerakkan gereja tempat saya melayani dan beberapa kenalan untuk membantu secara finansial, ini tidak berarti dana yang kami miliki berlebihan (Anda bisa membaca sharing saya soal hal ini di sini). Itu sebabnya kami mulai mendisiplin diri kami untuk mencatat pengeluaran kami, sehingga kami bisa mengevaluasi dalam hal apa uang kami tercurah paling banyak dalam bulan itu dan lantas memperbaikinya untuk bulan berikutnya.

Selain itu, kami juga memiliki “batas atas” pengeluaran untuk setiap bulannya. Bila pengeluaran bulanan kami sudah melebihi batas tersebut berarti pengelolaan keuangan kami bulan itu bisa dikategorikan cukup buruk. Nah, untuk bulan September ini hitungan kami ternyata menunjukkan bahwa total pengeluaran kami hingga saat ini sudah lebih beberapa ratus dolar dari “batas atas” kami! Tapi, tunggu dulu, hal ini bukan disebabkan oleh pengelolaan keuangan yang buruk. Beberapa pengeluaran kami yang cukup besar muncul karena keadaan-keadaan yang ada di luar kendali kami.

Yang membuat kami tercengang ketika kami menghitung pengeluaran kami bulan ini ialah bagaimana cara Tuhan memelihara kami. Pertama, sekitar akhir Agustus lalu seorang rekan tiba-tiba memberikan berkat dalam jumlah yang bagi kami sangat besar. Kedua, sebuah gereja Indonesia di sini kemarin mengundang saya berkotbah di ibadah remaja mereka, dan “bibit berkat” (saya suka istilah ala GPPS ini) yang saya terima jumlahnya ternyata jauh di atas dugaan saya. Nah, ketika dua berkat ini kami kalkulasi ternyata jumlahnya setara dengan kebutuhan-kebutuhan tak terduga kami! Bahkan kebutuhan rutin kami sebenarnya justru belum menyentuh “batas atas” yang kami tentukan! Menyadari hal ini, sontak saya berkata pada istri saya, “Tuhan menyediakan bahkan sebelum kita membutuhkan!”

Saya menyadari pembicaraan tentang uang dan kebutuhan hidup merupakan hal yang amat sensitif, namun Anda bisa yakin bahwa tujuan saya membagikan pengalaman ini bukan untuk memohon belas kasihan atau menyombongkan diri. Saya hanya ingin kita selalu mengingat bahwa ada Allah yang memelihara hidup kita. Saya bersyukur untuk rekan yang rela membagi berkatnya dengan saya; saya juga bersyukur untuk sebuah gereja yang telah memberi saya kesempatan berkotbah. Namun, di atas semua itu, saya bersyukur karena saya tahu bahwa ada Allah yang mengatur semuanya untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga.

**********

GWPAkan tetapi, di sisi lain, saya juga menyadari bahwa ada orang-orang yang tidak “seberuntung” saya. Tanpa bermaksud menghakimi, saya merasa ada beberapa hal yang mungkin bisa dipikirkan untuk mengevaluasi diri. Pertama, ingatlah bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita bukan keserakahan kita.

God suffice our need not our greed!

Banyak orang hari ini merasa kekurangan bukan karena Tuhan tidak mencukupkan kebutuhan mereka, tetapi karena keserakahan mereka yang terlampau besar.

Kedua, Tuhan memang berjanji memelihara kita namun hal tersebut sama sekali tidak meniadakan kerja keras kita. Sama seperti burung masih harus terbang dan mencari ulat, demikian pun kita juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tidak jarang saya menemui orang-orang yang “berkekurangan” karena mereka terlalu malas, ingin menikmati hasil besar dengan cara instan, atau bahkan menikmati kehidupan sebagai – meminjam bahasa Alm. Pdt. Ishak Lew Lewi – “pengemis berdasi.”

Ketiga, tugas utama kita ialah mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Matius 6:33). Penulis Amsal dengan bijak menyatakan “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Ams. 10:22). Bekerja memang kewajiban kita, tetapi kita harus ingat di atas itu semua, relasi dengan Tuhan tetap perlu dijaga. Kita bisa memenuhi kebutuhan kita bukan semata-mata karena usaha keras kita, tetapi yang terutama karena Dialah yang memberkati kita.

Keempat, periksalah lingkungan rohani dimana Anda berada. Saya menyadari ada banyak orang yang hidup dalam segala kesederhanaan, bekerja dengan rajin dan keras, serta sangat mencintai Tuhan, namun ternyata masih hidup dalam kekurangan. Seringkali orang-orang ini merupakan korban sistem yang rusak atau korban dari kesalahan di masa lampau. Dalam hal ini, saya merasa di sinilah pentingnya peran saudara seiman untuk menopang kehidupan saudara-saudara mereka yang tidak beruntung.

Komunitas rohani yang sehat tentu saja tidak secara otomatis menghapuskan keberadaan orang miskin; tetapi dalam komunitas rohani yang sehat seharusnya tidak boleh ada anggota yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Jadi, bila Anda sudah mengutamakan Tuhan, bekerja dengan keras, dan hidup sederhana, tetapi Anda masih mengalami pergumulan serius untuk memenuhi kebutuhan mendasar Anda, nampaknya Anda perlu mendiskusikan dengan pemimpin rohani Anda perihal kesehatan komunitas Anda.

Tentu saja empat hal ini bukan kriteria yang komprehensif. Hal tersebut bukan tujuan utama saya. Apa yang saya ingin Anda ingat ialah bahwa kita memiliki Allah yang memelihara kita. Dia sudah memberikan hal-hal yang lebih penting (tubuh dan hidup), maka tidak mungkin Dia tidak memberikan hal-hal yang kurang penting seperti makanan dan pakaian. Kalau burung dan bunga di padang saja diperhatikan-Nya, apalagi kita yang disebut sebagai biji mata-Nya. Bahkan adanya anugerah Allah setiap harinya harusnya membuat kita dengan yakin berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluan(ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya di dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19). Singkatnya, percayalah bahwa Tuhan sudah menyediakan bahkan sebelum kita membutuhkan! Blessings!

Advertisements

One thought on “Tuhan Menyediakan Bahkan Sebelum Kita Membutuhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s