Refleksi Seorang Pengkotbah

Rekans, saat ini saya sedang menyelesaikan membaca sebuah buku karangan Markus Bockmuehl, bertajuk “Seeing the Word.” Dia adalah dosen Perjanjian Baru di Universitas Oxford dan merupakan salah seorang sarjana Perjanjian Baru yang saya kagumi (sayangnya dia gak bakal mau jadi supervisor mahasiswa bodoh seperti saya hiks hiks). Nah, di salah satu bab bukunya, dia mengutip sebuah legenda tentang Thomas Aquinas yang terekam dalam ukiran Flandria, yang  pertama kali disebutkan sekitar abad keempat belas oleh William Tocco dan Bernard Gui. Kisahnya kurang lebih demikian:

Dalam sebuah kesempatan, ada sebuah teks Yesaya yang kabur, yang benar-benar membingungkan Thomas Aquinas. Akibatnya, untuk berhari-hari lamanya dia tidak bisa melangkah lebih jauh, meski dia telah berdoa dan berpuasa dengan tekun, memohon pencerahan untuk melihat ke dalam pikiran sang nabi. Akhirnya, suatu malam, ketika terjaga untuk berdoa, anak didik Aquinas yang bernama Reginald mendengar nampaknya Aquinas sedang berbicara dengan beberapa orang lain di kamarnya; meski si Reginald tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan maupun dengan siapa Aquinas berbicara. Ketika suasana  menjadi senyap, Reginald mendengar Thomas berseru: “Reginald, anakku, bangun dan bawa lilin serta tafsiran Kitab Yesaya kemari; aku ingin kamu menulis untukku.” Maka Reginald segera bangun dan mulai menuliskan apa yang didiktekan Aquinas. Pendiktean itu begitu jelas seolah-seolah Aquinas sedang membaca sebuah buku. Hal ini berlanjut selama satu jam, sebelum akhirnya Aquinas menyuruh Reginald kembali tidur. Reginald kemudian berlutut dan memohon Aquinas mengatakan dengan siapa dia tadi berbicara. Awalnya Aquinas menolaknya dan mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan berfaedah bagi Reginald. Namun, karena Reginald terus memohon dengan sangat sambil menangis, Aquinas akhirnya menjawab: “Anakku, kamu telah melihat betapa tertekannya aku akhir-akhir ini karena teks yang baru saja aku jelaskan. Aku tidak dapat mengerti teks itu, dan aku meminta Tuhan untuk menolongku. Malam ini Dia mengirimkan kedua rasul-Nya kepadaku, Petrus dan Paulus. Mereka berbicara kepadaku dan menjelaskan semua yang aku ingin tahu. Tetapi sekarang demi nama Tuhan, jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini selama aku masih hidup. Aku mengatakannya hanya kepadamu sebab kamu meminta dengan sangat kepadaku.”

Bockmuehl mengutip kisah ini untuk menjadikan Aquinas sebagai seorang contoh penafsir yang baik, yang mengerjakan tugas penafsiran dengan akal yang ditransformasi dan dalam konteks komunitas orang beriman.

**********

imagesSaya tidak tahu apakah kisah ini memang benar-benar terjadi, tetapi jujur, saya merasa kisah ini benar-benar inspiratif.  Ketika saya membaca kisah ini, serta merta pikiran saya dibawa kepada tugas hamba Tuhan sebagai pengkotbah; dan kisah Aquinas ini setidaknya menegur dua aspek dari pengkotbah kontemporer. Pertama, kisah ini menyadarkan kita bahwa dalam menafsirkan dan mengotbahkan Kitab Suci, kita perlu bergantung kepada Allah. Rasio memang merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan menafsir dan berkotbah, namun demikian rasio bukanlah yang terpenting. Penulis Alkitab memang menghargai keberadaan rasio manusia, namun demikian mereka juga menyadari keterbatasannya. Apalagi ketika terkait dengan firman Tuhan, yang dibutuhkan bukanlah sekadar rasio, tetapi rasio yang ditransformasi Allah dan yang bergantung kepada Allah.

Sayangnya, tidak banyak pengkotbah kontemporer yang bersikap demikian. Berapa banyak pengkotbah kontemporer yang berdoa dan berpuasa seperti Aquinas ketika mereka sedang mempersiapkan kotbah mereka? Saya rasa tidak banyak. Apa yang kerap dilakukan para pengkotbah hari ini adalah langsung membuka buku tafsiran, membandingkan pendapat sarjana A dan B, lalu mencoba membuat sintesanya. Banyak pengkotbah berdoa hanya ketika inspirasi mereka buntu, naskah kotbah mereka macet!

Richard Pratt dalam bukunya “He Gave Us Stories,” mengingatkan bahwa ada tiga cara kerja Allah dalam penafsiran dan kotbah kita. Pertama, Allah bekerja melalui upaya kita: ada kalanya kita mempersiapkan penafsiran dan kotbah kita dengan baik, dan ternyata hasilnya bisa kita sampaikan dengan baik bahkan mendapat sambutan yang sangat baik. Kedua, Allah bekerja melampaui upaya kita: adakalanya kita merasa upaya kita tidak maksimal, namun entah mengapa kita bisa menyampaikan materi yang kita siapkan dengan baik dan mendapat respon positif dari audiens. Ketiga, Allah bekerja melawan upaya kita: adakalanya kita mempersiapkan dengan baik, namun hasilnya mengecewakan bahkan terasa kering bagi jemaat. Nah, apa yang hendak Pratt sampaikan di sini ialah bahwa Allahlah penentu keberhasilan penafsiran dan kotbah kita, bukan rasio dan upaya kita. Ia bisa bekerja melalui upaya kita, melampaui upaya kita, bahkan melawan upaya kita.

Louis Berkhof dalam salah satu karyanya (The Principles of Biblical Interpretation) menuliskan bahwa mengetahui pikiran penulis sekunder dari Alkitab seperti Paulus, Lukas, Matius merupakan hal yang penting. Namun, yang lebih penting dari itu ialah mengetahui pikiran Penulis utama Kitab Suci, yaitu Allah yang menginspirasikannya. Rasio mungkin membuat kita bisa menjelaskan what the Bible said dengan sangat elegan, tetapi tanpa kebergantungan pada Allah, kita tidak akan menemukan what the Bible says. Kepintaran mungkin membuat kita bisa membawa pendengar kita kembali ke masa lampau, ke dalam peristiwa dunia Alkitab, tetapi tanpa hikmat Allah, kita hanya akan meninggalkan mereka di sana tanpa mampu membawanya kembali ke masa kini.

**********

Kedua, kisah ini mengingatkan pengkotbah kontemporer untuk serius dalam upaya penafsiran dan kotbah mereka. Meskipun Allah merupakan penentu keberhasilan utama penafsiran dan kotbah kita, namun tentu saja itu tidak sama sekali meniadakan upaya aktif dari kita. Tuhan menuntut kita bersungguh-sungguh dalam bergumul dengan teks yang akan kita coba pahami dan kotbahkan. Mengapa harus demikian? Sarjana Perjanjian Baru favorit saya lainnya, D. A. Carson, memberikan jawaban yang ekselen. Dalam salah satu masterpiecenya (Exegetical Fallacies), dia menulis, “Make a mistake in the interpretation of one of Shakespeare’s plays, falsely scan a piece of Spenserian verse, and there is unlikely to be an entailment of eternal consequence; but we are cannot lightly accept a similar laxity in the interpretation of Scripture. We are dealing with God’s thoughts: we are obligated to take the greatest pains to understand them truly and explain them clearly.”

Sermon-Preparation-IcebergTerjemahannya kurang lebih demikian: “Membuat kesalahan dalam penafsiran salah satu drama Shakespeare, salah memindai sepotong ayat Spenserian, dan tidak mungkin menyebabkan adanya implikasi konsekuensi kekal; tapi kita tidak bisa dengan mudah menerima kelemahan serupa di dalam penafsiran Kitab Suci. Kita sedang berurusan dengan pikiran Allah: kita diwajibkan untuk mengambil rasa sakit terbesar untuk benar-benar memahaminya dan menjelaskannya dengan dengan jelas.”

Saya masih bersyukur ada beberapa pengkotbah yang mau bersusah-susah membaca beragam buku dan tafsiran serta membandingkannya, atau melakukan studi kata dan latar belakang kitab ketika mereka mempersiapkan kotbah mereka. Saya berharap pengkotbah-pengkotbah yang seperti demikian makin hari semakin banyak, meskipun beberapa yang saya temui nampaknya justru bertolak belakang. Saya pernah menemukan dua pengkotbah yang hanya menyalin tafsiran Alkitab sehari-harinya William Barclay dan kemudian menyampaikannya di mimbar. Saya juga mengenal beberapa pengkotbah senior yang sibuk mencari naskah kotbah di internet ketimbang menyiapkannya sendiri. Singkatnya, saya makin susah menemukan di sekeliling saya orang-orang yang seperti Aquinas, yang gelisah berhari-hari menggumulkan teks yang coba mereka pahami dan kotbahkan.

Jarang bukan berarti tidak ada! Untung, di sisi lain, ada pengkotbah-pengkotbah yang saya tahu masih mempersiapkan kotbahnya dengan tekun. Setidaknya saya masih berani mengategorikan beberapa pengkotbah di sekeliling saya, yang saya kenal dengan baik, ke dalam kelompok ini. Lagipula, toh ini dalam konteks yang saya tahu. Saya masih optimis ada pengkotbah-pengkotbah lain di luar sana yang “gelisah berhari-hari untuk menggumulkan teks yang mereka coba pahami dan kotbahkan.”

Akan tetapi, ini tidak selalu berarti juga bahwa para pengkotbah itu malas. Saya menemukan kerapkali beberapa pengkotbah bukan malas bergumul, tetapi tidak punya waktu bergumul. Dalam hal ini, saya rasa gereja sering menjadi pendosa terbesar hehehe. Beberapa gereja kerap memberi jadwal kotbah berlebihan kepada para hamba Tuhannya. Saya pernah mendengar majelis sebuah gereja mengeluh bahwa kotbah hamba Tuhannya tidak fresh dan tidak inspiratif. Saya bisa membenarkan keluhan itu hanya jika gereja memberikan cukup waktu bagi si hamba Tuhan untuk bergumul dengan teks yang mereka coba kotbahkan. Masalahnya, si hamba Tuhan harus berkotbah minimal 2-3 kali setiap minggunya. Itu berarti, si hamba Tuhan hanya diberi kesempatan sekitar 2 hari untuk mempersiapkan kotbahnya! Belum lagi berbagai tugas kantor dan kegerejaan lainnya (visitasi, memimpin ibadah, dsb).

Saya pun pernah mengalami hal yang demikian. Saya pernah harus berkotbah 7 kali dalam waktu 2 minggu maupun berkotbah dan mengajar sampai dengan 15 kali dalam sebulan! Tidak, saya tidak sedang mengeluh di sini. Saya menerima kesempatan-kesempatan itu sebagai tantangan. Oleh anugerah Tuhan, saya bisa melewati fase itu dengan baik. Namun, saya sadar tidak semua pengkotbah menerima anugerah yang sama. Karena itu, menurut saya gereja juga perlu lebih realistis memangkas acara-acara yang tidak lagi diperlukan. Seringkali gereja sibuk menambah acara namun lupa menambah personel, akibatnya personel yang ada ditekan habis-habisan bak romusha, dan ketika hasilnya tidak maksimal si romusha itu dimaki dan disalahkan. Jujur saja, pengalaman pelayanan membuat saya semakin yakin bahwa gereja yang serius dengan firman Tuhan seharusnya serius juga dalam memberi kesempatan pengkotbahnya bergumul dan mempersiapkan kotbahnya dengan baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s