Pencarian Kebenaran III: Bisakah Kita Percaya Alkitab?

Di artikel Pencarian Kebenaran episode 2, yang bisa dibaca disini, saya telah memaparkan secara singkat mengapa Allah Tritunggal adalah Allah yang bukan hanya saja paling sempurna dan paling masuk akal, tetapi juga yang benar dan harus ada. Akan tetapi, konsep Allah Tritunggal diambil dan dikonklusikan dari Alkitab. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita harus mempercayai Alkitab? Bukankah Alkitab ditulis oleh manusia-manusia yang hidup ribuan tahun lalu dan bukan oleh Allah sendiri? Tujuan dari artikel ini adalah untuk memaparkan secara singkat kebenaran Alkitab, sehingga jika Alkitab sudah bisa dilihat sebagai kebenaran, maka semua klaim kekristenan yang dikontraskan dengan agama-agama lain (e.g. keilahian Kristus, moralitas Kristen, dsb.) bisa divalidasi. Alkitab Kristen dapat dibagi menjadi 2 bagian (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), dan kedua bagian ini ditulis dan dikumpulkan di kurun waktu yang berbeda dan memiliki fokus yang sedikit berbeda juga.

119L12242_6CWTT

Mengapa Perjanjian Lama (PL) bisa dipercaya?

Perjanjian Lama merupakan kumpulan kitab-kitab Yahudi yang dipegang oleh bangsa Israel sebagai firman Allah. Alasan pertama mengapa PL bisa dipercaya adalah karena catatan-catatan di dalamnya diakui merupakan tulisan-tulisan nabi yang diilhamkan Allah sendiri dan divalidasi oleh komunitas di sekelilingnya. Sangat jelas bahwa, meskipun melalui jatuh bangun, komunitas Israel dapat membedakan mana nabi yang benar dan mana nabi yang palsu. Di dalam studi saya tentang kenabian di Israel kuno, saya menemukan bahwa ada beberapa indikasi yang menunjukkan seorang nabi adalah benar nabi Allah. Pertama dia harus secara eksplisit mengumumkan bahwa pesan yang dia sampaikan datang dari Allah (biasanya melalui kalimat ‘Allah berfirman’, atau ‘firman Allah datang kepada …’). Akan tetapi, seorang nabi palsu juga bisa mengatakan hal yang serupa, maka dari itu diperlukan indikasi yang lain. Indikasi kedua adalah bahwa perkataan nabi itu pasti akan terjadi (kecuali jika ada kondisionalitas, contoh: X akan terjadi jika kamu tidak melakukan Y). Biasanya indikasi yang kedua ini diikuti oleh suatu kejadian yang secara logis tidak akan mungkin terjadi; contoh: di 2 Raja-raja 20 Allah memberikan tanda melalui mundurnya bayangan di tangga Ahaz, yang menandakan bahwa matahari pun mundur, untuk memvalidasikan pesan nabi Yesaya. Ketiga, nabi itu benar jika pesan yang disampaikan konsisten dengan pesan nabi-nabi Allah sebelumnya dan dengan hukum Allah yang dipegang komunitas itu. Sangatlah unik jika semua nabi-nabi yang hidup di jaman yang berbeda di kurun waktu sekitar 1.000 tahun setuju dengan satu sama lain meskipun ditulis dengan tujuan dan di jaman yang berbeda.

Melalui penjelasan singkat diatas, sangat jelas bahwa tulisan-tulisan di PL disimpan dan diturunkan melalui otoritas yang ketat. Tidak sembarangan tulisan dapat masuk ke dalam PL. Meskipun ada banyak nabi-nabi palsu yang menyesatkan bangsa Israel selama sejarah, kenabian mereka tidak diakui dan pada akhirnya tidak dicatat di dalam PL sebagai firman Allah. Bahkan secara kolektif komunitas Yahudi dapat menentukan bahwa pesan Allah melalui nabi-nabi berakhir di abad 5 sebelum masehi, dan ini terbukti melalui catatan sejarahwan bernama Josephus yang mencatat bahwa bangsa Yahudi mengakui bahwa catatan firman Allah melalui nabi habis di jaman abad 5, bahkan di catatan sejarah Israel masa itu pun ditulis bahwa tidak ada lagi nabi Allah di jaman itu (1 Maccabees 9:27). Fakta bahwa otoritas PL disimpan dan diturunkan secara ketat menunjukkan bahwa PL bisa dipercaya.

Dead-Sea-ScrollsJika alasan pertama mengapa PL bisa dipercaya adalah karena ketatnya penulisan dan pengkategorian catatan-catatan di dalamnya, alasan kedua adalah karena ketatnya penyalinan catatan-catatan tersebut. Banyak orang yang mengkritik bahwa meskipun penulisan PL sangat ketat, sangat tidak mungkin untuk menyimpan dan menyalin PL selama ribuan tahun tanpa ada kecacatan, penambahan, atau pengurangan secara intensional ataupun tidak. Akan tetapi, bukti berkata lain. Memang, kita tidak memiliki tulisan asli PL karena tulisan tersebut telah ditulis di media yang gampang hancur sehingga diperlukan salinan untuk menjaga pesan tersebut. Akan tetapi kita harus mengingat bahwa salinan PL yang kita miliki sekarang sangat mirip antara satu dengan yang lain. Sampai penemuan Dead Sea Scrolls di tahun 1946, salinan PL tertua yang kita miliki bernama Masoratic Texts (MT) yang berasal dari sekitar tahun 900 AD. Meskipun begitu, Dead Sea Scrolls (DSS) berasal dari antara tahun 130 BC (sebelum masehi) sampai 68 AD (setelah masehi). Dengan membandingkan dua kumpulan dokumen (DSS dan MT) yang terpisah 1.000 tahun ini, kita dapat melihat bahwa kemiripan dan kesamaan pesan di dalamnya begitu mencengangkan, dan harus diakui ini adalah hasil proses penyalinan yang sangat ketat.

Josephus, sejarahwan Romawi yang berasal dari bangsa Yahudi, menulis bahwa orang-orang Yahudi memiliki buku-buku (PL) yang mencatat masa lalu yang dipercaya adalah inspirasi ilahi. Dan dia mencatat bahwa orang Yahudi memiliki perilaku yang berbeda terhadap dokumen-dokumen ini dari orang Yunani. Orang Yunani menyalin naskah literatur mereka secara tidak ketat. Orang Yahudi, kata Josephus, tidak pernah “menambahkan apapun, atau mengurangi apapun, atau mengganti apapun” dari dokumen-dokumen ini, karena mereka menganggap dokumen-dokumen tersebut adalah perkataan Allah sendiri.

Jadi, jika tulisan-tulisan di PL diinspirasikan oleh Allah, perkataan-perkataan di dalamnya benar dan telah terjadi, telah divalidasi oleh komunitas yang begitu ketat, dan disalin dengan proses yang begitu ketat pula, alasan apa lagi yang kita miliki untuk meragukan PL?

Mengapa Perjanjian Baru (PB) bisa dipercaya?

Perjanjian Baru menyetujui dan memvalidasi PL, dan menambahkan hal-hal baru yang mereka klaim merupakan insipirasi dari Allah yang sama. Apakah PB bisa dipercaya?

6a013488b5399e970c01bb07c03dd2970dPertama, sama seperti PL, meskipun PB dituliskan ribuan tahun yang lalu dan tulisan aslinya telah hilang atau hancur, ada ribuan salinan yang dapat memvalidasi satu sama lain. Ada sekitar 8.000 salinan PB di bahasa Latin, sekitar 1.000 di versi-versi kuno lain (Koptik Mesir, dll.), dan lebih dari 4.000 versi Yunani (bahasa asli). Dari salinan-salinan ini saja (ada ribuan salinan lain), kita memiliki sekitar 13.000 salinan PB yang bisa kita bandingkan satu sama lain dan bahkan para ahli telah menemukan bahwa perbedaan antara salinan itu sangat-sangat sedikit, dan di perbedaan itu pun tidak ada perbedaan teologi atau pesan yang siknifikan (biasanya hanya kesalahan ejaan). Salinan pecahan (tidak lengkap) yang tertua yang kita miliki berasal dari sekitar 30-35 tahun setelah dokumen asli ditulis, sedangkan salinan lengkap PB (codex) berasal dari sekitar 350 tahun setelah penulisan. Selain itu, dari kutipan-kutipan yang ditulis oleh bapak-bapak Gereja perdana saja kita dapat merekonstruksi ulang sebagian besar dari PB tanpa harus melihat ribuan salinan lain.

Di bandingkan dengan PB, banyak catatan-catatan sejarah lain yang memilki kredibilitas yang jauh lebih lemah. Catatan tentang Julius Caesar, contohnya, hanya memiliki sekitar 10 jumlah salinan dan salinan yang tertua yang kita miliki berasal dari sekitar 1.000 tahun setelah penulisan dokumen aslinya. Catatan Aristotle hanya memiliki sekitar 5 salinan dan salinan tertua berasal dari sekitar 1.400 tahun setelah dokumen asli. Jika kita menganggap semua dokumen ini sebagai dokumen historis yang bisa kita percaya, mengapa PB yang jauh lebih kredibel tidak kita percaya?

Kedua, banyak orang yang mengkritik, jika PB dituliskan sekitar 20-70 tahun setelah Yesus mati, bukankah cerita tentang Yesus bisa saja telah terdistorsi? Tidak. Kita harus mengingat bahwa komunitas kuno adalah komunitas yang erat kehidupan sosialnya, dan mereka adalah komunitas yang hidup dengan banyak tradisi oral. Karena tidak banyak orang yang kebiasaan menulis (apalagi menulis bahasa Yunani), orang-orang di jaman itu hidup dengan mengingat apapun, bahkan orang-orang Yahudi harus belajar tentang Taurat sampai mereka berumur 30 tahun dan harus mengingat banyak tulisan-tulisan PL. Sangatlah aneh jika suatu cerita yang mereka anggap sangat penting seperti kehidupan, kematian, dan kebangkitan Mesias mereka abaikan begitu saja. Proses penyaluran informasi di jaman itu adalah dari komunitas, melalui komunitas, dan kepada komunitas. Dokumen-dokumen PB dituliskan di tengah-tengah komunitas (yang sebagian besar hidup di jaman Yesus masih hidup) yang dapat memvalidasi apakah kejadian-kejadian yang dituliskan oleh penulis-penulis injil adalah benar, dan mereka membenarkan satu sama lain jika ada transmisi informasi yang terdistorsi. Itu alasan mengapa Gereja mengakui dokumen-dokumen yang masuk ke kanonisasi PB adalah dokumen-dokumen yang dituliskan oleh orang-orang yang memiliki akses langsung ke ajaran Yesus (contoh: murid-muridNya), atau orang-orang yang memiliki akses ke orang-orang tersebut.

Papyrus_Bodmer_VIIIKetiga, sehubungan dengan poin kedua, khususnya untuk keempat injil, dokumen-dokumen ini dituliskan dengan detail historis yang sangat jelas. Contoh, di Markus 4:38 dituliskan bahwa Yesus tidur di buritan di sebuah tilam (di atas kapal). Detail-detail seperti ini menunjukkan bahwa dokumen tersebut dituliskan dari perspektif historis saksi mata, dan hal ini menunjukkan bahwa saat menulis dokumen tersebut penulis sedang mengingat apa yang terjadi saat itu. Memang, tulisan fiktif jaman moderen juga mengandung detail-detail seperti itu, tetapi tidak di tulisan fiktif jaman tersebut. Di jaman penulisan PB, tulisan fiktif sama sekali tidak mengikut sertakan detail-detail yang mereka merasa tidak diperlukan.

Ada juga detail-detail yang berisikan nama tempat yang jelas, waktu, dan nama orang. Jika PB dituliskan 20-70 tahun setelah Yesus mati, banyak dari orang-orang yang dituliskan disana masih hidup untuk memvalidasi kebenaran yang dituliskan disana, apalagi jika klaim PB sangat-sangat melawan agama-agama yang trend di jaman itu. Bukankah dengan kondisi yang seperti itu publik akan sangat tergoda untuk men-diskredit apapun yang PB katakan? Dan bukan hanya itu, catatan-catatan PB banyak secara sengaja dan sadar membeberkan kecacatan moral pemimpin-pemimpin kekristenan mula-mula. Misal, Petrus dituliskan menyangkal Yesus tiga kali, Thomas dituliskan meragukan Yesus yang telah bangkit, dsb. Jika memang dokumen-dokumen ini dituliskan sebagai fiksi untuk menarik publik untuk percaya, bagaimana kita bisa menjelaskan tulisan yang jelas mendiskredit pemimpin-pemimpin mereka sendiri?

Keempat, sejarah sekuler di luar Alkitab pun memvalidasi sejarah yang tertulis di Alkitab. Misalnya, catatan bahwa Yesus disalib di jaman pemerintahan Pontius Pilatus dapat divalidasi oleh orang-orang yang hidup di jaman pemerintahan Pontius Pilatus, karena penyaliban adalah event publik. Seorang sejahrawan bernama Suetonius juga mengatakan bahwa ada keributan yang disebabkan oleh seseorang bernama ‘Chrestus’, yang merupakan pengejaan yang salah akan ‘Kristus’. Beberapa sejarahwan lain, seperti diantaranya Josephus dan Tacitus, juga mengkonfirmasi terjadinya event-event di PB.

Jadi?

Saya katakan lagi, jika memang Alkitab (PL dan PB) adalah dokumen yang bukan hanya terpercaya secara historis dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaran isi dan pesannya, tetapi juga merupakan pesan Allah sendiri, the-shadow-of-judasalasan apa lagi yang dapat kita miliki untuk tidak mempercayai Alkitab? Tidak ada alasan bagi para penulis Alkitab untuk menulis Alkitab jika memang Alkitab adalah fiktif. Kita dapat mengatakan bahwa buku-buku suci lain ditulis untuk memvalidasi penulis sebagai pemimpin agama, tetapi tidak dengan Alkitab (Alkitab malah membeberkan keburukan para pemimpin Kristen). Kita dapat mengatakan bahwa tulisan buku-buku suci lain tidak dapat dibuktikan secara historis, tetapi tidak demikian dengan Alkitab.

Sebagai penutup, saya akan memberikan dua posts yang menunjukkan sebagaimana tidak mungkinnya jika Alkitab adalah fiktif. Post yang pertama menjelaskan bahwa Kristen adalah satu-satunya agama yang dapat dipertanggung jawabkan secara historis, bisa dibaca disini. Post yang kedua memberikan parodi yang menceritakan bagaimana jika para penulis injil merencanakan tulisan mereka sebagai fiktif, bisa dibaca disini.

Soli Deo gloria

 

References:

Blomberg, Craig L. The Historical Reliability of the Gospels. Downers Grove: Inter-Varsity Press, 2007.

Keller, Timothy. The Reason for God: Belief in an Age of Skepticism. New York: Dutton, 2008.

McDowell, Josh. The New Evidence that Demands a Verdict. Thomas Nelson, 1999.

Advertisements

One thought on “Pencarian Kebenaran III: Bisakah Kita Percaya Alkitab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s