Violence Against Women in Old Testament

Di Indonesia kekerasan terhadap wanita seringkali terjadi.  Bisa dilihat banyak sekali kisah wanita yang diperkosa, dianiaya, bahkan dibunuh oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, bahkan oleh keluarganya sendiri, termasuk suami. Hal ini terjadi di depan mata kita dan mungkin masih akan terus terjadi jika ‘budaya’ yang menganggap ini adalah hal yang wajar tidak segera dihentikan.

Dasar pemikiran dari kekerasan yang terjadi adalah perempuan dianggap sebagai makhluk yang lebih rendah.  Perjanjian Lama banyak menyiratkan favoritisme kepada kaum lelaki dan kekerasan terhadap perempuan.  “Richard Dawkins mendeskripsikan misognysctic sebagai salah satu sifat Allah dalam Perjanjian Lama.”[1]

Hukum sosial dasar di Israel Kuno terletak pada hukum yang berlaku dalam keluarga, yaitu soal kepala di dalam keluarga. Diskriminasi terhadap perempuan sudah melekat pada budaya sosial bangsa Israel, namun hal ini tidak mengindikasikan adanya tindakan menaklukkan perempuan dan membebaskan kehendak laki-laki, melainkan bicara soal kebergantungan perempuan dan sebuah penggambaran yang lebih rendah daripada seorang laki-laki.[2]  Sifat kepemimpinan dalam keluaga bersifat patriarkhal, otoritas berada di tangan ayah dan status sosial yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.

Gambaran perempuan dalam Perjanjian Lama dapat disimpulkan seperti seseorang yang hampir tidak kelihatan peranannya.  Perempuan hanya terlihat dalam kebergantungannya pada laki-laki[3].  Hukum-hukum kebanyakan tidak ditujukan kepada perempuan secara langsung.  Hanya saat perempuan berperan sebagai ibu, perempuan tersebut bisa dilihat sama atau sejajar dengan laki-laki.[4] Bahkan, seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan “ba’al” majikan, atau “adon” tuan.[5]

 

PENCIPTAAN

Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.  Beberapa orang menghubungkan dengan otoritas laki-laki atas wanita, karena wanita diciptakan dari laki-laki.  Namun, Phllis A. Bird mengatakan :

“Perempuan merupakan kreasi Tuhan yang menggunakan tulang rusuk itu, bukan tulang rusuk yang membuat Hawa ada. Dalam hal ini jelas, laki-laki tidak punya andil apapun menciptakan perempuan.  Penekanan tulang rusuk disini adalah penekanan esensi dasar pria dan wanita –satu spesies dengan kelamin yang berbeda- yang tidak sama dengan hewan”[6]

Sejalan dengan apa yang dikatakan Bird, tulang rusuk disini juga penekanan terhadap relasi antara wanita dan pria[7], bukan andil laki-laki dalam menciptakan perempuan sehingga laki-laki punya otoritas atas perempuan.

Kemudian, perempuan diciptakan sebagai ‘penolong’ bagi laki-laki. Hal ini kelihatannya menunjukkan superioritas laki-laki, karena biasanya seorang penolong akan berada di bawah orang yang ditolong. Dalam bahasa aslinya, ezer, kata ini juga digunakan saat Musa memberi nama anaknya Eliezer karena “Allah Bapaku adalah penolongku” (Kel. 18:4), jadi bisa dikatakan ‘penolong’ tidak mutlak menggambarkan seseorang yang lebih rendah.[8]  Harus dilihat perkataan selanjutnya, “yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18).  Jika dikatakan yang sepadan, maka tidak bisa dikatakan bahwa ada superioritas disini, melainkan menggambarkan kesejajaran sebagai rekan, tulang dari tulang dan daging dari daging.[9]  Dalam penciptaan perempuan (Kej. 2) tidak ada tanda yang merujuk kepada pembedaan yang Tuhan berikan atas gambar Allah pada wanita dan pria, tidak ada perkataan bahwa pada wanita penggambaran Allah lebih sedikit, tidak ada istilah siapa mengepalai siapa.[10]

Pada saat kejatuhan manusia ke dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah rusak, demikian hubungan antara manusia dan manusia. Terlepas dari siapa yang bersalah, (kedua-duanya[11] -baik laki-laki dan perempuan- bersalah[12]) kejatuhan manusia atas dosa mungkin menjadi awal adanya budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan di Israel sebagai buah dari kejatuhan dosa.  Walaupun kelihatannya ada dominasi yang terjadi, di mata Allah, laki-laki dan perempuan tetap sejajar.  Perempuan-perempuan Israel memiliki hak-hak. Hak-hak mereka ini akan dijaga baik-baik oleh laki-laki yang berotoritas di atasnya (baik suami atau ayah), bagi perempuan-perempuan yang tidak memiliki sosok pemberi keamanan, seperti janda, Allah memberikan proteksi khusus kepada mereka.[13]

PERCERAIAN

Hukum di dalam Ulangan 24:1-4 menunjukkan otoritas seorang suami untuk berinisiatif menceraikan istrinya, walaupun tanpa santunan sedikitpun.[14]  Suami bebas menceraikan istri sesuka hatinya bahkan tanpa santunan, perempuan diperlakukan tidak adil oleh hukum, dipandang dengan rendah.  Hukum ini bukan memerintahkan seseorang untuk menceraikan istrinya, tapi menunjukkan bahwa perceraian diizinkan.[15]  Maksudnya, perceraian bukanlah jalan satu-satunya yang harus diambil, tapi jika memang harus bercerai, inilah yang harus dilakukan.

Dalam perikop ini, istri melakukan hal yang tidak disukai suaminya, perbuatan yang tidak senonoh (ay. 1), namun tidak dijelaskan secara spesifik apa yang dilakukan[16], tapi kemungkinan besar yang dilakukan ini bukan termasuk perzinahan karena hukuman[17] atas perzinahan adalah hukuman mati.[18]  Jika seorang suami ingin menceraikan istrinya, ia harus membuat surat cerai (ay.3). Surat cerai ini dimaksudkan untuk melindungi wanita dari kekerasan yang mungkin akan dilakukan oleh suaminya.[19]  Surat yang telah dibuat harus diserahkan langsung ke tangan istrinya (ay.1) dan diikuti kalimat “sends her out of his house” (RSV) yang mengimplikasikan bahwa laki-laki itu mengizinkan perempuan itu pergi tanpa adanya pemaksaan fisik.[20]  Perempuan ini boleh menikah lagi, namun jika kembali bercerai, ia tidak boleh menikah lagi dengan suami yang pertama. (ay.4) Jika hal ini dilakukan, maka perempuan ini akan terbukti melakukan perzinahan, karena ia hidup dengan seorang lelaki, kemudian bercerai, menikah lagi dengan lelaki yang lain, akhirnya kembali lagi pada lelaki yang pertama.[21] Selain itu hukum ini juga ditujukan agar perempuan tersebut tidak dijadikan bola yang dilempar dari sana kemari oleh pria-pria yang tidak bertanggungjawab.[22]

 

Pembelaan

Perjanjian Lama seolah-olah memperlihatkan kekerasan kepada kaum perempuan.  Dalam paper ini pada khususnya telah dibahas tentang kekerasan yang dilakukan oleh suami kepada istri dalam perceraian.  Sekilas, kelihatannya perikop ini seperti mendukung perbuatan semena-mena laki-laki terhadap perempuan.  Tetapi setelah ditelaah lebih dalam, telah dipaparkan bahwa hukum ini diberikan justru untuk melindungi perempuan.

Harus ditekankan disini bahwa Allah tidak pernah melakukan kekerasan kepada perempuan.  Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang mulia, sama seperti laki-laki, perempuan diciptakan serupa dengan gambar Allah.  Dari awal penciptaan, tidak ada yang lebih penting dan lebih disayang Tuhan, semua diciptakan dengan fungsinya masing-masing.  Allah tidak pernah memihak laki-laki atau perempuan, semuanya masuk ke dalam perjanjian yang Allah berikan.[23]  Allah mengasihi dengan cara yang sama, providensia Allah diberikan baik kepada laki-laki dan kepada perempuan.[24]  Masalahnya disini, banyak orang masa kini susah untuk percaya kepada kasih Allah, keadilan Allah, murka Allah dan ketidakadaan kontradiksi dalam kebenaran Allah.[25]  Hal inilah yang membuat banyak orang meragukan Allah, termasuk melihat Allah sebagai sosok yang melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Laki-laki dan perempuan bekerja sama merepresentasikan gambar Allah di tengah dunia, berkuasa atas dunia,  walaupun laki-laki membawa tanggungjawab besar sebagai kepala bagi perempuan (bdk.Mzm. 8:6-8).[26]  Laki-laki dan perempuan bekerja sama melakukan pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan untuk kemuliaan nama Tuhan.[27]

Sebenarnya, dalam Perjanjian Lama, perempuan tidak hanya muncul lebih banyak, tapi juga lebih memiliki peran dan lebih diperhitungkan daripada kitab-kitab lain di zaman itu.[28] Mary J. Evans dalam bukunya Woman in the Bible mengatakan:

jelas terlihat bahwa dominasi laki-laki tidak total, dari sesuatu yang setengah-setengah itu, tidak bisa dikatakan bahwa Allah berada di salah satu pihak dan hanya karena budaya tersebut berlaku di masyarakat saat ini, tidak bisa dikatakan bahwa budaya itu berasal dari Perjanjian Lama dan merupakan konsep, rancangan Allah.[29]

 

Sekalipun ada dominasi laki-laki, namun perempuan juga memiliki peran penting di luar istri dan ibu, yaitu sebagai seorang individu yang termasuk dalam komunitas perjanjian.[30]  Perempuan –sama dengan laki-laki- mendapatkan pembebasan dari perbudakan dari YHWH.[31] Baik laki-laki dan perempuan sama-sama berharga di dalam lingkungannya masing-masing. Keduanya menjaga keseimbangan, saling melengkapi untuk bersama-sama menjalankan mandat Allah di dunia.[32]

Bahkan, kalau kita mau melihat lebih dalam lagi, Perjanjian Lama banyak mengisahkan hubungan perempuan dengan Allah.[33]  Perempuan berperan aktif dalam pembentukan dan penyebaran iman Israel.  “Di tengah dominasi laki-laki yang begitu besar, iman Israel merupakan iman perempuan –dihargai, dipertahankan, dicontohkan oleh perempuan-“,walaupun seringkali dilakukan di ‘belakang panggung’[34]. Dalam perannya yang utama yaitu sebagai istri dan ibu, perempuan sering dijadikan metafora untuk menggambarkan hubungan Allah dan Israel.[35]  Selain itu di Perjanjian Lama juga banyak tercatat figur perempuan yang memimpin, seperti Debora, Ester.

 

APLIKASI

Otoritas laki-laki di atas perempuan memang bukanlah hal yang asing lagi.  Hal ini tidak hanya berlaku di Israel, tapi juga berlaku di tempat-tempat lain, termasuk Indonesia.  Laki-laki adalah kepala rumah tangga, yeng memiliki otoritas penuh atas istri, anak dan semua orang yang tinggal di dalamnya.  Namun, bukan berarti otoritas ini bisa digunakan seenaknya.  Otoritas laki-laki atas perempuan bukanlah privilege, tetapi sebuah tanggung jawab yang Allah berikan.  Sama dengan tanggung jawab perempuan untuk menjadi seorang istri dan menjadi penolong bagi suami, suami juga punya tanggung jawab sebagai kepala dalam keluarga, bagi istrinya, suami seharusnya memberi keamanan, perlindungan dan mengasihi.[36]

Kekerasan yang terjadi pada perempuan dalam Perjanjian Lama tidak menunjukkan bahwa Allah pilih kasih, tindakan yang seolah tidak adil ini harus ditelaah dulu latar belakangnya dan bagaimana budaya zaman itu, untuk melihat apakah memang itu adalah kekerasan atau tidak.  Banyak bukti menjelaskan bahwa apa yang Allah lakukan dalam Perjanjian Lama yang kelihatannya melegalkan kekerasan dilakukan terhadap wanita, merupakan cara Allah untuk melindungi perempuan.  Sayangnya, banyak orang salah menginterpretasikan tanpa melihat konteks yang ada saat itu, dan memakai ayat-ayat tersebut untuk melakukan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan.

 

[1] Paul Copan, Is God a Moral Monster? (Grand Rapids: BakerBooks, 2011) 101.

[2] Ibid. 23.

[3] Sejak kecil, sosok wanita akan berada di bawah otoritas laki-laki (ayah, suami atau saudara laki-laki), kecuali seorang janda dianggap sebagai orang merdeka [Mary J. Evans, Woman in  the Bible (Downers Grove: Intervarsity, 1983) 24].

[4] Bird, Missing Persons 30.

[5] King dan Stager, Kehidupan Israel  65.

[6] Bird, Missing Persons 48.

[7] Evans, Woman Bible 15.

[8] Ruth A. Tucker, Woman in the Maze (Downers Grove: Intervarsity, 1992) 37.

[9] Evans, Woman Bible 17.

[10] Ibid.

[11] Memang Hawa yang pertama kali memakan buah itu, tapi Adam juga memakannya. Menyalahkan Hawa saja dalam hal ini, seperti yang dikatakan oleh banyak bapak-bapak gereja merupakan penyimpangan Kitab Suci dan diskriminasi terhadap wanita. Hawa bertanggungjawab atas kejatuhan dosa, tetapi hanya sebagai rekan kriminal bersama Abraham. (Tucker, Woman Maze  44)

[12] Tucker, Woman Maze  46

[13] Evans, Woman Bible 26.

[14] King dan Stager, Kehidupan Israel  65.

[15] Christopher J. H. Wright,  Deuteronomy  (Understanding the Bible Commentary Series; Grand Rapids: BakerBooks, 1996) 255.

[16] Wright, Deuteronomy  255.

[17] Zinah berada dalam kategori yang berbeda dengan seks di luar nikah. Hukum ke-7 melarang orang yang sudah menikah melakukan hubungan seks dengan pasangannya, baik laki-laki maupun perempuan dengan ancaman hukuman mati. (King dan Stager, Kehidupan Israel  68)

[18] Duane L. Christensen, Deuteronomy 21:10-34:12 (WBC;  Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2002) 566.

[19] Peter C. Craigie, The Book of Deuteronomy  (NICOT;  Grand Rapids: Eerdmans, 1976) 305.

[20] Robert G. Bratcher and Howard A. Hatton, Deuteronomy  (UBS Handbook;  New York: United Bible Societies, 2000) 394.

[21] Craigie, The Book 305.

[22] Wright, Deuteronomy 255.

[23] Evans, Woman Bible 32.

[24] D. A. Carson, The Difficult Doctrine of the Love of God (Wheaton: Crossway, 2000)22.

[25] Ibid. 12.

[26] Jones, God, Marriage  33.

[27] Ibid. 34.

[28] Bird, Missing Persons 14.

[29] Ibid. 32.

[30] Ibid. 131.

[31] Bird, Missing Persons 73.

[32] Scanzoni  and Hardesty, All We’re 14.

[33] Evans, Woman Bible 32.

[34] Bird, Missing Persons 65.

[35] Bdk. Hos. 1-3 (King dan Stager, Kehidupan Israel  56).

[36] Bdk. Ef. 5:25

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s