Kapan Saya harus Mengundurkan Diri?

resign

Dalam beberapa bulan belakangan ini, saya bertemu dengan beberapa rekan hamba Tuhan yang baru saja memulai pelayanannya di tempat yang baru atau berpikir hendak meninggalkan tempat pelayanan mereka yang lama dan pergi ke ladang yang baru. Satu pertanyaan yang kemudian saya tanyakan kepada mereka ialah perihal alasan mereka mengambil keputusan tersebut. Tentu saja ada beragam alasan yang disampaikan rekan-rekan tersebut, meskipun ada satu dua di antaranya yang belum bisa saya pahami.

Kapankah sebenarnya kita harus meninggalkan tempat pelayanan kita? Sebelum menjawab pertanyaan ini kita harus menyadari bahwa perpindahan ladang pelayanan merupakan hal yang wajar dalam dunia pelayanan Kristiani. Meski demikian, saya tidak menyarankan hal ini sering kita lakukan. Setidaknya ada dua hal yang mendasari pemikiran ini.

Pertama, perpindahan tempat pelayanan yang terlalu sering menunjukkan bahwa kita merupakan pribadi yang tidak punya daya tahan, daya adaptasi, dan loyalitas yang baik. Hal ini tentu akan menjadi catatan buruk yang pasti berimbas pada pelayanan kita ke depan. Sama seperti perusahaan biasanya enggan menerima pegawai yang tidak memiliki daya tahan dan loyalitas, dalam dunia pelayanan pun ketiadaan daya tahan dan loyalitas akan mengganggu kesempatan pelayanan kita. Saya pernah menemui kasus seorang hamba Tuhan yang ditolak oleh sebuah gereja karena ia pindah tempat pelayanan sebanyak 4 kali dalam kurun waktu 3 tahun.

Kedua, perpindahan tempat pelayanan yang terlalu sering juga membuat kita tidak bisa bertumbuh dengan baik. Mami saya pernah mengajar saya demikian: “sebuah tanaman yang terus dipindah, lama-lama pasti mati.” Meskipun mami saya berbicara dalam konteks kehidupan jemaat yang suka berpindah-pindah gereja, namun menurut saya ilustrasi ini juga pas untuk kita hamba-hamba Tuhan. Sadarkah kita bahwa kedewasaan kita banyak dibentuk melalui interaksi yang mendalam dengan hidup dan pergumulan jemaat? Namun, bagaimana ada interaksi yang mendalam dengan mereka bila kita hanya ada enam atau tujuh bulan di sana? Sadarkah kita kreativitas kita dalam kotbah, misalnya, juga dibentuk melalui pelayanan di sebuah tempat untuk kurun waktu yang lama? Pelayanan di sebuah tempat untuk kurun waktu yang lama pasti akan menantang kita menghasilkan kotbah yang “fresh,” sebab mungkin saja jemaat masih bisa mengenali kotbah atau ilustrasi yang kita gunakan beberapa tahun lalu.

348bd8bKembali ke pertanyaan awal, kapan kita harus meninggalkan tempat pelayanan kita? Meskipun tidak komprehensif, namun ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita pertimbangkan.

  1. Hal yang pertama dan utama yang perlu kita pertimbangkan ialah apakah perpindahan itu merupakan kehendak Tuhan. Jangan meninggalkan tempat pelayanan kita sekarang hanya karena sakit hati dengan kritikan dua tiga orang jemaat kita atau karena gereja lain menawarkan tunjangan dan fasilitas yang lebih mewah. Berjalanlah karena kita tahu Tiang Awan sedang menuntun kita ke sana. Hal ini memang terlihat subyektif, namun tidak demikian bagi orang yang benar-benar peka dengan tuntunan Tuhan.
  2. Pindahlah ketika kredibilitas kita sebagai hamba Tuhan diragukan. Tujuan kita ada di sebuah institusi Kristen ialah mengajar jemaat untuk menjadi seperti Kristus. Nah, bila mereka sudah meragukan keseluruhan kredibilitas kita sebagai hamba Tuhan, itu berarti sinyal bahwa kita harus meninggalkan tempat tersebut. Kita tidak mungkin bisa mengajar jemaat kita hidup seperti Kristus bila mereka sendiri tidak melihat Kristus di dalam kita.
  3. Kita perlu pergi dari tempat kita sekarang melayani bila kita berkonflik dengan jemaat atau rekan lain, dan konflik itu menjadi konflik yang tidak terselesaikan. Konflik memang merupakan hal yang tidak terhindakan dalam relasi antar manusia yang berdosa, termasuk antar manusia berdosa yang ada di dalam institusi Kristiani. Hugh Halverstaadt berpendapat bahwa konflik demikian seharusnya bisa dikelola untuk menjadi kekuatan gereja (kalau mau tahu pandangannya, baca sendiri bukunya “Mengelola Konflik Gereja” hehehe). Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam banyak kasus, konflik-konflik tersebut tidak terselesaikan. Nah, bila hal demikian menimpa kita, itu artinya kita perlu meninggalkan tempat pelayanan kita sekarang. Tidak usah bingung siapa yang salah, siapa yang benar. Konflik tidak berujung tidak akan pernah memberi pengaruh positif bagi (jemaat) tempat kita melayani. Karena itu, bila dengan kepergian kita, kita bisa membuat situasi sedikit lebih membaik (karena lawan konfliknya hilang), jangan ragu mengambil pilihan untuk pergi.
  4. Selain itu, kita perlu pergi ketika pelayanan telah menawan kita dari keluarga kita. Ingatlah bahwa melayani pekerjaan Tuhan tidak selalu sama dengan melayani Tuhan. Menjadikan Tuhan sebagai prioritas juga tidak selalu sama dengan menjadikan pelayanan sebagai prioritas. Dalam hal ini, kita perlu memperjelas urutan prioritas kita: Tuhan, keluarga, dan sesudah itu baru, pelayanan. Ketika tempat pelayanan telah menuntut kita mengubah urutan prioritas kita, entah dengan mengambil posisi keluarga atau bahkan dalam beberapa kasus mengambil posisi Tuhan, maka itu pertanda kita harus meninggalkan tempat pelayanan tersebut. Meski demikian, ini tidak berarti pula kita kerap meninggalkan tugas pelayanan demi keluarga. Kita perlu memiliki sikap yang seimbang, sehingga tidak menjadi sandungan bagi tempat pelayanan karena kita sibuk menjadi hamba Tuhan “Ternak Teri” (Anter Anak, Anter Istri) hehehe (Saya mengetahui istilah ini dari mantan gembala saya, Pdt. Sia Kok Sin).
  5. Ketika kita telah kehilangan visi untuk tempat yang kita layani saat ini, bisa jadi itu juga merupakan penanda kita perlu meninggalkan tempat tersebut. Konkritnya begini: ketika kita tidak lagi tahu apa yang harus kita kerjakan untuk komunitas yang kita layani saat ini, sehingga semua berjalan sekadar sebagai rutinitas belaka, bisa jadi itu pertanda bahwa tempat kita bukan lagi di sana. Atau, bila tidak ada lagi pertumbuhan kuantitas dan kualitas yang berarti atas komunitas yang Anda layani, maupun hilangnya kejutan-kejutan rohani yang seringkali kita dapatkan, berarti kita perlu mulai memikirkan masak-masak kemungkinan untuk pergi.
  6. Kondisi yang tidak kondusif juga bisa menjadi pertanda kita perlu meninggalkan tempat pelayanan kita. Dalam kasus ini, kita memang tidak boleh terburu-buru pergi. Kita harus membuka kemungkinan bahwa Tuhan ingin memakai kita menjadi agen perubahan atas institusi yang kita layani. Akan tetapi, ketika keadaan makin tidak kondusif: ketika kita tidak lagi dihargai, usul-usul kita selalu ditentang, dan akibatnya kita tidak bisa membawa perbaikan berarti untuk keadaan yang tidak kondusif tersebut, kita mungkin perlu mulai menulis surat pengunduran diri.
  7. Tidak semua orang mungkin sepakat dengan poin ini, namun ketika kita sudah terlalu diidolakan oleh komunitas yang kita layani, ada baiknya kita pergi. Tugas kita, sekali lagi, ialah membuat orang-orang yang kita layani berfokus pada Kristus. Namun, ketika komunitas yang kita layani sudah sedemikian mendewakan kita sehingga kita menghalangi mereka berfokus pada Kristus, berarti kita sudah gagal, dan itu saatnya kita untuk pergi. Saya sering bergurau, bila kita terlalu menikmati pengultusan jemaat, lama kelamaan komunitas kita akan menjadi komunitas “Caturnitarian” dan bukan Trinitarian, sebab perlahan-lahan kita menjadi “Allah Cucu,” pribadi keempat dari Allah hehehe 🙂
  8. Pergilah ketika kita tidak lagi sevisi dengan tempat kita melayani. Aspek tidak sevisi ini pengertiannya luas, mulai dari ketidaksejalanan panggilan kita dengan tujuan gereja sampai dengan perbedaan soal keyakinan teologis. Saya salut dengan kisah seorang rekan hamba Tuhan yang mengundurkan diri dari gereja yang dia layani, yang notabene beraliran Reformed, karena ia merasa ia telah “berubah haluan” menjadi seorang Karismatik-Arminian. Bila yang terjadi sebaliknya, institusi yang kita layani tiba-tiba mengubah pengakuan imannya menjadi berbeda dengan kita, berarti kita perlu mengikuti jejak rekan hamba Tuhan yang saya sebut tadi.
  9. Terakhir, bila pemimpin-pemimpin tertinggi (sinode) menginginkan kita pergi, maka pergilah. Beberapa sinode memiliki kebijakan rotasi setiap sekian tahun atau rotasi dalam kasus-kasus tertentu. Meskipun kita merasa nyaman dengan tempat yang kita layani saat ini, tetapi bila pemimpin menginginkan kita pergi, maka belajarlah taat.

By the way, pertimbangan-pertimbangan di atas tadi – sekali lagi – tidak komprehensif. Rekans tentu bisa menambahkan sendiri pertimbangan-pertimbangan lain. Tetapi, bila salah satu atau lebih dari hal-hal yang saya sebut di atas terjadi pada kita, nampaknya kita memang perlu serius menggumulkan kemungkinan meninggalkan tempat pelayanan kita saat ini. Meski demikian, sekali lagi, jangan jadikan pindah pelayanan sebagai kebiasaan. Sebisa mungkin belajarlah setia di tempat Tuhan meletakkan kita sekarang. Selamat bergumul!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s