Perlukah Saya Studi Teologi di Luar Negeri?

Makin hari saya melihat nampaknya makin banyak orang Indonesia yang berlomba melanjutkan studi di luar negeri. Tentu saja ada beragam alasan yang melatarbelakangi upaya tersebut, salah satunya ialah untuk menaikkan nilai diri dan nilai jual seseorang. Hal ini nampak diaminkan oleh fakta lapangan bahwa masyarakat dan pasar memang cenderung memberi nilai lebih kepada lulusan luar negeri, baik dalam aspek prestise maupun ekonomi.

Di kalangan teologi pun, kecenderungan demikian juga tak terelakkan. Banyak jemaat cenderung lebih kagum dan “tunduk” pada hamba-hamba Tuhan yang memiliki titel akademis dari sekolah teologi atau universitas luar negeri dibanding mereka yang memiliki gelar lokal. Hamba-hamba Tuhan “produk luar” pun cenderung lebih diminati “pasar” dibanding hamba-hamba Tuhan “produk lokal.” Hal ini lantas menyebabkan beberapa rekan mati-matian berupaya melanjutkan studi di luar negeri atau, bila tidak bisa, setidaknya “terlihat” studi di luar negeri. (Saya pernah menemukan sebuah kasus yang menurut saya sangat konyol. Seorang rekan yang menyelesaikan studinya di sebuah seminari di Indonesia selalu menuliskan gelarnya ‘Th.M’ – penulisan gelar Magister Teologi a la luar negeri, khususnya Amerika – dan bukan ‘M.Th.’ Jujur hingga kini saya tidak habis pikir dengan tindakan rekan ini).

Tentu saja saya tidak sedang berupaya menentang rekan-rekan yang rindu melanjutkan studi teologi di luar negeri. Saya justru sangat senang bila dihasilkan banyak orang hebat yang nantinya bisa berdampak untuk perkembangan Kerajaan Allah. Di sini, saya sedang mencoba mengajak rekan-rekan yang ingin melanjutkan studi di luar negeri untuk berpikir mendalam sebelum mengambil keputusan studi di luar negeri. Saya ingin menuliskan hal ini sebab belakangan cukup banyak rekan yang bertanya kepada saya mengenai kemungkinan studi di luar negeri.

huh_answer_103_xlargeMenurut saya, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan baik-baik sebelum kita memutuskan melanjutkan studi di luar negeri.

  1. Kemuliaan Tuhan atau Pemuasan Ambisi. Sebagai seorang Kristen, pikirkan secara mendalam apakah kerinduan kita melanjutkan studi hanya sekadar untuk meningkatkan prestise dan nilai jual kita, ataukah untuk kemuliaan Tuhan? Jujur saja, saya pernah terjebak dalam hal kesalahan fatal ini. Beruntung Tuhan berbaik hati memproses saya. Penolakan demi penolakan yang saya alami di tahun pertama pendaftaran membuat saya tidak lagi bernafsu untuk studi teologi di luar negeri. Ndilalah, di saat saya tidak lagi menginginkannya, ternyata Tuhan malah memberikannya.
  2. Keluarga. Bagi rekan yang belum menikah pikirkan apakah keputusan studi di luar negeri dan berpisah dengan keluarga selama beberapa tahun merupakan keputusan yang tepat? Bagi yang sudah menikah, pikirkan apakah pasangan dan anak rekan bisa mendukung perjalanan studi rekan? Bila keluarga akan menyertai studi rekan, pikirkan apakah mereka bisa beradaptasi dengan baik? Bila rekan pergi studi sendiri, apakah rekan dan keluarga mampu untuk berpisah selama beberapa waktu lamanya. Poinnya, jangan korbankan keluarga demi ‘ambisi’ rekan. Sadarilah bahwa keluarga jauh lebih bernilai daripada selembar kertas yang menyatakan bahwa kita memiliki gelar Master dari Princeton Seminary atau bahkan PhD dari Universitas Cambridge sekalipun.
  3. Prospek Pelayanan. Bila ke depan rekan berencana melayani di Indonesia, ada baiknya rekan mempertimbangkan seminari di negeri sendiri. Selain karena kesempatan berkembang lebih luas (karena kebutuhan tenaga hamba Tuhan sangat besar), studi di dalam negeri akan membantu kita menghasilkan pola pikir yang lebih kontekstual. Masalah yang kerap ditemukan pada beberapa orang yang studi di luar ialah unggul dalam teori tetapi kesulitan dalam aplikasi dan implementasi.
  4. Panggilan dan Efektivitas Pelayanan. Pikirkan dengan jujur apakah studi di luar negeri benar-benar akan membuat pelayanan rekan menjadi lebih efektif atau malah tidak akan berdampak signifikan bagi pelayanan rekan? Misalnya, bila rekan hanya akan begerak di bidang penggembalaan, coba pikirkan apakah mengambil program D.Min di luar negeri akan jauh lebih menolong pelayanan rekan dibanding mengambil D.Th bidang penggembalaan di Indonesia? Ataukah, M.Th dari sekolah di luar negeri pasti membuat pelayanan rekan lebih efektif dibanding M.Th dari seminari di Indonesia?
  5. Program Studi. Secara umum, saya menyarankan rekan-rekan untuk menyelesaikan basic degree (entah S.Th atau M.Div) di Indonesia. Studi di luar negeri lebih baik diambil pada aras graduate atau post-graduate degree. Perlu rekan ketahui bahwa kualitas basic degree di Indonesisa sebenarnya tidak kalah bagus dibanding program basic degree di luar negeri.
    Beberapa rekan yang saya kenal memang mendapatkan basic theological degree mereka di luar negeri. Saya bisa memahami keputusan mereka sebab ada di antara mereka yang cukup lama tinggal di luar negeri untuk studi sehingga penguasaan bahasa Indonesia mereka tidak terlalu baik; ada pula yang lama tinggal di luar negeri dan ke depan memang berencana melayani di luar negeri. Jadi, kecuali ada pertimbangan khusus, saya tidak terlalu menganjurkan rekan mengambil basic degree di luar negeri.
    Menariknya beberapa sekolah teologi di luar negeri ternyata juga mulai menerapkan kebijakan membatasi penerimaan mahasiswa internasional dalam aras basic degree. Kecuali ada pertimbangan khusus, beberapa sekolah ini kini cenderung menyarankan mahasiswa internasional untuk menyelesaikan basic degree di negara asal mereka.
  6. Minat Studi. Dalam aras gelar lanjutan pun, kita tidak perlu terlalu cepat melirik sekolah di luar negeri. Kita harus berbangga karena makin hari makin banyak seminari di Indonesia yang memliki program studi yang baik. Bila rekans ingin memperdalam bidang teologi sistematika atau historika misalnya, rekan bisa mempertimbangkan STT Jakarta (prodi M.Th dan D.Th), STT Reformed Indonesia (Jakarta; prodi M.Th), atau STT SAAT (Malang; prodi M.Th). Bila rekan ingin menekuni studi Perjanjian Lama, Universitas Kristen Duta Wacana (Yogyakarta; prodi M.Th dan D.Th) atau STT Cipanas (prodi M.Th dan D.Th) nampaknya merupakan pilihan yang baik. Bila rekans ingin mendalami studi Perjanjian Baru, STT Jakarta (prodi M.Th dan D.Th) dan STT Amanat Agung (Jakarta; prodi M.Th) memiliki beberapa sarjana Perjanjian Baru yang diperhitungkan. Atau bila rekan ingin mendalami studi praktis dan penggembalaan, rekan bisa mencoba mendaftar di STT Aletheia (Lawang; prodi M.Th), STT Jaffray (Jakarta/Makasar; prodi M.Th dan D.Th), atau STT Tiranus (Bandung; prodi M.Th dan D.Th). Tentu saja masih banyak seminari bagus lainnya di Indonesia. Namun nama-nama ini sudah lebih dari cukup untuk mengingatkan kita agar tidak terburu-buru melirik sekolah-sekolah di luar negeri.
    Selain itu, kecuali minat studi rekan belum terakomodasi atau ada seorang tokoh khusus yang ingin rekan kejar sebagai supervisor, pikirkan baik-baik untuk mendaftar di sekolah-sekolah teologi di negeri sendiri.
  7. Biaya. Sudah menjadi rahasia umum bila studi di luar negeri memakan biaya yang amat besar. Bila kita ingin melanjutkan studi di luar negeri maka aspek ini perlu kita pikirkan dengan serius. Jangan memaksakan diri bila tidak ada dana untuk melanjutkan studi di luar. Meminjam bahasa Markus Bockmuehl sewaktu memberikan ceramah di kampus saya, “Jangan berhutang demi memuaskan ambisimu.”
    Bagaimana dengan beasiswa? Walau umumnya beasiswa lebih banyak dikucurkan untuk program doktoral, beberapa sekolah memang menyediakan juga beasiswa untuk program master. Tentu saja, kita patut mencoba mengejar beasiswa tersebut, namun kita perlu ingat bahwa (1) biasanya kita masih perlu menambah biaya yang cukup besar untuk beberapa hal; (2) persaingan untuk mendapatkan beasiswa sangat ketat, sehingga kita harus siap menghadapi penolakan dan menyiapkan sumber dana lain.
  8. Kesehatan dan Adaptasi. Apakah rekan tipikal seseorang yang mudah beradaptasi dengan suasana baru? Ataukah rekan merupakan pribadi yang mudah mengalami homesick (seperti saya hehehe)? Apakah kesehatan rekan mendukung rekan studi di luar negeri? Penting diingat bahwa biaya asuransi dan kesehatan di luar negeri sangat besar. Beberapa waktu lalu, saya sampai belain pulang ke Indonesia karena ada masalah dengan gigi saya. Biaya pemeriksaan di sini ternyata jauh lebih mahal dibanding biaya tiket pulang pergi kami sekeluarga.
  9. Kemampuan Bahasa. Bahasa sebenarnya merupakan kemampuan yang bisa dipelajari dan dikuasai seiring dengan berjalannya dengan waktu. Meski demikian beberapa sekolah mensyaratkan standar minimal penguasaan bahasa untuk pendaftaran. Untuk kemampuan bahasa Inggris pada program master, biasanya beberapa sekolah mensyaratkan skor TOEFL sekitar 80 sampai 96 (atau 6.5 sampai 7 untuk IELTS), sementara untuk program doktoral biasanya di atas 100 (atau 7 ke atas untuk IELTS). Untuk program doktoral, mayoritas sekolah juga meminta kita memiliki kemampuan membaca bahasa Jerman dan Prancis/Belanda/Spanyol/Latin selama studi (beberapa bahkan menjadikannya prasyarat pendaftaran). Nah, bila rekan bukan pribadi yang suka bergelut dengan bahasa, rekan perlu berpikir serius soal studi di luar negeri.

Selain sembilan poin ini, tentu rekan bisa mempertimbangkan hal-hal lain sebelum mengambil keputusan melanjutkan studi di luar negeri. Yang ingin saya tekankan di sini ialah agar rekan mengambil keputusan tersebut dengan matang dan dewasa; bukan untuk ambisi semata namun demi kemuliaan Tuhan dan efektivitas pelayanan. “Percayalah bila memang Tuhan pandang kita perlu studi di luar negeri, Ia akan mengirim kita ke luar negeri bagaimanapun caranya (YTH).”

Advertisements

4 thoughts on “Perlukah Saya Studi Teologi di Luar Negeri?

  1. Halo pak Stefanus
    Saya seorang ex-seminarian yang berencana studi lanjut ke luar negeri. Artikel bapak di atas amat memberkati, memperingatkan, juga menguatkan rencana saya, sebab panggilan dan prospek pelayanan sy ke depan bukan di Indonesia, sehingga studi dalam negeri saya rasakan kurang kontekstual dengan apa yang saya butuhkan.
    Bolehkah pak Stefanus membagikan pengalaman bpk, bagaimana prosesnya sampai bisa studi ke luar? link beasiswa, bahkan mungkin hingga proses pengurusan visa? . karena saya masih kabur dengan hal2 demikian, maklum udik. hehehe.
    Terima kasih banyak pak. God bless.

    Like

    1. Halo Pak Joy. Senang mendengar kerinduan Pak Joy. Saya mendapatkan beasiswa dari sebuah lembaga beasiswa, hanya saja sekarang ini lembaga tersebut mulai membatasi kucuran dana beasiswanya. Aplikasi beasiswa beberapa rekan belakangan ini rata-rata ditolak oleh mereka karena keterbatasan dana. Mungkin bisa dipikirkan beasiswa internal dari sekolah yang hendak dituju (sayangnya secara umum hanya tersedia untuk program doktoral) atau juga bantuan dana dari lembaga dalam negeri (ada gereja pengutus, dsb). Pemerintah Indonesia juga menyediakan dana beasiswa LPDP yang jumlahnya termasuk sangat besar, hanya syaratnya sekolah yang hendak kita tuju harus masuk dalam daftar sekolah rekomendasi pemerintah dan setelah studi harus bersedia kembali dan berkarya di Indonesia. Saran saya bisa dipikirkan studi di seminari dalam negeri dulu. Saya rasa kualitas basic degree di seminari Indonesia sudah cukup baik dan bisa mempersiapkan kita pelayanan di manapun. Blessings 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s