Easter atau Passover?

Sekitar delapan atau sembilan tahun yang lalu, saya mendengar – untuk pertama kalinya – seorang pengkotbah menyatakan bahwa orang Kristen tidak seharusnya mengucapkan “Happy Easter” dalam perayaan Paskah mereka. Alasannya, dia menjelaskan, kata Easter berasal dari nama seorang dewi kafir kuno, Ishtar. Dia lantas menyatakan bahwa seorang Kristen seharusnya mengucapkan “Happy Passover,” karena di Alkitab, Paskah selalu diterjemahkan Passover, bukan Easter. Nah, tadi siang, saya kembali menerima broadcast message yang isinya hampir serupa. Intinya, pesan itu menyatakan bahwa Easter merupakan perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Oleh karena itu, tidak seharusnya orang Kristen mengucapkan “Happy Easter,” sebab ketika seorang Kristen mengucapkan “Happy Easter,” mereka sedang merayakan kebangkitan Tamus, bukan kebangkitan Kristus.

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik masuk dalam perdebatan ini. Namun, demikian ada beberapa hal yang hendak saya goreskan di sini:

Pertama, ucapan standar untuk selamat Paskah bagi orang Kristen dalam bahasa Inggris ialah Happy Easter, bukan Happy Passover. Jadi, kecuali Anda memang hendak menabrak aturan, lebih baik gunakanlah istilah yang standar.

Kedua, kita harus menyadari bahwa Paskah yang dicatat di dalam Alkitab berbeda dengan Paskah yang kita rayakan hari ini. Paskah di dalam Alkitab – yang diterjemahkan Passover – sebenarnya merujuk pada Paskah yang dirayakan orang Yahudi, yakni sebuah peringatan atas karya Tuhan yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Nah, bila kita konsisten, maka orang-orang yang mengucapkan “Happy Passover” sebenarnya sedang merayakan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, bukan merayakan kebangkitan Kristus!

Ketiga, apakah mungkin bahwa istilah Easter berasal dari istilah dan perayaan kafir? Sangat mungkin. Bellejar menyatakan bahwa hampir semua sarjana meyakini istilah Easter berasal dari nama seorang dewi pagan Jerman, Esotre atau Ostara.  Bila demikian, apakah berarti menggunakan istilah Easter merupakan tindakan yang salah? Di sini kita harus ingat bahwa ketika gereja melakukan kontekstualisasi, dengan mengadopsi suatu istilah atau perayaan kafir kuno, biasanya gereja menanamkan konten baru terhadapnya. Karena itu, ketika hari ini kita sedang berbicara tentang istilah atau perayaan tersebut, maka konten inilah yang perlu diperhatikan, bukan konten lama yang telah dihapus gereja.

Keempat, di sini kita juga diingatkan pentingnya memahami tujuan pembicara, dan tidak melulu terjebak pada perdebatan istilah yang kerapkali tidak berfaedah. Ketika saya mengucapkan Happy Easter tentu saya tidak sedang mengajak Anda mengulang perayaan dewi kafir kuno tersebut. Demikian pula, saya tidak akan berpikir orang Kristen yang mengucapkan Happy Passover pada saya sedang mengajak saya merayakan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir.

Kelima, yang paling penting, debat Easter dan Passover ini sebenarnya bukan debat yang penting bagi kita orang-orang yang berbahasa Indonesia. Meminjam bahasa kritiknya orang-orang Pascakolonial: Ini bukan perang kita, ini perang orang lain (yang berbahasa Inggris)! Karena itu, daripada sok keminggris dan ribut dengan perdebatan istilah yang sebenarnya tidak terlalu terkait dengan kita, kenapa kita tidak menggunakan ungkapan dalam bahasa Indonesia saja?

Selamat Paskah! Kiranya Kristus yang bangkit itu memberkati kita semua!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s