Quo Vadis?: Berjalan dalam Ketidakpastian

Tulisan kali ini digoreskan oleh penulis tamu yang tidak ingin diketahui identitasnya. Jadi, mari sebut saja dia, Dulce Maria.  Dulce Maria adalah seorang sahabat yang saya kenal dan di dalam tulisan ini, dia hendak menceritakan pengalamannya ada dalam ketidakpastian hidup. Keadaan tersebut menggelisahkan, namun pada akhirnya membawa dia untuk bersandar pada Lengan yang Kekal itu. Silakan dibaca dan semoga bisa memberkati! Blessings.

**********

Secara umum, fase dalam hidup dapat dibagi-bagi dalam beberapa bagian: (1) masa kanak-kanak hingga remaja yang sebagian besar waktunya dihabiskan di sekolah; (2) masa pemuda awal, di mana sebagian orang melanjutkan studi di perguruan tinggi, sementara sebagian lainnya langsung bekerja; (3) masa pemuda akhir, di mana orang mulai berpikir tentang bekerja dan berkarya. Di masa ini pulalah, biasanya mulai timbul keinginan menemukan pasangan, menikah, mempunyai keturunan, membesarkan anak dan seterusnya; (4) masa dewasa awal, di mana orang mulai berpikir lebih matang tentang kehidupan dan pencapaian; dan (5) masa dewasa akhir, di mana orang mulai menurunkan kecepatan dan lebih mencoba menikmati hidup. Saya sendiri masih berada di poros fase-fase diatas, di fase pemuda akhir.

Sudah lebih dari satu tahun ini saya bekerja pada sebuah perusahaan. Pekerjaan yang saya jalani ini menurut saya menyenangkan karena memang sesuai dengan minat dan bidang yang saya tekuni di perguruan tinggi. Akibatnya, saya tidak pernah merasa benar-benar ‘bekerja keras’ dalam pekerjaan saya; dan saya bersyukur untuk hal itu!

Sejak lulus dari perguruan tinggi dan bekerja untuk pertama kalinya, saya menemukan banyak hal yang baru dan menarik bagi saya. Saya diperkaya dengan beragam hal dan pengalaman yang tidak saya dapatkan pada waktu saya studi dulu. Teman-teman baru dan berbagai pengalaman itu membuat saya bekerja setiap harinya dengan penuh semangat.

Hingga beberapa waktu lalu, pekerjaan saya yang dulunya saya anggap menyenangkan kini telah mencapai titik jenuh. Bekerja enam hingga delapan jam sehari dan beberapa aktivitas monoton yang harus saya jalani setiap pulang pulang kerja membuat saya penat sesudah menjalaninya selama beberapa bulan. Tentu saja, saya masih melakukan pekerjaan dan tanggung jawab saya dengan baik, namun saya ingin sesuatu yang baru!

Saya mulai berpikir kemana Tuhan akan membawa saya selanjutnya? Apa sebenarnya rencana dan panggilan Tuhan bagi saya? Sampai kapan saya akan terjebak dalam kepenatan ini? Apa hal yang sedang disiapkan Tuhan bagi saya selanjutnya? Saya ingin sekali melewati fase yang sudah saya anggap membosankan ini dan menuju fase berikutnya.

tanyaBy the way, saya masih belum mempunyai pasangan, dan mencari pasangan belum benar-benar menjadi keinginan utama saya. Jadi, tentu saja saya tidak sedang berambisi menuju fase menikah. Saya hanya berharap setidaknya Tuhan memberi sebuah clue tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya, sehingga saya tahu ke mana tujuan selanjutnya.

Tujuan yang saya maksud di sini misalnya seperti mahasiswa yang studi di perguruan tinggi, menjadi sarjana tentu menjadi ‘tujuan’ atau hal yang ingin dicapai. Bagi para pasangan yang belum menikah, memelihara hubungan yang kudus di mata Tuhan dan bersama-sama menuju pernikahan tentu adalah tujuan atau hal yang ingin dicapai. Nah masalahnya, saya tidak mempunyai tujuan apapun, saya tak tahu tujuan atau hal yang ingin saya capai, dan saya berharap Tuhan sesegera mungkin menunjukkannya pada saya!

Jujur saja, pikiran-pikiran ini mengganggu saya setiap hari. Tentu saja setiap hari saya berdoa dan meminta pada-Nya untuk memberi jawaban atas pergumulan saya. Namun, hingga berminggu-minggu sepertinya tidak terjadi apa-apa. Saya masih mempertanyakan apa rencana dan panggilan selanjutnya buat saya? Saya benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada masa depan saya. Saya benar-benar merasa kehilangan arah. Saya merasa seperti sedang melakukan perjalanan dengan pesawat ke suatu tempat, namun saya harus menunggu di tempat transit untuk menantikan kedatangan pesawat tersebut.  Hanya saja, pesawat itu sepertinya tidak datang-datang juga.

Semua pikiran ini membuat saya mulai kuatir. Saya berpikir bagaimana bila saya harus menjalani keadaan sekarang dalam waktu yang lebih lama lagi, atau bahkan mungkin, sangat lama? Hari demi hari saya berdoa tentang hal ini, dan akhirnya ketika saya merenungkannya, Tuhan menjawab pergumulan ini melalui hikmat yang diberikan-Nya. Dari perenungan tersebut, saya belajar beberapa hal:

Pertama, saya menyadari bahwa yang terpenting dalam setiap fase kehidupan saya adalah penyertaan Tuhan dalam setiap fase tersebut. Kebanyakan dari kita mungkin lebih sering mendengar cerita tentang penyertaan Tuhan pada masa-masa sulit. Namun, penyertaan Tuhan juga kita butuhkan pada masa penuh sukacita, maupun pada masa-masa seperti yang saya alami: masa-masa kita tidak tahu tujuan kita atau maksud Tuhan untuk kehidupan kita. Kepastian yang saya dapatkan ialah saat ini dan ke mana pun Tuhan  akan membawa saya, Tuhan menyertai saya. Bahkan, ketika saya membuka pintu hari esok, Dia telah berada disana!

Kedua, saya memilih untuk menikmati fase yang sekarang sedang saya jalani. Jika Tuhan menempatkan saya pada fase ini, saya percaya Dia mempunyai tujuan atau hal-hal yang perlu saya pahami. Mungkin saya harus belajar sabar dan tenang menunggu fase selanjutnya yang disiapkan Tuhan untuk saya. Jadi, ketimbang gelisah memikirkan kemana Tuhan akan membawa saya selanjutnya, saya memilih untuk mengerjakan dengan baik beragam tanggung jawab yang saat ini dipercayakan pada saya.

Ketiga, mungkin fase selanjutnya tidak sesuai dengan harapan saya. Mungkin fase itu terlihat biasa-biasa saja, atau mungkin panggilan Tuhan pada saya tidak sespektakuler yang saya harapkan. Namun, apapun panggilan itu, selain menerima panggilan itu dan mengerjakannya dengan baik, saya ingat satu panggilan pasti pada saya, yaitu Tuhan memanggil saya untuk setia. Bukankah itu panggilan yang harus kita kerjakan seumur hidup kita?

Saya memilih bersandar dan memegang tangan-Nya kemanapun Dia akan membawa saya selanjutnya. Hingga saat ini pun saya  belum mengetahui ke mana saya akan dibawaNya; saya belum mendapatkan kepastian itu. Namun demikian, asalkan Dia menyertai saya, di situlah ada kepastian. Ya, saya yakin bahwa Dia memegang seluruh hari-hari dalam kehidupan saya! God Bless!

Baloon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s