Lika-Liku Semester Dua

Τετέλεσται! Tetelestai! It is finished!

Senang sekali akhirnya semester kedua ini selesai juga hehe. Jujur semester kedua ini merupakan semester yang cukup berat untuk saya lalui, bukan karena pelajarannya melainkan karena beragam lika-liku yang harus saya alami. Meski demikian, saya bersyukur sebab dalam semua hal yang saya alami saya melihat dengan jelas tangan Tuhan yang menopang perjalanan saya.

Lika-Liku-300x215Lika-liku ini bermula di bulan Januari. Di akhir bulan itu, saya diminta berkotbah di persekutuan keluarga dewasa sebuah gereja Indonesia di bilangan Orchard. Masalahnya beberapa hari sebelum berkotbah, gigi saya tiba-tiba bermasalah. Geraham kiri saya mendadak terasa nyeri. Puji Tuhan, saya memang masih bisa berkotbah di persekutuan tersebut, namun begitu saya selesai berkotbah nyeri itu kian bertambah. Karena sudah tidak kuat menahan sakit, esok harinya saya akhirnya membatalkan beberapa undangan kotbah di sisa bulan itu dan kembali ke Indonesia untuk berobat beberapa hari kemudian.

Sekadar info, saya memutuskan kembali ke Indonesia karena biaya berobat gigi di Singapura benar-benar di luar jangkauan kantong saya hehe. Percaya atau tidak, biaya berobat gigi di sana jauh lebih mahal daripada tiket pergi-pulang saya dan keluarga. Meskipun sekolah mengasuransikan saya dan keluarga, tapi saya tidak yakin pengobatan gigi akan ditanggung asuransi tersebut. Lagipula, menurut info yang saya dapatkan, kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sakit gigi memang lebih memilih kembali ke Indonesia daripada berobat di sana.

Sesampainya di Surabaya, dokter menyatakan bahwa gigi saya berlubang dan lubangnya sudah mencapai saraf. Saya kaget juga mendengarnya, sebab saya sebenarnya termasuk rajin menggosok gigi saya (percayalah!!). Bagaimanapun, sakit gigi itu membuat saya makin yakin bahwa syair lagunya Meggy Z yang bilang “Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati ini” benar-benar tidak bisa dipercaya hehe.

**********

Masalah gigi mulai terselesaikan ketika saya menjalani perawatan gigi saya. Tetapi masalah gigi ini ternyata membawa saya pada masalah yang baru. Karena gigi saya sakit (waktu itu gigi saya bahkan terasa nyeri ketika saya sedang minum. Benar-benar mengerikan!), akibatnya saya tidak bisa makan dengan leluasa; dan karena saya tidak bisa makan dengan leluasa, akibatnya pencernaan saya pun jadi terganggu. Alhasil, begitu tiba di Indonesia, saya langsung disambut dengan diare.

Diare ini berlangsung selama beberapa hari dan menyebabkan penyakit lama saya kambuh. Saya mewarisi penyakit wasir dari almarhum papi saya dan gejala klinis yang muncul ketika kambuh ialah (maaf) pendarahan ketika buang air. Pendarahan tersebut tidak berhenti bahkan ketika saya kembali ke Singapura di minggu kedua bulan Pebruari. Jadi, totally saya mengalami pendarahan selama hampir tiga minggu! Akibat dari pendarahan tersebut ialah saya mengalami anemia yang cukup serius. Wajah saya sudah terlihat sangat pucat, saya bahkan hampir tidak kuat untuk berjalan jauh.

Karena keadaan sudah semakin serius, saya memutuskan pergi ke Tangerang untuk berobat. Sekitar dua tahun lalu saya pernah berobat di sebuah rumah sakit di wilayah Karawaci dan hasilnya memuaskan. Saya memutuskan berobat lagi ke rumah sakit tersebut.

**********

Keberangkatan saya dan keluarga ke Tangerang sebenarnya penuh dengan pertaruhan. Pertama, kami tidak tahu apakah si dokter bakal ada di tempat atau tidak. Kedua, kami tidak tahu harus tinggal di mana sesudah pengobatan. Kami memang menemukan data beberapa penginapan di sekitar sana, namun masalahnya kami sama sekali buta soal jalanan di sana. Tapi puji Tuhan, Tuhan baik pada kami.

Ketika kami akan boarding, kami mendapat info bahwa sang dokter hari itu ada di tempat. (oya, puji Tuhan juga waktu itu kami tidak sampai ketinggalan pesawat haha). Setiba di Tangerang saya pun langsung menuju rumah sakit tersebut dan menjalani operasi kecil. Satu masalah terselesaikan!

Sesudah operasi, kami masih menyimpan satu problem lagi, yakni menemukan penginapan. Sambil meringis menahan nyeri pasca-operasi, saya dan keluarga akhirnya berjalan kaki tak tentu arah mencari alamat yang tertera di internet. Jujur waktu itu kami merasa seperti sedang bertualang (baca: tersesat!). Kian memburuk karena tiba-tiba hujan deras turun! Alhasil, kami sekeluarga jadi basah kuyup (tapi Calvin malah senang karena bisa bermain hujan haha).

Waktu itu, kami akhirnya memutuskan berteduh di sebuah vihara. Nah, luar biasanya satpam penjaga vihara tersebut kemudian memberi tahu kami bahwa vihara itu ternyata dekat dengan salah satu penginapan yang kami sedang cari. Jadi, sesudah hujan reda, kami pun langsung berjalan menuju penginapan tersebut. Dalam kesesatan kami, ternyata Tuhan diam-diam menuntun kami ke penginapan yang nyaman hehe. Masalah kedua pun terselesaikan.

**********

Besok paginya, karena masih ada sedikit masalah dengan pendarahan, saya pun kembali ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter. Tak dinyana, dokter menyarankan saya untuk menjalani operasi kecil tahap dua. Waktu itu yang saya kuatirkan cuma soal dana. Dana rupiah kami tidak banyak dan kami tidak tahu di mana harus menukar uang. Apalagi setelah operasi, dokter memberi resep yang harus saya tebus. Tapi sekali lagi Tuhan baik, biaya operasi dan obat ternyata tipis di bawah sisa simpanan kami. Jadi, syukurlah saya tidak perlu masuk surat kabar atau berita kriminal karena tidak lunas membayar biaya berobat haha.

Bersyukur juga karena sesudah itu Tuhan mengirim seorang rekan lama (Bpk. Yudi Kristianto), seorang yang sangat mencintai Tuhan untuk menjemput kami, mengajak kami berkeliling Jakarta barang sebentar, dan kemudian mengantar kami ke bandara. Sesudah kembali ke Singapura, perlahan keadaan saya perlahan mulai membaik.

**********

Meski demikian lika-liku perjalanan saya dan keluarga belum selesai. Di akhir bulan Pebruari, saya baru mengetahui bahwa pendaftaran sekolah ternyata sudah dibuka sejak tahun 2015 lalu. Rencana awal kami, kami akan mendaftarkan Calvin ketika kami kembali ke Indonesia di bulan Mei ini. Namun, karena pendaftaran sekolah di beberapa tempat sudah memasuki tahap akhir, kami pun harus segera mendaftarkan Calvin, atau bila tidak, ia harus menunda satu tahun. Masalahnya – setahu saya – belum ada taman kanak-kanak di Surabaya yang menggunakan pendaftaran online. Jadi,praktis kami harus kembali ke Surabaya dan mengurus pendaftaran sekolah Calvin. Akhirnya, awal bulan Maret kami kembali lagi ke Surabaya.

Selama bulan Maret itu, saya bukan hanya mengurus pendaftaran sekolah Calvin tetapi juga membereskan beberapa masalah kesehatan yang tertinggal. Beberapa tahun lalu, tekanan darah tangan kiri dan kanan saya berbeda cukup jauh. Selain itu, saya sempat beberapa saat merasa agak sesak nafas. Jujur, saya sempat berpikir ada masalah dengan jantung saya. Maka, karena tidak ada keinginan mati muda, saya pun melakukan serangkaian pemeriksaan jantung. Puji Tuhan, hasil tes menunjukkan bahwa tidak ada masalah dengan jantung saya. Meski demikian, pengalaman itu mengajar saya untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Atas saran dari suster Evelyn, yang sedang menyelesaikan studi nursing di UCLA, saya mulai mengonsumsi oatmeal, mengurangi asupan daging merah (kini saya hanya mengonsumsi daging ayam dan ikan, dan mengurangi konsumsi daging sapi dan babi), serta berolahraga minimal tiga puluh menit per hari.

**********

Akhir bulan Maret saya kembali Singapura dan menggunakan sisa waktu yang ada untuk menyelesaikan beragam tugas, baik itu tugas kuliah maupun tugas pelayanan. Uniknya, tugas-tugas yang saya selesaikan selama bulan April kemarin semuanya bersentuhan dengan Injil Matius, injil favorit saya hehe. Saya menulis paper tentang humor dalam salah satu perumpamaan di Injil Matius; kemudian saya harus mengumpulkan proposal tesis saya yang akan membahas humor dalam sebuah bagian Injil Matius (praise God, akhirnya diputuskan bahwa pembimbing tesis saya adalah profesor favorit saya hehe); saya diminta berkotbah di sebuah gereja Indonesia tentang kisah kebangkitan dari Injil Matius; dan akhirnya saya menulis paper intertektualitas salah satu bagian Injil Matius.

Ah, di akhir bulan April kemarin masih ada satu “kejutan” lagi. Menjelang akhir bulan, di suatu subuh, koko saya memberitahu bahwa mami saya ada dalam keadaan kritis. Keadaan beliau lemah sekali dan hampir tidak bisa memberi respon. Waktu itu, saya benar-benar shock. Meskipun saya selalu belajar merelakan segala sesuatu, namun menyadari bahwa saya akan kehilangan orangtua saya bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Tapi waktu itu Tuhan benar-benar menyatakan mujizatnya. Berkat kepedulian rekan-rekan yang mau berdoa bagi mami saya, dan tentunya juga kemurahan Tuhan, siang harinya mami saya kembali tersadar dan makin membaik. Saat ini memang kondisi beliau tidak bisa dibilang sangat baik, tetapi keadaan beliau sudah jauh lebih stabil dari waktu itu.

**********

Di tengah beragam hal yang terjadi, saya merasa Tuhan benar-benar hadir dan menolong kami yang kurang iman ini. Termasuk juga dalam hal finansial. Jujur saja, tiket pergi-pulang beberapa kali dan biaya berobat memakan dana yang sangat besar. Tapi Tuhan tidak melupakan kami. Entah bagaimana, tiba-tiba beberapa gereja Indonesia di Singapura mengundang saya berkotbah beberapa kali, kemudian, tanpa saya minta, Tuhan menggerakkan hati beberapa orang yang mengasihi Tuhan dan peduli dengan saya untuk membantu saya. Meskipun jujur saya masih nombok¸tapi hal-hal tadi membuat saya tidak perlu nombok terlalu banyak. Tuhan memelihara kami lebih dari apa yang bisa kami pikirkan!

Ah, satu hal terakhir yang menarik. Percaya atau tidak Tuhan nampaknya sudah mempersiapkan saya untuk melewati perjalanan yang rumit ini. Di awal sharing ini, saya menyebutkan bahwa saya diminta untuk berkotbah di persekutuan keluarga dewasa sebuah gereja Indonesia di bilangan Orchard. Anda tahu saya berkotbah tentang apa? Saya membahas tentang tindakan Tuhan yang membuat perjalanan bangsa Israel berputar. Tindakan itu sulit dimengerti, namun di sana Tuhan justru menyatakan pemeliharaan dan keagungan-Nya. Saya pun merasa selama semester dua kemarin Tuhan membuat perjalanan saya berputar tidak menentu. Namun, di tengah ketidakpastian itu saya justru melihat tangan Tuhan terulur nyata memelihara dan menolong saya. Bukankah itu luar biasa? Soli Deo Gloria 🙂

 

NB:

Ada berkat tambahan yang Tuhan berikan bagi saya semester kemarin. Saya bisa bertemu dengan dua raksasa dalam studi Perjanjian Baru. Yang pertama ialah Donald A. Hagner, Profesor emiritus bidang Perjanjian Baru dari Fuller Seminary, dan Markus Bockmuehl, dekan Keeble College, Universitas Oxford. Saya bahkan sempat foto bareng dengan mereka hahaha #IndonesiaBanget

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s