Mengapa Bekerja Bukanlah Kutukan

Artikel di bawah ini adalah blog post yang saya tulis untuk Indonesian Christian Church di Melbourne. Lihat di: http://www.icc-melbourne.org/icc-blog/post/mengapa-bekerja-bukanlah-kutukan

 

Di Pengkhotbah 4:4-6, pengkhotbah mengungkapkan ke-pesimisan- nya di dalam pekerjaan. Jerih payah di dalam pekerjaan itu sia-sia menurut pengkhotbah! Tetapi sebelum kita menjadi putus asa dengan pekerjaan kita, mari kita melihat bagaimana Alkitab secara kanon melihat pekerjaan.

Kita tahu bahwa Adam dan Hawa diciptakan, dan tidak lama setelah itu mereka jatuh ke dalam dosa dan membawa kutuk ke dalam ciptaan. Karena itu, pekerjaan manusia pun ikut dikutuk (Kej 3:17-19). Tetapi kita harus mengingat bahwa manusia diberikan pekerjaan sebelum mereka jatuh dalam dosa, yaitu di Kej 2:15, dimana Adam ditempatkan untuk mengusahakan ciptaan Allah dan melayani Dia.

Di dalam keadaan yang terkutuk pun, Allah masih memberikan manusia kesempatan untuk bekerja bagi Dia. Hal ini kita lihat khususnya saat Allah memberikan legislasi pekerjaan imam dan orang-orang Lewi di Israel. Di dalam pekerjaan pembangunan bangsa Israel pun, Allah sendiri yang memberikan kemampuan kepada orang-orang yang bekerja untuk pekerjaanNya (cf. Kel 31:1-11).

Saat Yesus datang, Dia memberikan pengertian yang lebih dalam lagi tentang pekerjaan saat Dia mengatakan, ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga’ (Yoh 5:17). Yesus mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah adalah Allah yang bekerja, dan Yesus menyamakan pekerjaanNya dengan pekerjaan Allah.

Di Yoh 6:29 Yesus berkata bahwa, untuk mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, seseorang harus percaya kepada Yesus. Hal ini memberikan dimensi yang baru ke dalam pekerjaan. Pekerjaan kita hanya dapat dikehendaki Allah jika kita percaya kepada Yesus, dan pekerjaan kita divalidasi oleh pekerjaan Yesus. Saat hal ini terjadi, kita mengambil andil di dalam pekerjaan misi Allah.

Namun jika pekerjaan itu baik, mengapa pengkhotbah mengatakan bahwa hal itu sia-sia? Kuncinya ada di dalam kalimat ‘di bawah matahari’ (cf. Pengkh 4:1, 4:7, 4:15). Di bawah matahari, di dalam dunia yang berdosa dan sementara ini, pekerjaan kita memang sia-sia dan tidak berguna. Tetapi jika kita berpartisipasi di dalam pekerjaan Allah yang abadi, yang dilihat dari perspektif Kristus yang menebus dunia dan segala pekerjaan di dalamnya, pekerjaan kita menjadi berharga. Kita diciptakan untuk bekerja untuk Allah. Dan melalui pekerjaan Yesus yang sempurna pekerjaan kita pun menjadi baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s