Jurnal Theologia Aletheia (JTA) Terbaru – September 2016

screenshot_2016-10-21-21-30-33Rekans, belakangan ini isu mengenai LGBTQ (Lesbian Gay Biseksual Transgender Queer) menjadi salah satu isu yang ramai dibicarakan di kalangan masyarakat (khususnya masyarakat barat), termasuk juga di dalam lingkungan gereja. Nah, Jurnal Theologia Aletheia (JTA) edisi kali ini mengambil tema utama soal isu tersebut. Di dalam edisi terbaru ini, kembali saya menyumbang sebuah tulisan dan sebuah resensi buku (dan itu alasan saya harus mempromosikan jurnal almamater saya ini hehehe).

Tulisan saya kali ini membahas pendapat seorang sarjana yang menuduh bahwa pembacaan mayoritas orang Kristen terhadap Roma 1:26-27 sebenarnya dipengaruhi oleh bias “heteroseksisme.” Dia memahami bahwa nas tersebut sebenarnya berbicara mengenai homoseksualitas sebagai akibat dari hasrat seksual yang berlebihan (excessive lust). Implikasinya, bisa jadi Paulus tidak menentang semua jenis hubungan homoseksual. Saya mencoba mengevaluasi pendapat sarjana ini dan menunjukkan bahwa meskipun dia tepat dalam beberapa hal, namun ada aspek-aspek penting yang dia lewatkan. Sementara mengenai resensi buku, saya meresensi buku karya Mark L. Strauss yang terbit tahun 2015 lalu, berjudul “Jesus Behaving Badly.” Buku ini sebenarnya buku populer yang mencoba menjelaskan beberapa tindakan Yesus yang terlihat “buruk” atau susah dimengerti. Bagi rekan yang ingin membaca artikel saya bisa diunduh di sini, sedangkan resensi buku bisa diunduh di sini. Bagi yang ingin mengunduh keseluruhan jurnal bisa diunduh di sini.

Kembali ke soal artikel. Karena tulisan saya hanya berfokus pada satu teks, tentu saja ada banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan di sana. Nah, di sini saya ingin memberikan beberapa catatan tambahan. Pertama, bila rekan membaca tulisan saya, rekan akan menemukan bahwa, dalam penelitian saya, Alkitab (khususnya Paulus) tetap bersikap negatif terhadap homoseksualitas. Bagi Paulus, homoseksualitas terkait erat dengan tindakan manusia yang menindas kebenaran (Roma 1:18-20). Meski demikian, ini tidak membuat seorang homoseks lebih rendah dari orang lain, sebab setiap orang berdosa sama buruknya di hadapan Allah, tidak peduli apapun bentuk dosanya. Anda yang hari ini hidup dalam korupsi, Anda yang suka berbuat ketidakadilan dan menindas orang lain, Anda yang suka menipu orang lain dalam bisnis, Anda yang rasis, Anda yang memainkan politik kotor: Anda tidak lebih baik dibandingkan orang-orang yang kerap Anda rendahkan ini! Anda semua – atau lebih baik lagi, kita semua – sama-sama buruknya di hadapan Allah  dan sama-sama membutuhkan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Penolong.

Kedua, supervisor saya di sini pernah mengatakan bahwa gereja seharusnya menjadi tempat atau komunitas yang aman bagi para homoseks. Gereja tidak seharusnya menjadi tempat eksklusif bagi kelompok heteroseksual. Sebaliknya, gereja harus menjadi sahabat dan saudara yang memberikan pendampingan khusus bagi para homoseks. Bahkan terkadang gereja juga harus menjadi pembela bagi kelompok homoseks yang mengalami ketidakadilan sosial dan yuridis (tentunya di luar kasus pernikahan sejenis hehehe). Ketika menangani orang yang sakit, seorang dokter yang baik tidak boleh hanya berhenti pada diagnosis. Ia harus terus menolong pasien dalam proses penyembuhan. Sama seperti itu, gereja seharusnya tidak boleh berhenti hanya pada proses “diagnosis.” Menyatakan bahwa orientasi seksual seseorang telah terdistorsi oleh dosa bukanlah sebuah akhir, sebab bila tidak, orang-orang Kristen hanya akan menjadi kelompok yang judgmental. Gereja perlu mendukung mereka untuk bertumbuh dan memohon kemurahan Kristus, meski mungkin itu merupakan perjalanan seumur hidup. Nah, mengenai pendampingan pastoral bagi kaum LGBT, rekan bisa membaca tulisan Pdt. Dr. Agung Gunawan, Th.M, Rektor STT Aletheia, dalam jurnal ini, yang bisa diunduh di sini.

Sejujurnya saya memiliki beberapa kenalan yang bergumul dengan orientasi seksual mereka. Yang paling berkesan ialah salah seorang mentor saya yang kini sudah bersama dengan Tuhan. Rekan akan menemukan bahwa tulisan saya di jurnal edisi ini dibuat untuk mengenang beliau. Perkenalan saya dengan beliau membuat saya melihat kaum homoseksual dengan cara yang berbeda. Sama seperti kita, mereka sama-sama gambar dan rupa Allah yang terdistorsi oleh dosa. Hanya saja, distorsi dosa itu menyasar pada aspek yang mungkin berbeda dari kita. Mentor saya ini bergumul keras karena beliau tahu bahwa orientasi seksualnya bermasalah. Apa yang luar biasa, di tengah pergumulan beliau mengatasi disorientasi tersebut, beliau benar-benar mengajarkan saya dan rekan-rekan saya apa artinya menghadirkan Kristus bagi sesama. Ingatlah, diagnosis bukanlah sebuah akhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s