Partisipasi Allah di Dalam Ketidak-Adilan dan Partisipasi Kita di Dalam Kebenaran

Pengkhotbah 8:14 berkata, “Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: ‘Inipun sia-sia!’” Ketidak-adilan adalah masalah yang besar di dunia. Agama-agama di seluruh dunia, bahkan orang-orang Ateis pun, menganggap hal ini adalah masalah yang besar. Tom Hanks, aktor ternama yang memerankan Robert Langdon di film The Da Vinci Code, membahas tentang agama seperti dilansir oleh Terry Mattingly, dan dia berkata, “Saya sering memikirkan tentang misteri dunia, dan saya sering bertanya ‘mengapa’. Mengapa manusia seperti ini? Mengapa hal-hal baik terjadi kepada orang-orang jahat? Dan mengapa hal-hal jahat terjadi kepada orang-orang baik?”

Benar. Saat kita melihat orang-orang baik tertindas dan orang-orang jahat hidup makmur, kita berteriak, “TIDAK ADIL!!” Akan tetapi, pernahkah kita berpikir seperti Paulus? Di 2 Korintus 5:21, Paulus berkata tentang Yesus, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (bandingkan dengan Gal 3:13).

Ada dua sisi ekstrim yang Paulus asumsikan disini. Pertama, kita semua berdosa (baca: ekstrim jahat). Hal ini juga didukung oleh surat Paulus ke Roma 3:9-18. Kedua, Yesus sama sekali tidak mengenal dosa (baca: ekstrim baik). Akan tetapi, ayat ini menjelaskan bahwa Yesus yang ekstrim baik dijadikan seakan-akan Dia jahat, dan kita yang jahat dijadikan baik. Ini adalah ketidak-adilan yang ultimate! Tetapi yang aneh adalah; saat kita merenungkan ketidak-adilan yang menimpa kita, kita berteriak “Tidak adil!!”, tetapi saat kita membaca ayat ini, kita berteriak senang. Dan bahkan, kita bertanya mengapa tidak sekalian saja semua orang dijadikan benar dihadapan Allah dan diselamatkan, lalu lagi-lagi kita berteriak, “Allah TIDAK ADIL!!”

Alkitab tidak menyangkal bahwa ada ketidak-adilan di dunia, Allah pun tidak menyangkal itu. Yang Allah lakukan justru berpartisipasi di dalam ketidak-adilan itu sehingga melaluinya kita mendapatkan keselamatan. Yesus mati menanggung dosa-dosa kita yang ada di dalam Dia, sehingga saat Dia bangkit, kita yang berada di dalam Dia ikut bangkit dengan Dia (lihat Rom 6:8). Yesus bukanlah manusia yang dikatakan Pengkhotbah 8:14, manusia berdosa yang berbuat baik dan mendapat ganjaran orang jahat. Tidak. Dia jauh lebih dari itu. Dia tidak mengenal dosa, tetapi Dia menjadi dosa, supaya kita yang berdosa dijadikan kebenaran di hadapan Allah. Ini adalah ketidak-adilan yang sesungguhnya. Tetapi hal ini bukan kesia-siaan. Dan memang, karena itu kita merespon bersama dengan Paulus:

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

(Rom 11:33-36)

Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s