“Hai Kamu Orang-Orang Kaya, Menangislah!”: Kekayaan Menurut Yakobus Part 1

Masalah-masalah tentang uang, kekayaan, dan kesenjangan sosial nampaknya menjadi masalah-masalah yang hadir dimanapun kita berada. Khususnya di negara “dunia ketiga” seperti Indonesia, masalah-masalah seperti ini terasa sangat dekat dengan kita. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang di Indonesia mengalami hal ini, atau paling tidak, mengenal seseorang yang mengalami hal seperti ini.

Masalah-masalah ini pun menjadi salah satu tema utama Surat Yakobus. Tiga artikel ke depan akan membahas tentang masalah-masalah ini melalui perspektif Surat Yakobus.

Latar Belakang Surat Yakobus

Surat ini ditulis oleh Yakobus saudara Yesus. Yakobus, sebagai tokoh terkemuka di gereja mula-mula, memiliki kewenangan untuk mengirim surat kepada “kedua belas suku di Diaspora” (Yakobus 1: 1).

Yakobus menulis kepada gereja yang menghadapi masalah-masalah, seperti: pilih kasih antar jemaat, diskriminasi terhadap orang miskin, dan adanya keinginan tidak sehat untuk mengejar kekayaan dan status. Orang-orang yang kaya dan berkedudukan tinggi diperlakukan spesial di gereja tersebut karena mereka dianggap dapat memberikan kesempatan bagi yang lain untuk memanjat tangga status sosial.

Kekayaan dan Kemiskinan Sebagai Pencobaan

Poin pertama yang Yakobus ingin sampaikan di suratnya adalah bahwa sukacita manusia datangnya hanya dari Allah. Di tengah-tengah banyak siksaan dan aniaya, Yakobus membuka suratnya dengan dorongan agar orang Kristen melihat pencobaan sebagai sukacita (kebahagiaan; 1:2). Yakobus tidak mengatakan bahwa pencobaan itu sendiri adalah sukacita, melainkan bahwa pencobaan menghasilkan ketekunan, dan hal itu membawa sukacita. Dengan demikian, orang Kristen harus melawan gagasan duniawi tentang sukacita dan kebahagiaan dan mencari sukacita dari Allah saja.

Apa pencobaan-pencobaan yang disebutkan oleh Yakobus disini? Memang, di zaman itu banyak pencobaan-pencobaan jasmani dan siksaan-siksaan yang dialami oleh orang-orang Kristen. Namun, para sarjana beranggapan bahwa di surat Yakobus ini ada dua pencobaan yang secara khusus disebutkan. Kekayaan (1:9-10) dan kemiskinan (1:8) adalah dua jenis pencobaan yang Yakobus coba jelaskan di 1:12, karena kemiskinan adalah pencobaan bagi masyarakat miskin, dan kekayaan adalah pencobaan untuk orang kaya. Kemiskinan membuat manusia menjadi merasa sengsara karena status mereka yang rendah. Kekayaan membuat manusia menjadi mendua hati (1:8) dan tidak menyembah Allah secara sepenuh hati (Mzm 119:2), melainkan mencoba untuk secara bersamaan menyembah Allah dan menjadi sahabat dunia (Yak 4:4). Orang-orang yang mendua hati seperti ini dihadapi dengan fakta bahwa mereka mengklaim beragama tetapi sebenarnya mereka masih memegang konsen-konsep duniawi tentang kekayaan dan tidak ‘mengunjung yatim piatu dan janda-janda’ seperti yang Allah perintahkan (1:26-27).

prosperity-gospelYakobus mengingatkan orang-orang kaya bahwa segala sesuatu yang baik datang dari Bapa (1:17), dan bukan didapat melalui keinginan jahat mereka sendiri (1:14). Sukacita sejati datang dari kerendahan hati di hadapan Allah dan dari pelayanan kepada satu sama lain, bukan dari kekayaan ataupun status sosial yang tinggi. Orang-orang Kristen yang miskin dan dianiaya juga didorong untuk ‘bermegah’ di dalam status rendah mereka (1: 9). Kata kerja ‘bermegah’ sering digunakan secara negatif dalam surat-surat Paulus. Namun, di sini kata tersebut diambil dari PL yang berarti ‘bersukacita dan memuliakan Allah’ meskipun mereka miskin.

Pemahaman Yakobus tentang pencobaan terkait erat dengan pemahamannya tentang eskatologi (teologi akhir zaman). Tema eskatologi, meskipun tidak terlihat secara gamblang, merupakan tema yang besar dalam surat Yakobus. Yakobus mengingatkan orang percaya kepada hukuman dan ganjaran yang akan datang. Yakobus mendorong orang yang ada di dalam penderitaan untuk melihat kehidupan mereka dari sudut pandang eskatologis. Orang-orang Kristen memiliki harapan bahwa Allah akan mengatur segala sesuatu secara adil dan bijaksana, dan di dalam zaman ini orang-orang Kristen harus bertahan menghadapi pencobaan (kekayaan ataupun kemiskinan). Harapan eskatologis ini ditunjukkan di dalam keseluruhan surat Yakobus. Yakobus menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (1:17) yang menjanjikan tatanan ciptaan yang dipimpin oleh orang-orang kudus (1:18). Allah memberikan hal-hal yang baik (1:13), Dia juga memberikan hikmat (1:5) yang mampu menyelamatkan jiwa manusia (1:21).

Oleh karena itu, di dalam pencobaan-pencobaan ini (kekayaan atau kemiskinan), orang-orang Kristen harus bertahan untuk melawan godaan dan menahan aniaya dan senantiasa mencari sukacita dari Tuhan.

Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s