“Hai Kamu Orang-Orang Kaya, Menangislah!”: Kekayaan Menurut Yakobus Part 2

Kesombongan di Dalam Kekayaan

Kita sering protes saat membaca Alkitab karena Yesus tampaknya mengutuk orang-orang kaya (Mat 19:24) dan karena Yakobus di surat ini nampak setuju dengan hal itu (Yak 5:1). Memang, Alkitab sering mengaitkan identitas ‘miskin’ dengan identitas ‘benar’ (Yes 29:19; Luk 6:20) dan identitas ‘kaya’ dengan identitas ‘terkutuk’ (Luk 6:24), dan Yakobus terlihat setuju bahwa orang-orang miskin adalah orang-orang terpilih (Yak 2:5) dan orang-orang kaya adalah terkutuk (Yak 5:1-6). Namun, pembacaan surat ini harus ditemani dengan pengertian konteks sosial-budaya pada zaman itu. Di zaman Gereja mula-mula, di mana hanya sekitar 10% dari populasi kerajaan Romawi adalah orang kaya, sebagian besar orang-orang benar adalah orang-orang yang miskin dan tertindas. Dan karena kesenjangan sosial yang besar, orang-orang yang kaya adalah orang-orang yang mempekerjakan orang-orang miskin secara semena-mena (Yak 5:4, 6) sehingga mereka mendapatkan keuntungan moneter yang besar dengan mengeluarkan upah yang kecil. Oleh karena itu, kekayaan dengan sendirinya tidaklah jahat. PL sangatlah jelas mengatakan bahwa kekayaan adalah berkat dari Allah. Yang Alkitab katakan jahat disini adalah efek korosif dari kekayaan dan cinta uang, yang membuat manusia menganiaya orang lain. Karena itu, seperti yang juga ditunjukkan dalam PL, orang-orang miskin dipandang sebagai orang benar, karena sebagian besar dari mereka juga ‘miskin rohani’ (Mat 5:3) dan mereka lebih bergantung kepada Allah daripada orang-orang kaya. Mereka dianggap benar karena mereka mengemis untuk belas kasihan Tuhan di dalam menghadapi ketidak-adilan dalam masyarakat.

Yakobus menjelaskan lebih lanjut di pasal 3 di mana ia mengatakan bahwa orang bijak harus melakukan perbuatan baik di dalam kelemah-lembutan (3:13). Seperti yang saya katakan di atas, 90 persen populasi di zaman Alkitab dapat dikatakan sebagai orang-orang quote-the-problem-with-prosperity-theology-is-not-that-it-promises-too-much-but-that-it-aims-albert-mohler-85-81-77miskin. Hal ini menyebabkan suatu situasi dimana sebagian besar orang-orang yang kaya menjalankan kekuasaan mereka semena-mena di atas orang-orang miskin. Ada indikasi-indikasi bahwa pemilik tanah yang kaya menganiaya pekerja-pekerja yang miskin karena mereka menganggap diri mereka lebih bijaksana dalam usaha memperoleh kekayaan dan status sosial. Yakobus melawan hal ini dengan menunjukkan bahwa kebijaksanaan menghasilkan kelemah lembutan terhadap sesama, bukan kesombongan dan penganiayaan, seperti yang ditunjukkan di 4:6, 9-10. Yakobus juga menunjukkan bahwa orang-orang kaya seringkali menjadi sombong dalam perencanaan mereka (4:13) padahal mereka tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan (4:14). Mereka seharusnya bergantung hanya pada Allah dan bukan bermegah pada kesombongan mereka (4:15-16).

Oleh karena itu, kekayaan tidaklah menjadi masalah asalkan orang-orang Kristen masih memiliki kelemah lembutan dan bergantung pada Tuhan. Solusi teologis yang ditawarkan Yakobus untuk ketidakpastian di dunia bukanlah dengan menimbun kekayaan sebesar-besarnya seperti yang orang-orang kaya duniawi lakukan, melainkan dengan tidak mempercayai rencana diri sendiri, menyadari ketidakmampuan kita sebagai manusia, dan mempercayai rencana Allah (4:15). Yakobus menunjukkan bahwa harta benda kita tidaklah dapat menjaga kita dari ketidakpastian dunia, karena harta benda dapat hilang dan orang kaya akan mati (5:3).

Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s