“Hai Kamu Orang-Orang Kaya, Menangislah!”: Kekayaan Menurut Yakobus Part 3 (FINAL)

Kekayaan Sebagai Penghapus Kasih

Surat Yakobus menunjukkan bahwa pada zaman itu, seperti juga di zaman sekarang, orang-orang menunjukkan ekspresi pilih-kasih berdasarkan kekayaan. Orang-orang Kristen ternyata tidak berbeda dalam hal ini. Dikatakan di 2:2 bahwa ada favoritisme di dalam pertemuan orang-orang Kristen dan ada diskriminasi yang ditunjukkan antara mereka (2:4). Yakobus di sini bukan hanya menyerang orang kaya, tetapi juga untuk orang miskin, karena Yakobus tampaknya juga menunjukkan bahwa orang miskin malah mengina orang-orang miskin lain, dan mereka menunjukkan favoritisme terhadap penindas mereka (2:6-7).

Sekali lagi, kekayaan bukan merupakan sumber masalah, melainkan rasa pilih-kasih yang disebabkan oleh keinginan untuk mendapatkan kekayaan dan status sosial. Yakobus menggunakan antropologi (teologi manusia) di dalam melawan hal ini. Ia mengatakan bahwa semua orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (3:9) dan dengan demikian tidaklah baik bagi orang Kristen untuk berpihak hanya kepada masyarakat kaya dan berkedudukan tinggi. Selain itu, favoritisme ini menyebabkan orang menjadi penyembah manusia, bukan penyembah Tuhan. Teologi Yakobus ini bertentangan dengan pemahaman umum duniawi Yunani-Romawi di masa itu, di mana kehormatan di dalam masyarakat hanya dimiliki oleh orang-orang kaya dan berkuasa. Namun, di dalam Kerajaan Allah, kehormatan itu diberikan kepada orang-orang miskin di hadapan Allah dan rendah hati.

Selain itu, Yakobus juga mengutuk fakta bahwa orang-orang kaya tidak berbagi kekayaan mereka dengan orang miskin (lih. 1:27). Yakobus mengutuk hal ini dengan mengatakan bahwa kekayaan mereka sudah membusuk dan pakaian mereka dimakan ngengat (5:2), yang menunjukkan bahwa orang-orang kaya telah membiarkan kekayaan mereka disimpan terlalu lama dan tidak digunakan untuk membantu orang miskin.

Sekali lagi, kekayaan bukanlah masalah. Alasan mengapa Yakobus menyuruh orang kaya untuk menangis dan meratap (5:1) adalah karena mereka menindas saudara-saudara mereka yang miskin, mereka menggunakan kekayaan duniawi secara egois, dan mereka bertindak seolah-olah dunia akan berlangsung selamanya sehingga mereka dapat mengontrol jalan hidup mereka sendiri tanpa bantuan Allah.

Postscript

Untuk menutup 3 artikel ini, saya bertanya-tanya satu hal. Memang, kekayaan bukanlah masalah. Memang, kekayaan adalah berkat Allah. Namun, dari surat Yakobus, kita telah melihat banyaknya masalah yang disebabkan karena keinginan untuk kaya, seperti: pilih kasih, mengejar keinginan duniawi, dan menjadi sahabat dunia. Ada juga banyaknya masalah yang disebabkan di dalam proses menuju kekayaan: menindas orang lain, melakukan kecurangan-kecurangan, dan menumpuk kekayaan tanpa mempedulikan orang lain yang membutuhkan. Selain itu, kita juga melihat banyaknya masalah yang disebabkan saat seseorang sudah kaya, seperti: merasa lebih bijak daripada orang lain yang miskin, merendahkan orang lain, tidak mau berbagi kekayaan dengan orang lain, dan merasa tidak perlu bergantung pada Allah.tbl-csr-sustainability-management-42-728

Karena semua ini, saya bertanya-tanya, meskipun kekayaan bukanlah masalah, apakah perlu kita mengejar kekayaan? Mengapa kita tidak puas hanya dengan hidup sederhana yang ditemani rasa saling mengasihi dan saling membagi? Buku yang ditulis oleh Craig Blomberg, yang berjudul mengutip Amsal 30:8 “Neither Poverty nor Riches” mempresentasikan apa yang saya rasa merupakan utopia Alkitab; suatu dunia dimana manusia tidak kaya tetapi juga tidak miskin, karena kekayaan dan sumber daya alam dibagi menurut kebutuhan masing-masing dan didasari oleh rasa saling memberi dan kasih satu sama lain. Apakah ini merupakan ideologi sosialis? Mungkin juga. Namun, mungkin ideologi seperti ini tidak dapat dilakukan atau direalisasikan di dalam dunia ini secara sempurna. Mungkin kita harus menunggu waktu di mana “ tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4).

Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s