Resensi Buku “Maximized Musicianship: A Destiny”

Ketika saya mulai belajar bermusik dan melayani sekitar tahun 1998, salah satu nama besar yang sering saya dengar waktu itu ialah Erwin J. Krisnanda. Meskipun waktu itu saya belum mengenal sosok ini, tetapi melihat karya-karyanya, saya harus mengakui bahwa beliau memiliki musikalitas yang cemerlang. Perkenalan saya dengan beliau beberapa tahun lalu, kian menguatkan kesan saya bahwa beliau memang memiliki musikalitas dan hasrat yang kuat terhadap musik. Tidak heran hingga kini, beliau tetap menjadi salah satu musisi favorit saya.

15281955_1378013135542018_1021253305_nBeberapa bulan lalu saya mendapat kesempatan yang sangat istimewa dari beliau, sebab beliau menghubungi saya dan meminta saya memberi endorsement untuk buku perdana beliau, yang bertajuk Maximized Musicianship: A Destiny. Buku ini sendiri diterbitkan untuk memeringati 15 tahun berdirinya E-Project Music&Sound Consultant dan 30 tahun pelayanan beliau. Buku ini menjadi salah satu rangkuman (sebab akan ada buku kedua) hikmat bermusik  yang beliau dapatkan selama tiga puluh tahun melayani. Karena buku ini ditulis oleh seseorang yang menggumuli pelayanan musik sedemikian serius, tentu saja buku ini layak mendapat perhatian kita. Nah, dalam kesempatan ini, saya ingin sedikit mereview buku ini. Siapa tahu ada di antara rekans yang tertarik membeli buku ini sesudah membaca review ini.

Sama seperti ketika membaca buku lainnya, saya tentu memiliki beberapa poin ketidaksepahaman dengan penulis buku ini, khususnya dalam aspek teologis dan hermeneutis. Selain itu, penggunaan tata bahasa Indonesia yang kurang baku (misal kata sambung “sehingga” dan “dan” diletakkan di awal kalimat, pleonasme “amat banyak pemusik-pemusik,” dsb) sejujurnya (secara subyektif) agak sedikit mengganggu saya yang sok Linguist ini hehehe (semoga di cetakan berikutnya, hal ini bisa diperbaiki).

Meski demikian, hal-hal ini sama sekali tidak menghalangi saya menikmati keseluruhan buku ini. Nyatanya, ada banyak poin yang sangat bagus yang dikemukakan oleh penulis. Penulis mengingatkan bahwa “musik hanyalah alat yang disediakan-Nya sebagai sarana menyembah Dia” (hal. 10). Penulis juga menegaskan, “Kita harus melibatkan seluruh keberadaan kita dalam penyembahan kepada Tuhan. Bertepuk tangan dan melompat saat kita menyanyi itu tidak salah. Itu merupakan ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan melalui tubuh kita. Tetapi musik di kafe juga melakukan hal yang sama” (hal. 18). Bagi saya, pernyataan ini benar-benar mengesankan, mengingat penulis menulis dari sudut pandang Karismatik. Ia lantas menyatakan bahwa musik di dalam gereja seharusnya membawa roh jemaat bertemu dengan Roh Tuhan (hal. 19-22). Atau dalam bahasa saya, “membawa jemaat mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.” Saya juga sependapat dengan tesis bab 2 penulis bahwa setiap orang perlu mengerjakan dengan baik destinynya, atau sederhananya, rancangan dan panggilan Tuhan atas dia.

Di dalam bab 4, penulis mengingatkan agar kita berhati-hati dalam menggunakan jasa pemusik-pemusik non-Kristen. Isu ini memang sempat merebak di beberapa gereja, termasuk di salah satu gereja yang dulu pernah saya layani. Penulis tidak menolak peran mereka dalam konser atau rekaman, tetapi kurang setuju bila mereka digunakan di dalam ibadah, sebab menurut penulis, pemusik ibadah memerlukan kedewasaan rohani untuk bisa membawa jemaat bertemu dengan Tuhan. Hal ini tentu saja absen dari pemusik-pemusik non-Kristen. Masih dalam bab yang sama, penulis kembali mengajak pembaca untuk menghidupi destinynya dan membuang kekuatiran atas uang. Ia mengingatkan, “Yakinlah bahwa saat kita menjalani destiny kita dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan ada bersama kita dan memenuhi semua kebutuhan kita. Berkat Tuhan itu selalu cukup buat kita yang memiliki rasa puas dan bisa bersyukur” (hal. 67). Ia menambahkan, “Kejarlah Tuhan dan panggilan-Nya dalam hidup kita. Kalau pada akhirnya kekayaan, dan ketenaran kita dapatkan, itu adalah bonus, bukan tujuan. Utamakan Tuhan dalam hidup kita, maka damai sejahtera dan sukacita akan memenuhi kehidupan kita” (hal. 68).

Saya juga sangat suka dengan pernyataan penulis di awal bab 5, “Seorang pemusik rohani haruslah berjemaat di sebuah gereja lokal, memiliki kehidupan berjemaat yang sehat dan bertumbuh semakin dewasa dalam kerohaniannya” (hal. 73). Ini penting diingat mengingat banyak pemusik gerejani hari ini sekadar menjadi “kutu loncat,” beralih dari satu gereja ke gereja lain demi mendapatkan uang lebih tanpa memiliki gereja induk untuk bertumbuh. Ia juga menegaskan, “Sebagai seorang pemusik rohani, jangan lupa memprioritaskan Tuhan. Kesenangan dalam bermusik jangan membuat Tuhan jadi terlupakan. Bagaimanapun kemampuan bermusik dimulai oleh Tuhan, maka sudah seharusnya pemusik rohani lebih meprioritaskan Tuhan daripada musik itu sendiri” (hal. 75).

Selain poin-poin yang saya sampaikan di atas, rekans bisa menemukan banyak pernyataan lain yang cukup tajam, bernas, dan menggelitik. Karena itu, bagi rekans yang tertarik dengan musik dan benar-benar ingin menjadi pemusik gerejani yang maksimal, rekans bisa mempertimbangkan membeli buku ini. Harganya cukup murah, bahkan sangat murah bila dibanding dengan pengalaman panjang yang penulis bagikan di buku ini. Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat terakhir endorsement saya untuk buku ini: “Para pembaca mungkin tidak akan selalu setuju dengan pemikiran beliau, tetapi saya tidak pernah ragu bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan berkat atau insight dari membaca buku ini.”

erwin
Mana yang lebih ganteng hayo? 🙂

 

NB:

Bagi rekans yang ingin mendapatkan buku ini, bisa membelinya seharga di IDR 48,000 di Kantor E-Project (Ruko Klampis Megah A-5, Surabaya) atau Session Junkies (Jl. Kartini 82, Surabaya). Blessings 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s