Tetap Lakukan yang Baik dan Benar

Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud” (Rut 4:21-22).

rut-and-boaz
Ruth in Boaz’s Field by Julius Schnorr von Carolsfeld (1828)

Harus diakui bahwa bagi kebanyakan orang Kristen, silsilah merupakan salah satu bagian kitab suci yang dianggap paling membosankan. Membaca nama-nama yang sama sekali tidak kita kenal – dan yang kita pikir tidak ada kait mengaitnya dengan kita – merupakan kegiatan yang terlihat kurang berfaedah bagi pertumbuhan rohani dan moral kita. Mungkin pemikiran yang demikian juga berkecamuk di dalam benak kita ketika membaca nas di atas: apa gunanya membahas silsilah?

Nas yang kita baca ini sebenarnya menyimpan perenungan yang mendalam bagi kita bila kita memahami alur besar Kitab Rut. Secara ringkas, nas tadi menyatakan kepada kita mengenai silsilah dari Raja Daud: tentang siapa ayahnya, kakeknya, dan kakek buyutnya. Bagian yang paling menarik ialah kisah tentang kakek buyut Daud, Boas, yang menjadi salah satu tokoh utama dalam kitab Rut.

Di awal kitab Rut, dikisahkan bahwa seorang dari suku Yehuda, yang bernama Elimelekh, membawa keluarganya, istrinya dan dua anak laki-lakinya, pergi ke Moab karena kelaparan yang terjadi di tanah Israel. Sesudah Elimelekh mati di Moab, kedua anaknya mengambil perempuan Moab menjadi istri mereka. Kilyon menikahi Orpa, sedangkan Mahlon mengambil Rut menjadi istrinya (bnd. 4:10). Ironisnya, kedua anak Elimelekh itu akhirnya mati tanpa meninggalkan keturunan.

Apa yang keluarga Elimelekh alami ini sebenarnya merupakan tragedi besar dalam sudut pandang budaya masa itu. Pertama, kehilangan semua pria dalam keluarga berarti kehilangan penopang ekonomi dan sosial keluarga. Kita harus ingat bahwa pada masa itu para pria mendominasi pekerjaan dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Merekalah yang harus bekerja dan mencukupkan kebutuhan seluruh keluarga. Selain itu, para pria juga bertugas menjadi pelindung keluarga terhadap ancaman atau tekanan yang mungkin terjadi pada keluarga. Akibatnya, ketika semua pria dalam sebuah keluarga telah meninggal, itu artinya akan muncul masalah dalam hal ekonomi dan perlindungan sosial

Kedua, dan yang lebih serius, semua pria itu mati tanpa meninggalkan penerus.  Sama seperti budaya Tionghoa, budaya Yahudi merupakan budaya yang sangat patriakat (mengutamakan laki-laki). Secara umum, mereka lebih menyukai anak laki-laki sebab merekalah yang akan menjadi penerus nama dan kebanggan keluarga. Tidak heran dalam silsilah bangsa Yahudi mereka cenderung hanya menuliskan nama anak laki-laki mereka saja. Karena itu, ketika dicatat bahwa Mahlon dan Kilyon mati tanpa meninggalkan keturunan, itu berarti bencana besar bagi keluarga Elimelekh, sebab tidak adanya keturunan laki-laki yang ditinggalkan berarti tidak akan ada penerus nama keluarga. Tidak heran Naomi akhirnya mengganti namanya menjadi Mara (pahit; 1:20) sebab apa yang ia alami sangat mengenaskan dalam sudut pandang budaya masa itu.

Dalam keadaan demikian, jalan keluar terbaik ialah tradisi Levirat, yakni pernikahan dengan saudara terdekat dari suami (bnd. Kejadian 38:6-11; Ulangan 25:5-10). Di samping tujuan ekonomi dan sosial, tujuan utamanya ialah membangkitkan keturunan bagi pria yang mati tanpa penerus tersebut, sebab anak laki-laki pertama dari pernikahan tersebut akan dianggap sebagai anak laki-laki dari pria yang mati tanpa penerus itu. Sayangnya, pada masa  itu, tidak semua orang mau melakukan tradisi ini (bnd. 4:1-8).

Akan tetapi, Boas berbeda. Ketika Rut memintanya menikahinya (Rut 3; melakukan tradisi Levirat) ia menyanggupinya. Meski demikian, kebaikan hati Boas ini bukan kebaikan yang tanpa aturan. Ia tahu bahwa ia bukan pihak yang paling berhak untuk melakukan pernikahan Levirat. Karena itu, ia menempuh langkah-langkah legal yang harus dijalani agar ia bisa secara sah mengambil Rut sebagai istrinya. Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa dari pernikahan ini lahirlah seorang raja terbesar dalam sejarah Israel, bahkan dari perkawinan ini juga nantinya akan lahir seorang Anak yang akan menjadi Juruselamat dunia.

Kisah ini mengajar kita untuk tetap melakukan apa yang baik dan benar. Di tengah orang-orang yang berupaya menghindari tradisi Levirat, Boas melakukannya karena ia tahu bahwa itu hal yang baik dan benar yang harus ia lakukan. Sama seperti itu, di tengah jaman yang enggan untuk melakukan apa yang baik dan benar, tetaplah lakukan apa yang baik dan benar, sebab – sama seperti kisah Boas – kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan akan kerjakan dengan perbuatan baik yang kita lakukan. Jadi, sebelum kita bekeluh kesah dan menuntut orang lain melakukan apa yang baik dan benar, tuntut diri kita lebih dulu untuk melakukan apa yang baik dan benar!

 

 

** Tulisan ini merupakan refleksi singkat saya yang dimuat di warta gereja GKA Trinitas 7 Desember 2016. Sengaja saya unggah ke blog agar bisa diakses lebih luas. Kalau dianggap memberkati, silakan dishare. Thanks 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s