Pengantar: Beragam Segi dalam Diskusi Bibliologi Masa Kini

carsonDalam tulisan beberapa minggu lalu, saya berjanji untuk mencoba memaparkan garis besar tiap bab dalam antologi suntingan Don Carson, yang bertajuk The Enduring Authority of the Christian Scriptures. Sayangnya, undang-undang hak cipta (?) dan, terutama, padatnya pelayanan saya nampaknya tidak mengijinkan saya memaparkan garis besar semua bab. Karena itu, nantinya saya akan memilih bab-bab yang menurut saya paling menarik dari buku ini.

Nah, dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan artikel pengantar yang ditulis oleh Don Carson. Progress pembacaan saya atas bab ini, harus diakui, berjalan amat lambat. Kesibukan pelayanan, khususnya dalam masa persiapan natal ini, membuat saya tidak bisa membaca secepat biasanya. Untuk membaca bab pengantar yang hanya setebal empat puluh halaman ini, saya membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari hehehe.

**********

Secara garis besar, bab ini terdiri atas tiga bagian utama, yakni (1) survei studi mengenai Alkitab, (2) poin-poin diskusi mengenai otoritas Alkitab, dan (3) berbagai isu lain seputar Alkitab dan otoritasnya. Menarik untuk dicatat bahwa dalam rentang waktu duapuluh tahun (1980-2000), Andy Naselli (mantan mahasiswa PhD Carson di Trinity Evangelical Divinity School dan juga salah satu kontributor dalam antologi ini) menemukan bahwa ada sekitar tiga ratus tiga puluh tujuh materi yang diterbitkan terkait Alkitab. Mayoritas karya itu bersifat pengulangan dan tidak memberi kontribusi yang signifikan dalam diskusi Bibliologi (p. 3). Meski demikian, Carson tidak mensurvei seluruh karya itu. Ia hanya mengulas beberapa karya yang dianggap penting.

Carson mulai dengan artikel Robert Yarbrough di jurnal Themelios yang mensurvei dan berinteraksi dengan tiga buku yang berisi kegelisahan penulisnya terhadap situasi kontemporer. Buku pertama ialah tulisan Michael Legaspi, alumni Harvard yang kini mengajar di Pennsylvania State University, yang melihat adanya tensi penggunaan Alkitab di kalangan akademis dan gereja. Meski ia meninggalkan tensi itu tanpa solusi, ia yakin bahwa otoritas Alkitab di dalam gereja sebenarnya sudah melebihi batas yang seharusnya (p. 4).

Buku kedua ialah  karya Ulrich Wilckens, profesor emiritus di Universitas Hamburg, yang beranggapan bahwa kritik Alkitab sebenarnya telah dipengaruhi oleh beragam asumsi problematis (bias anti-supranatural, komitmen terhadap filsafat Idealis). Ia menambahkan bahwa penafsiran Alkitab masa kini terjebak dalam lintasan liberalisme, sehingga bukan hanya perlu direformasi tetapi ditanggulangi (overcome). Meski Wilckens menekankan normatifnya Perjanjian Baru dan historisitas peristiwa-peristiwa di dalamnya, tetapi Carson merasa bibliologi Wilckens cenderung lemah dan kurang kuat (p. 5).

Buku terakhir ialah karya Klaus Berger, profesor emiritus di Universitas Heidelberg. Berger berpendapat bahwa penafsiran Jerman sebenarnya terikat erat dengan filsafat antropologi Heidegger, psikologi, sosiologi, teori agama, dan politik, yang menghancurkan teologi dengan sistem mereka yang sama sekali tak bertuhan (entirely godless system). Akibatnya, para pendeta dan sarjana yang dihasilkan malah berani menentang ajaran Kristen historis meskipun Alkitab sendiri mengajarkannya. Ia menyimpulkan bahwa kritik sejarah di Jerman sebenarnya hanya menghasilkan ateisme, perpecahan gereja, dan tidak membawa seorangpun kepada Kristus (p. 5-6). Ketiga karya ini membawa Carson pada dua kesimpulan, (i) bahwa banyak orang memahami pentingnya bibliologi bagi iman Kristen dan (ii) ada banyak pandangan mengenai Alkitab.

Carson menjabarkan kesimpulan (ii) dalam halaman-halaman selanjutnya dari pengantar ini. Ia menggolongkan publikasi yang ia survei dalam tiga kategori, yakni (a) karya yang memuat pandangan yang bersifat destruktif terhadap Alkitab dan iman Kristen, (b) karya yang mempertahankan otoritas Alkitab namun bukan dalam pemahaman tradisional, dan (c) karya yang mempertahankan otoritas Alkitab dari sudut pandang tradisional.

Di dalam kategori pertama, Carson menyebut setidaknya tujuh karya, di antaranya A New New Testament yang disunting Hal Tausig, yang menambahkan kitab-kitab Gnostik ke dalam Perjanjian Baru; The Human Faces of God  karya Thom Stark yang menganggap Alkitab sebagai buku jahanam (devilish); esai Stephen L. Young, Protective Strategies and the Prestige of the ‘Academic,’ yang menganggap sarjana Injili yang inerantis bersikap tidak fair dalam kesarjanaan mereka (esai ini sebenarnya cukup menggugah emosi Carson. Ia bahkan sempat tergoda membuat respon terhadap tulisan ini. Hanya saja ia memungkasi, “Mercifully, however, I decided that the target was too easy”); Is Scripture Still Holy? karya A. E. Harvey yang mencoba meredefinisi makna “holy” agar lebih relevan dengan pembaca modern; Encountering Jesus, Encountering Scripture tulisan David Crump yang berargumen bahwa iman pada Yesus tidak harus dilandasi oleh teks; The Bible as Christian Scripture yang disunting oleh Christopher R. Seitz dan Kent Harold Richards; serta pembelaan terhadap metode historis-kritis oleh Roy A. Harrisville dalam bukunya Pandora’s Box Opened (pp. 6-10).

Dalam kategori kedua, setidaknya delapan karya disebut oleh Carson. Menariknya, Carson sempat berkomentar demikian: “Some of these authors offers thoughtful proposals; others belong to the “angry young man” heritage (irrespective of the ages of these authors).” Dua karya pertama yang disebut Carson ialah tulisan Kenton Sparks, God’s Word in Human Words dan tulisan Pete Enns, Inspiration and Incarnation. Kedua karya ini, menurut Carson, lebih memahami versi ineransi yang mereka kritik ketimbang versi ineransi yang mereka ajukan. Akibatnya, agak sulit melihat sumbangsih positif dari kedua tulisan ini. Selanjutnya ada A High View of Scripture? dari Craig Alert yang menganggap ide kanon sebagai ide yang belakangan; Seized by Truth oleh Joel Green, yang mengadopsi sejenis hermeneutik respon-pembaca; The Bible Made Impossible oleh Christian Smith; The Divine Spiration of Scripture (judul versi UK) atau The Divine Authenticity of Scripture (judul versi Amerika) oleh A. T. B. McGowan (agak mengejutkan buat saya!); Scripture and the Authority of God (judul versi UK) atau The Last Word (judul versi Amerika) oleh N. T. Wright; dan, terakhir, Evangelical Faith and the Challenge of Historical Criticism yang disunting oleh Christopher B. Hays dan Christopher B. Ansberry (p. 10-4).

Dalam kategori ketiga, Carson menyebut lebih banyak karya ketimbang dua kategori sebelumnya. Saya mencatat ada dua puluh satu karya disebut oleh Carson, di antaranya In Defense of the Bible suntingan Steven Cowan dan Terry Wilder; karya populer J. I. Packer, Fundamentalism and the Word of God; Taking God at His Word oleh Kevin DeYoung; From the Mouth of God oleh Sinclair Ferguson; The Doctrine of the Word of God oleh John Frame; antologi yang disunting Paul Helm dan Carl Trueman berjudul The Trustworthiness of God; buku suntingan David Garner, Did God Really Say?; Can We Still Believe the Bible oleh Craig Blomberg; Do Historical Matters to Faith yang disunting James Hoffmeier dan Dennis Magary; Has God Said? Oleh John Douglas Morrison; Words of Live oleh Timothy Ward; dua karya Vern Poythress, Innerancy and Worldview dan Innerancy and the Gospels, serta beberapa karya lain (p. 15-17).

**********

Dalam bagian kedua, yang berfokus pada diskusi mengenai otoritas Alkitab, ada beberapa hal penting yang Carson catat. Pertama, ia melihat bahwa kini ada empat argumen utama yang kerap digunakan kelompok revisionis untuk menyerang otoritas Alkitab, yakni (i) kerusakan ortodoks teks Perjanjian Baru dan bahwa sebagian besar tulisan Perjanjian Baru merupakan tulisan pseudonim, yang secara moral bersifat problematis. Promotor utama argumen-argumen ini ialah, tentu saja, Bart Simpson! Ehmmm, Bart Ehrman maksud saya 🙂 ; (ii) menghidupkan kembali tesis Bauer, yang menganggap bahwa Kekristenan awal bersifat jamak dan tak punya batasan kanon. Masalah muncul ketika salah satu kelompok (cikal bakal kelompok Ortodoks; Ehrman menyebutnya Proto-Orthodox) yang intoleran menjadi kuat dan menghapuskan kejamakan tersebut; (iii) Bapa Gereja sejak semula tidak menganut high view of Scripture, khususnya ineransi; (iv) masih terkait dengan (iii), konsekuensinya high view bukanlah pandangan gereja sejak semula. Pandangan ini merupakan pandangan teolog Protestan yang belakangan.

Selain hal ini, Carson juga melihat adanya pergeseran dalam teori akomodasi. Ia menilai bahwa sejak masa rasionalisme, teori akomodasi mencakup juga kemungkinan kesalahan, kekeliruan teologis, dan hal-hal serupa. Problem dengan teori akomodasi demikian ialah bahwa teori ini mengasumsikan kesalahan sebagai bagian yang esensial dari manusia (seingat saya, kritik ini juga sempat disinggung Tim Keller dalam bukunya Reason for God). Carson juga kembali menyinggung pandangan bahwa high view of Scripture merupakan konsep yang muncul belakangan. Sebagai contoh, beberapa orang merujuk pada contoh kasus di Inggris. Mereka melihat bahwa pandangan yang tinggi terhadap Alkitab baru disebarkan oleh Louis Gaussen sekitar tahun 1850-an. Carson melihat pandangan ini bertolak belakang dengan fakta. Nyatanya, Samuel Coleridge, dalam karyanya yang diterbitkan sesudah kematiannya (1441), menuliskan bahwa pada masanya pandangan yang tinggi terhadap Alkitab merupakan pandangan populer pada masa hidupnya. Beberapa yang lain beranggapan bahwa pandangan yang tinggi terhadap Alkitab merupakan ide yang dicetuskan oleh Charles Hodge dan Benjamin Warfield, yang dipengaruhi oleh Thomas Reid dan Common Sense Realism di Skotlandia. Carson menilai pandangan ini pun problematis. Hanya saja, ia tidak menjelaskan lebih jauh sebab salah satu artikel dalam antologi ini secara khusus membahas hal ini (The Old Princetonian on Biblical Authority oleh Bradley N. Seeman). Hal terakhir yang dicatat Carson dalam bagian ini ialah pergeseran pandangan tentang Alkitab dalam kelompok Roma Katolik. Menurutnya, sejak Konsili Vatikan II, penekanan terhadap Allah sebagai pengarang Kitab Suci beralih kepada manusia sebagai penulis. Hal ini memang tidak berpengaruh dalam kelompok tersebut sebab otoritas tertinggi mereka ialah ajaran gereja. Namun, dalam konteks Protestan, pandangan demikian sejalan dengan ide yang muncul dalam kalangan Protestan Liberal.

**********

Sebelum melangkah ke bagian ketiga, Carson sedikit mengklarifikasi beberapa hal. Salah satunya tentang definis ineransi. Ia menuliskan bahwa

To claim that the Bible is inerrant is to focus on the Bible’s truthfulness wherever it is making a truth claim. The word is not to be confused with degrees of precision or with hermeneutical stipulation; it happily acknowledges that there are complex issues of literary genre with which to wrestle, and that not every sentence is a falsifiable proposition.

**********

Di dalam bagian ketiga, secara umum ada tiga hal utama yang Carson singgung. Pertama, isu biblikal dan hermeneutis, yang mencakup problem dengan kriteria autentisitas dan makna “historis”; relasi antara genre dan kebenaran yang disampaikan Alkitab; bagaimana pandangan Yesus tentang Perjanjian Lama; reliabilitas kitab-kitab Injil; penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru; serta sejarah kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua, isu filosofis dan teologis, yang mencakup diskusi ontologis mengapa ineransi muncul di kalangan Kristen di hampir belahan dunia; relasi Allah dengan firman-Nya; isu mengenai relasi Allah dan pengarang manusia (double authorship of Scripture); kejelasan Alkitab dan univalensi makna teks; serta relasi Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Terakhir, isu terkait relasi Kekristenan dengan agama lain, khususnya bagaimana relasi Alkitab dengan kitab suci agama monoteistik lain (Islam), dengan agama non-theistik (Buddha), dan dengan agama politeistik (Hindu). Meski tidak semua, hampir semua isu ini akan dibahas secara khusus dalam beragam esai yang dimuat dalam antologi ini.

**********

Selain mensurvei publikasi bibliologis, bagian pengantar ini sebenarnya juga memberi glimpse mengenai rute panjang yang akan dijalani di sepanjang buku ini. Sejujurnya, setelah membaca pengantar ini, khususnya glimpse mengenai berbagai isu yang akan digarap, saya jadi makin bersemangat membaca buku ini. Meski harganya terbilang sangat mahal (harga aslinya sekitar US $ 55, namun dengan berbagai ongkos tambahan, harganya mendekati IDR 1 juta di Indonesia. So, buku ini merupakan salah satu buku termahal yang saya miliki!), namun uang yang harus dikeluarkan sangat sebanding dengan topik-topik yang akan dibahas. Saya memang belum tahu apakah tiap-tiap artikel akan membuat saya makin bersemangat membaca atau malah sebaliknya. Terlebih seorang sarjana sempat memberi review kurang positif terhadap buku ini. Meski demikian, melihat nama-nama besar yang ada, saya optimis saya tidak akan kecewa memiliki buku ini dalam rak buku saya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s