Catatan Akhir Tahun

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2016 ini. Tak bisa disangkal, ada banyak warna yang muncul selama tahun ini. Beberapa warna itu membawa nuansa suram, tetapi tidak sedikit pula warna yang mencerahkan hari saya. Nah, kali ini saya ingin share dua hal penting yang terjadi dalam rentang waktu semester terakhir ini.

**********

img_3339
Kenangan Foto Keluarga 2013

Hal pertama ialah kehilangan yang saya alami minggu kemarin. Tanggal 19 Desember 2016, sekitar pukul 23.45 Tuhan memanggil mami saya kembali pulang ke pangkuan-Nya. Kepergian beliau ini mengakhiri perjuangan panjang beliau bergumul dengan kelemahan tubuh selama hampir dua setengah tahun. Ijinkan saya mengisahkannya sedikit lebih detil.

Pada bulan Agustus 2014, ketika saya akan mengakhiri pelayanan di tempat lama, mami saya terjatuh sehingga tulang paha kanannya patah dan remuk. Akibatnya, sebulan kemudian beliau harus menjalani operasi penggantian tulang. Operasi itu memang berhasil, namun adaptasi mami saya dengan tulang barunya ternyata tidak berjalan baik. Beliau merasa kesakitan setiap kali mencoba belajar berdiri dan berjalan. Alhasil, sejak saat itu beliau praktis tidak lagi bisa berjalan. Kenyataan ini nampaknya menimbulkan tekanan pada beliau, sebab sejatinya beliau merupakan orang yang cukup aktif.

Tekanan ini diperparah dengan kenyataan bahwa beliau harus pisah tempat tinggal dengan saya dan keluarga. Tempat tinggal saya saat ini relatif mungil, sehingga hampir tidak mungkin mengajak beliau tinggal bersama saya. Lebih lagi karena persoalan finansial, koko saya juga tidak bisa mendapatkan tempat tinggal sementara di sekitar Surabaya, yang mudah saya kunjungi. Koko saya mendapatkan kontrakan yang bisa dijangkau justru di daerah Gresik. Saya juga tidak bisa berbuat banyak sebab waktu itu saya pun memiliki beberapa pergumulan finansial. Selain faktor jarak yang jauh, kesibukan saya waktu itu kian membuat intensitas pertemuan kami makin menurun. Sangat sulit bagi saya dan keluarga untuk bisa bertemu dengan beliau secara rutin. Perpisahan ini membuat mami saya sangat rindu dengan saya. Koko saya bercerita bahwa beliau berulang kali memanggil koko saya atau anak dari saudara saya dengan nama saya. Kedua hal ini nampaknya membuat semangat hidup beliau menurun. Beliau jadi susah makan dan, akibatnya, berulang kali masuk rumah sakit karena kadar kaliumnya menurun.

Singkat cerita, faktor stress dan sisa-sisa stroke yang sempat beliau alami empat tahun lalu, memuncak sekitar dua minggu lalu. Di awal minggu itu, saudara saya memberi tahu saya bahwa mami saya makin kehilangan nafsu makan. Beberapa hari kemudian (Jumat; 16/12), sesudah melayani perayaan Natal persekutuan wanita Kalam Kudus, saudara saya memberi tahu saya bahwa mami saya terus melihat ke atas sambil berulang kali berkata bahwa beliau sudah dijemput. Dia meminta saya untuk segera menengok mami saya. Hanya saja, karena ada beberapa tugas yang tidak mungkin saya tinggalkan, saya katakan bahwa saya baru bisa mengunjungi beliau hari Senin.

Hari minggu, sesudah berkotbah di Ibadah II gereja tempat saya melayani, saudara saya mengirimkan pesan bahwa mami saya sudah tidak sadar. Dalam kondisi panik, saya segera meminta dia membawa mami saya ke UGD sebuah rumah sakit. Ketika saya menemui mami saya di UGD, saya sempat berbicara pada beliau dan beliau masih bisa merespon dengan senyum. Sore harinya, koko saya memberi tahu bahwa mami kami dipindah di ICU untuk penanganan yang lebih intens. Esoknya, saya masih sempat berdoa bagi beliau di ICU, bahkan sore harinya saya mendapat kabar dari koko saya bahwa mami kami sudah dipindah ke ruang pemulihan. Tentu saya merasa cukup lega karena itu berarti kondisi beliau sudah jauh lebih stabil.

Malam harinya, seusai gladi bersih, saya bersiap untuk beristirahat. Tiba-tiba, koko saya menghubungi saya dan memberi tahu bahwa kondisi mami kami makin kurang baik. Koko saya meminta saya untuk segera ke rumah sakit, bersiap seandainya terjadi sesuatu yang  tidak kami harapkan. Awalnya, saya hendak menunda sampai esok hari, sebab badan saya waktu itu benar-benar lelah dan lemah. Namun, sebuah suara berbicara pada saya bahwa malam itu mungkin akan menjadi malam terakhir saya bertemu mami. Akhirnya, dengan seluruh tenaga yang tersisa, saya segera berangkat ke rumah sakit. Tekad saya hanya satu, bila memang malam itu menjadi malam terakhir saya bertemu beliau, saya ingin beliau tahu betapa saya mencintai beliau.

Ketika tiba di rumah sakit, koko saya memberi tahu bahwa tekanan darah mami kami makin menurun. Saya segera menemui beliau di ruang pemulihan dan mengungkapkan betapa saya menyayangi beliau sambil meminta maaf karena masih belum bisa menyenangkan beliau. Beliau hanya merespon dengan sebuah senyum, senyum terakhir yang saya dapatkan dari beliau … Melihat kondisi beliau, saya merasa beliau tidak akan kuat bertahan lama. Saya ungkapkan hal ini kepada koko saya dan dia meminta saya untuk berdoa bagi mami saya. Saya kembali masuk ke ruang pemulihan, berdoa bagi mami, mengatakan bahwa tidak ada hal yang beliau perlu kuatirkan sebab anak-anak beliau sudah mandiri, sambil berterima kasih karena beliau telah mendidik saya dan koko saya apa artinya mencintai dan melayani Tuhan. Sekitar lima menit kemudian, dokter memberi tahu kami bahwa nadi beliau sudah tidak lagi teraba. Beliau pergi dengan tenang, seperti orang yang terlelap, penuh kedamaian karena beliau tahu siapa yang ditemuinya.

img_3306Sejujurnya, kenangan-kenangan bersama beliau dan penyesalan karena belum bisa memberikan yang terbaik bagi beliau membuat hati ini terasa perih. Bagaimanapun, kehilangan orang yang kita kasihi tidak akan pernah menjadi hal yang mudah untuk dijalani. Tetapi, dalam hal ini, keyakinan teologis benar-benar menjadi penyejuk di tengah duka. Keyakinan bahwa beliau sudah bersukacita bersama dengan Tuhan membuat saya dan keluarga melihat kehilangan ini dengan cara yang berbeda. Tentu saja, kehilangan ini membekas dan menyadarkan kami bahwa ada sesuatu yang penting yang baru saja hilang. Meski demikian, sukacita besar yang beliau alami kini membuat kami sadar bahwa dukacita kami tidaklah beralasan. Bagaimana bisa kami berdukacita untuk orang yang sedang bersukacita?

Kehilangan ini juga menyadarkan kami pentingnya komunitas Kristen yang saling membangun dan menguatkan. Nyatanya, Tuhan mengirimkan banyak saudara seiman yang terus berjalan bersama kami mulai dari masa mami bergumul dengan kelemahan tubuh hingga beliau mengakhiri pergumulannya. Kehadiran mereka membuat kami sadar bahwa kami tidak pernah sendiri menghadapi kesulitan ini. Kami sangat bersyukur pada Tuhan untuk kebaikan tanpa batas yang dihadirkan oleh instrumen-instrumen kasih Allah ini.

**********

Hal kedua ialah terselesaikannya tesis saya dan, dengan demikian, juga studi saya. Hurrayy!! Secara praktis, saya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk penyelesaian seluruh tesis ini. Saya sudah menyelesaikan dan mengumpulkan seluruh draft tesis pada akhir September. Tetapi karena beberapa hal di luar kendali saya, saya baru bisa mengumpulkan tesis secara resmi pada awal Nopember. Lima minggu kelebihannya, lebih banyak saya gunakan untuk membaca buku-buku mahal di perpustakaan (Puji Tuhan setidaknya sekitar enam buku bisa saya habiskan dalam rentang waktu lima mingu itu. Maklum saya bukan pembaca cepat hehehe). Yang jelas, proses penulisan tesis ini benar-benar menyenangkan dan menggairahkan, terlebih karena kemurahan Tuhan sehingga saya bisa disupervisi oleh profesor yang memang saya kejar hehehe.

Salah satu tantangan terberat yang harus saya hadapi selama proses penulisan tesis ini tentu adalah perpisahan dengan keluarga. Saya makin menyadari bahwa saya merupakan tipikal family-man (kalau tidak percaya lihatlah perut saya. Ketika semua orang sibuk mengejar perut six-pack, saya cukup bangga dengan perut family-pack saya hehehe). Perpisahan dengan keluarga bukanlah hal yang mudah untuk saya jalani. Meskipun teknologi makin maju, saya tetap yakin bahwa teknologi tidak bisa menggantikan kehadiran langsung. Saking rindunya saya dengan keluarga, sampai-sampai reffrain lagu Kangen­-nya Dewa 19 menjadi lagu wajib saya saat itu hehehe.

Meski demikian, ada satu pelajaran rohani penting yang saya dapatkan dalam studi ini. Saya berani menceritakannya karena hal ini sudah terjadi hehehe. Menjelang akhir studi, sekolah mengirimkan total tunggakan yang harus saya bayar. Saya memang mendapat beasiswa penuh, tapi karena saya mengajak keluarga selama satu tahun pertama, akibatnya ada ongkos tambahan yang harus saya bayarkan. Nah, total tunggakan yang harus saya bayar waktu itu ialah sekitar SGD 1000. Jumlah ini jelas di luar dugaan saya, sebab ternyata ada beberapa item yang saya lewatkan. Celakanya tabungan saya waktu itu hanya tersisa beberapa ratus dolar. Biaya pengobatan yang sempat saya jalani awal tahun ini dan juga berbagai keperluan lain sangat menguras tabungan kami waktu itu.

Waktu itu saya benar-benar bingung bagaimana harus membayarnya. Meski demikian, saya mencoba menyimpan hal ini sendiri. Saya berhati-hati supaya tidak timbul kesan negatif tentang saya secara khusus atau korps hamba Tuhan secara umum. Sejujurnya, memang sempat terbersit untuk berhutang dulu pada gereja atau si A, atau sharing dengan si B dan si C dengan harapan Tuhan “menggerakkan” hati mereka hehehe. Akan tetapi, karena saya ke sana karena tuntunan Tuhan, maka Tuhan yang harus saya “tagih” lebih dulu hehehe. Tiap hari saya berdoa memohon Tuhan yang mencukupkan kebutuhan ini. Isi doa saya waktu itu kurang lebih demikian:

“Tuhan, Engkau sudah menuntun hamba berangkat ke sini dengan kepala tegak, mohon jangan biarkan hamba-Mu pulang dengan kepala tertunduk. Tuhan tahu bahwa waktu itu hamba sudah tidak lagi bernafsu studi di luar negeri, tetapi Tuhan malah kirim. Jadi, karena Tuhan yang kirim, sekarang kiranya Tuhan juga yang cukupkan kebutuhan hamba.”

Singkat cerita, ketika selesai studi semua tunggakan itu terbayar tanpa hutang, bahkan luar biasanya sekolah malah membayar kelebihan biaya kepada saya sekitar SGD 200 (Kalau ingin tahu detil ceritanya, silahkan datang di Ibadah Minggu GKA Trinitas tanggal 8 Januari 2017, saya akan menceritakannya di sana hehehe). Kalau Tuhan yang memimpin, percayalah Dia pasti mencukupkan!

Terakhir, beberapa orang sempat bertanya kepada saya tentang topik apa yang saya tulis untuk tesis saya di Trinity. FYI, saya menulis tentang humor dalam pengajaran Yesus. Karena banyak orang menyebut saya humoris (kalau bukan jayus), saya jadi terdorong untuk berpikir kira-kira apakah Yesus juga seorang yang humoris? Jawaban saya afirmatif dan untuk membuktikannya, saya berkonsentrasi pada satu perikop (Antithesis; Mat. 5:21-48) untuk menemukan aspek-aspek humor di sana dan implikasinya dalam memahami sosok Yesus maupun interpretasi beberapa ucapan di sana. Nah, karena hal ini, saya sempat berkelakar bahwa nantinya saya benar-benar memiliki dua gelar MTh yang berbeda, yang satu “Magister Theologi,” dan yang satunya Master of Theological Humor, bukan Master of Theology hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s