Rahasia Mengatasi Kebutuhan

10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.  11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.  12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:10-13).

Nas yang kita baca ini merupakan bagian dari ungkapan terima kasih Paulus kepada jemaat Filipi atas bantuan finansial mereka. Dari nas ini juga kita bisa belajar – dari Paulus – tentang bagaimana menyikapi keadaan ekonomis kita dengan sikap yang tepat. Paulus mulai dengan menyampaikan sukacitanya yang besar karena perhatian jemaat yang muncul kembali kepadanya (ay. 10a). Dari konteksnya jelas bahwa perhatian yang dimaksud di sini ialah bantuan finansial jemaat untuk Paulus. Setelah sekian lama mereka tidak memiliki kesempatan menyampaikan perhatian mereka, kini mereka memiliki kesempatan menunjukkan perhatian tersebut (ay. 10b).

Akan tetapi, Paulus nampaknya menyadari bahwa jemaat bisa saja salah paham dengan sukacita Paulus. Jemaat bisa saja berpikir bahwa Paulus bersukacita karena pemberian jemaat memenuhi kebutuhannya atau, lebih buruk lagi, bisa saja jemaat berpikir bahwa Paulus mengharapkan pemberian edisi lanjutan. Di ay. 11, Paulus mengantisipasi kesalahpahaman tersebut dengan menjelaskan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Seorang sarjana Perjanjian Baru, Ralph Martin, menjelaskan bahwa kata “mencukupkan diri” ini secara umum merujuk pada orang yang ketentramannya tidak dipengaruhi keadaan eksternal, sebab ia menyadari bahwa apa yang ia miliki lebih dari cukup untuk keadaan apapun. Jadi, melalui penggunaan kata ini, Paulus hendak menunjukkan bahwa ia tidak seperti kebanyakan orang yang keadaan hatinya bergantung pada pasang surutnya keadaan ekonomi mereka. Bagi Paulus, keadaan kekurangan dan kelebihan tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

grocery-im1
Picture was taken from Google

Di ay. 12, Paulus menjelaskan lebih detil pernyataannya tersebut. Pengalaman kekurangan dan kelebihan bukanlah hal baru bagi Paulus. Ia berulangkali mengalami pengalaman tersebut. Itu sebabnya ia tahu apa itu kekurangan, apa itu kelebihan (ay. 12a). Ia menambahkan bahwa ia bisa menghadapi semua hal itu karena ia telah mengetahui rahasia menghadapi semua itu (kontra TB LAI. “tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku). Rahasia inilah yang memampukan Paulus menghadapi lapar dan kenyang, kekurangan maupun kelimpahan dengan rasa puas.

Di ay. 13, ia memaparkan rahasia itu: “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Paulus bisa bersikap tenang bukan karena dia sudah mencapai taraf kebijaksanaan tertinggi, seperti yang diyakini filsuf Stoa. Sebaliknya, ia bisa menghadapi semua situasi itu karena ia bergantung pada Allah. Dia tahu memiliki Allah sudah lebih dari cukup sebab Allah pasti memberinya kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi semua keadaan tersebut. Paulus yakin bahwa Allah pasti akan mencukupkan keperluannya, sehingga keadaan kelebihan dan kekurangan tidak akan berdampak terlalu besar bagi dia. Keyakinan ini pula yang hendak Paulus sampaikan kepada jemaat Filipi yang kuatir (4:6-7) dan juga kita: bergantunglah pada Allah dan yakinlah bahwa Allah kita akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya (ay. 19).

Setiap kita pasti memiliki pergumulan ekonomi masing-masing. Namun, hari ini Paulus mengajar kita belajar bergantung pada Allah, bukan pada yang lain. Selama kita tidak bergantung pada Allah maka hidup kita akan terus dikendalikan oleh keadaan; selama kita tidak bergantung pada Allah, maka kita akan secara otomatis akan bergantung pada orang lain. Masalahnya, bergantung pada orang lain hanya membuat kita kecewa atau, lebih buruk lagi, menjadikan kita tukang manipulasi orang lain. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa Tuhan sering memakai orang lain untuk menjadi saluran berkat-Nya, tetapi jangan bersandar pada manusia: tetaplah bersandar dan berharap pada Tuhan. Percayalah Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita dengan cara-Nya yang kreatif!

* Ringkasan Kotbah Kebaktian Umum GKA Trinitas 8 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s