Gerakan Posmodernisme I: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

“Kita sekarang hidup di zaman posmo!” Samar-samar saya masih dapat mengingat salah satu teman saya meneriakkan kalimat itu di depan muka saya. Sambil memasang ekspresi marah, dia meneriakkan itu agar saya mengerti mengapa dia tidak harus setuju dengan saya dalam perdebatan saat itu.

Saya yakin banyak dari pembaca juga sering mendengar istilah “Posmodernisme.” Apa itu gerakan Posmodernisme dan mengapa kita harus mengenal tentang gerakan ini? Di empat artikel ke depan (termasuk artikel ini), saya akan menjelaskan secara singkat tentang gerakan ini dan karakter-karakternya, sambil secara singkat pula menganalisa tantangan-tantangan yang Posmodernisme berikan kepada studi teologi, dan jika ada, apa kontribusinya.

Apa itu Posmodernisme?

Gerakan Posmodernisme sangatlah sulit untuk didefinisikan, apalagi secara singkat. Namun, jika sebuah definisi sederhana adalah sesuatu yang kita cari, definisi dari Kevin Hart dapat kita adopsi. Zaman Posmodern adalah zaman yang muncul setelah zaman Modern. Zaman Modern klasik dapat diperkirakan terjadi sekitar tahun 1789-1900. Tahun 1789 adalah tahun di mana Revolusi Prancis dimulai, dan masa-masa ini adalah masa-masa pembubaran otoritas-otoritas monarki. Revolusi Prancis menghasilkan prinsip-prinsip yang meninggikan kebebasan, demokrasi, dan memulai zaman yang dinamakan Enlightenment (masa Pencerahan). Di masa Pencerahan ini, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Rasio dan akal manusia (yang berdasarkan science) menjadi hal yang ditinggikan. Di zaman ini, model-model teologi dan filsafat etika yang dikarakteri oleh “akal sehat” bermunculan. Nama-nama seperti Immanuel Kant, David Hume, dan Francis Hutcheson muncul untuk memperkaya teologi dan filsafat yang berdasarkan akal manusia. Setelah tahun 1900, gerakan Modernisme melambat dan memasuki zaman yang beberapa penulis sebut dengan Late Modernity. Zaman ini berakhir sekitar tahun 1980an.

Pada tahun 1980-1990an, sebuah zaman baru yang bernama Posmodern (arti literal: setelah Modern) mulai mengeluarkan kuncup bunganya. Sangat berbeda dengan Modernisme, Posmodernisme menolak bahwa akal manusia bersifat linear ataupun monokrom (i.e. akal sehat itu bercabang dan berbeda-beda, bukan hanya satu jenis). Posmodernisme bahkan menolak bahwa akal manusia itu berdiri secara mandiri dari budaya ataupun pengaruh-pengaruh lainnya (seperti yang akan saya jelaskan di artikel-artikel setelahnya). Karena itu, zaman Posmodern secara sederhana dikarakterisasi oleh tiga nilai: (1) dekonstrukturisme, (2) penolakan metanarrative , dan (3) pemahaman bahwa pengetahuan adalah produk dari kekuasaan.

Pengaruh Posmodernisme telah sangat mengakar di dunia Barat dan mulai memasuki dunia Timur. Pengaruh-pengaruh ini dapat dilihat di sekililing kita. Contoh: di video game “Assassin’s Creed” (di filmnya juga), slogan yang diadopsi para karakter utama berbunyi, “Nothing is true, everything is permitted” (Tidak ada yang benar, semuanya itu diperbolehkan).

EmilysQuotes.Com-truth-experience-understanding-Hassan-i-Sabbah

Tiap nilai-nilai yang saya sebutkan di atas dapat memberikan tantangan-tantangan tersendiri bagi studi teologi. Maka dari itu, masing-masing dari tiga artikel setelah ini akan menganalisa tiap nilai-nilai di atas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s