Gerakan Posmodernisme II: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Deconstructionism

Salah satu pelopor gerakan Posmodernisme bernama Jacque Derrida (1930-2004). Derrida mempopulerkan ide yang dia sebut dengan Deconstructionism (kita sebut saja dalam Bahasa Indonesia sebagai Dekonstrukturisme). Menurut ide ini, terdapat beberapa asumsi-asumsi yang dibentuk oleh budaya dan tersembunyi di balik bahasa. Di dalam ide ini, gerakan Posmodernisme menolak asumsi Modernisme bahwa terdapat objek fisik di luar persepsi kita yang dapat kita ketahui. Untuk mempermudah, saya akan memberikan sebuah contoh:

7a1543c876f38231493b7750d74e96fdModernisme: Saya melihat sebuah tempat duduk (contoh: bangku). Saya tahu itu adalah tempat duduk. Saya tahu fungsi tempat duduk adalah sebagai tempat saya duduk.

Posmodernisme: Saya melihat sebuah tempat duduk (contoh: bangku). Saya tahu itu adalah tempat duduk hanya karena saya diberitahu dan diajarkan selama saya hidup bahwa itu adalah tempat duduk. Apakah tempat duduk itu sebenarnya ada atau tidak kita tidak tahu. Yang kita tahu adalah kita diajarkan bahwa tempat duduk itu ada. Saya tahu fungsi tempat duduk adalah sebagai tempat saya duduk karena saya diajarkan demikian pula oleh budaya saya. Semua asumsi yang diajarkan oleh budaya ini tertanam di dalam cara saya menyebut benda tersebut, yaitu “tempat duduk” atau “bangku.”

Dapat dilihat bahwa di dalam zaman Modern, terdapat asumsi-asumsi tentang akal sehat. Di zaman Modern, jika ada seseorang yang bertanya, “Kenapa kamu bilang itu tempat duduk?,” jawaban tipikal yang diberikan mungkin adalah, “Kamu bodoh, ya? Ini jelas tempat duduk!” Gerakan Posmodernisme menentang asumsi-asumsi seperti ini dan mengatakan bahwa akal manusia itu dipengaruhi oleh budaya dan pengaruh tersebut tersembunyi di balik bahasa yang kita gunakan (contoh: istilah “tempat duduk”). Suatu objek seperti tempat duduk hanya dapat kita kira sebagai tempat duduk saat budaya dan komunitas berkata bendar teresebut adalah tempat duduk.

Bagi orang-orang Posmo, pengetahuan akan benda-benda di luar diri kita hanya diciptakan oleh persepsi dan asumsi kita saja. Apakah seharusnya benda-benda tersebut itu ada atau tidak, kita tidak tahu karena kita terpengaruh oleh asumsi-asumsi kita. Karena semua asumsi ini, kita tidak dapat melihat apapun secara objektif, dan maka dari itu, kita tidak dapat mengetahui apapun secara objektif. Posmodernisme berpendapat bahwa dunia ini tidak bergerak secara mekanis, melainkan secara relasional. Kebenaran yang dipegang oleh seseorang bukanlah kebenaran mutlak karena kebenaran tersebut dipengaruhi oleh relasinya dengan komunitas melalui bahasa dan budaya. Dan karena ada banyak komunitas-komunitas yang berbeda di dunia, terdapat pula banyak “kebenaran-kebenaran” yang berbeda. Orang-orang Posmodern memegang konsep Pluralisme (perbedaan) yang ekstrim, sehingga mereka juga memegang paham Relativisme; bahwa kebenaran itu sangat relatif.

Tantangan-Tantangan Negatif

Paham Dekonstrukturisme membawa beberapa tantangan-tantangan negatif bagi studi teologi. Pertama, tidak seperti orang-orang Modernis naturalis yang bersifat realis, orang-orang Posmo bersifat anti-realis. Mereka menolak gagasan bahwa ada hubungan yang dapat diketahui antara “apa yang ada” dengan “apa yang kita pikir ada.” Maka dari itu, saat berbicara tentang sains (ilmu pengetahuan), orang-orang Posmo mengakui bahwa ada beberapa prinsip-prinsip ilmiah yang tidak harus benar atau bahkan terkadang tidak bekerja sama sekali. Hal ini memberikan tantangan bagi studi teologi, terutama saat berbicara tentang teologi alam semesta. Saat mempelajari tentang Allah, para teolog sering bertanya, “Apakah alam semesta menunjukkan keberadaan Allah?” Saat paham Posmo datang, diskusi-diskusi seperti ini menjadi jauh lebih sulit. Pertanyaan yang dibahas dapat berubah dari, “Apakah alam semesta menunjukkan keberadaan Allah?,” menjadi “Apa itu alam semesta?,” lalu menjadi “Apa yang sebenarnya ada di alam semesta?,” lalu menjadi “Apakah kita bisa tahu tentang yang ada di alam semesta?,” dan dengan paham Posmo pertanyaan itu menjadi, “Apa yang tersembunyi di balik persepsi kita tentang yang ada di alam semesta?”

Fokus diskusi makin menjauh dari pencarian pengetahuan tentang Allah, dan makin mendekat ke pembanggaan sifat skeptik manusia. Dasar-dasar diskusi natural theology didorong makin jauh, dan persamaan antara pemikir-pemikir Kristen dengan pemikir-pemikir filsafat ateis makin hilang.

impostor

Tantangan kedua adalah paham Relativisme yang dihasilkan oleh Dekonstrukturisme. Bagi Posmodernisme, kebenaran bukanlah sesuatu yang sesuai dengan realita (contoh: perkataan “itu adalah bangku” itu benar karena objek itu memang bangku). Melainkan, kebenaran dinilai berdasarkan konsistensi antara proposisi (atau asumsi) yang satu dengan proposisi-proposisi lainnya di dalam satu set kebenaran. Bagi Derrida, banyak sistem-sistem pemikiran yang dapat menghancurkan dirinya sendiri (auto-deconstructible) karena banyak kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Hanya jika sebuah sistem pemikiran itu konsisten barulah sistem pemikiran itu dapat disebut “benar,” meskipun sistem pemikiran itu tidak sesuai dengan realitas (yang tidak dapat kita ketahui).

Tantangan yang diberikan kepada teologi muncul karena, bagi Posmodernisme, tidak ada standar objektif yang absolut yang dapat digunakan untuk menilai apakah sebuah pemikiran teologi itu benar. Seseorang dapat secara bebas menginterpretasikan dunia, ataupun sebuah teks, ataupun “bukti-bukti” lain dengan pemikiran subjektif mereka dan mereka dapat mencapai kesimpulan yang berbeda-beda. Selama kesimpulan-kesimpulan tersebut konsisten, mereka dianggap benar. Tantangan ini menimbulkan masalah-masalah yang besar terhadap studi teologi. Pertama, studi teologi dengan pemikiran Posmodernisme menimbulkan diskusi-diskusi yang apatis. Diskusi-diskusi teologi dapat secara mudah mencapai kesimpulan “kita setuju untuk tidak setuju.” Karena ada banyak “kebenaran,” teologi masing-masing teolog dapat dibenarkan tanpa ada keinginan untuk secara serius berdebat ataupun untuk mencari solusi. Kedua, jika Relativisme diaplikasikan ke studi teologi, timbul masalah dengan teologi “eksklusif;” sebuah teologi yang, jika benar, menolak teologi-teologi yang lain. Kekristenan adalah teologi eksklusif. Kekristenan mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Di zaman Posmodern, hanya ada dua pilihan bagi teologi eksklusif seperti kekristenan: kekristenan harus menurunkan “derajat”nya dan mengakui bahwa Yesus hanyalah salah satu dari banyak jalan menuju surga, atau kekristenan dianggap salah sepenuhnya.

Tantangan ketiga muncul di area studi teks. Sama seperti saat Posmodernisme menolak gagasan bahwa kita dapat mengetahui bahwa “tempat duduk” itu ada, Posmodernisme juga menolak gagasan bahwa kita dapat mengetahui arti sesungguhnya dari sebuah teks. Orang-orang Posmo berpendapat bahwa sebuah teks (tulisan) tidak memiliki arti tersendiri, dan karena itu, sebuah arti hanya muncul saat seorang pembaca melihat teks tersebut dan mengartikannya. Menurut Posmodernisme, sama seperti ada banyak kebenaran, juga terdapat banyak arti di dalam satu teks yang tergantung oleh pembacanya. Bagi Posmodernisme, bahasa di dalam teks tidak memberikan arti, tetapi membentuk arti; sama seperti istilah “tempat duduk” tidak memberikan arti bahwa benda itu secara realita adalah tempat duduk, melainkan membentuk arti yang memaksa kita untuk berpikir bahwa benda itu adalah tempat duduk. Maka dari itu, di dalam membaca apapun, seorang pembaca harus selalu deconstruct (menghancurkan) semua asumsi-asumsi di dalam bahasa. Meskipun begitu, Derrida mengakui bahwa terdapat arti yang dimaksud oleh penulis di balik sebuah teks. Derrida hanya menolak bahwa arti yang dimaksud oleh penulis tersebut tidak dapat diketahui, dan, jika dapat diketahui pun, tidak penting untuk memunculkan arti teks tersebut.

Tantangan yang diberikan di dalam studi teologi sangatlah besar. Studi teologi (pengetahuan akan Allah) biasanya menggunakan teks-teks tertentu yang biasanya dianggap sebagai inspirasi ilahi sebagai dasar atau sumber pengetahuan. Di dalam teologi kekristenan, teks ini adalah Alkitab. Diskusi Posmodern tentang teologi dapat secara mudah menggunakan Alkitab dan, lagi-lagi, mendapat konklusi-konklusi yang berbeda, asalkan konklusi-konklusi tersebut dianggap konsisten. Contoh praktek seperti ini dilakukan oleh teolog bernama John Caputo di bukunya What Would Jesus Deconstruct?.

deconstruction-studies

Di sana, Caputo menggunakan pemikiran Posmodern untuk menginterpretasikan Alkitab. Caputo mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang tidak biasa. Contoh, Caputo berpendapat bahwa gereja hanyalah “rencana B” yang dilakukan oleh murid-murid Yesus karena mereka mengantisipasi kedatangan Kerajaan Allah, tetapi ternyata mereka salah. Karena itu, bagi Caputo, gereja tidak seharusnya bertindak secara otoritatif sebagai wakil Yesus di dunia, tetapi hanya sebagai organisasi yang selalu deconstruct diri sendiri berdasarkan peringatan kehidupan Yesus. Bagi orang-orang Kristen Injili, pendapat ini terlihat melenceng karena bagi mereka gereja adalah wakil keberadaan Kristus di dunia di zaman akhir. Bukan hanya itu, Caputo juga berpendapat bahwa, jika Yesus masih hidup sekarang, Dia akan setuju dengan pernikahan sesama jenis karena Dia akan melihat kasih antar mereka yang Dia sendiri perjuangkan saat Dia hidup.

Caputo mendekonstruksi Alkitab dan berpendapat bahwa, berdasarkan karakter-karakter Yesus di Alkitab, Dia akan melakukan di zaman ini apa yang Dia tidak lakukan saat Dia hidup. Dengan cara baca Posmodern, Caputo mengatakan bahwa Yesus dipengaruhi oleh bahasa dan budaya di abad pertama, dan karena itu, jika semuanya itu didekonstruksi, Yesus akan menjadi Yesus yang dikatakan Caputo. Caputo membaca Alkitab secara subjektif. Akan tetapi, di Posmodernisme, selama pembacaan itu konsisten, pembacaan tersebut tidak harus sesuai dengan maksud penulis, dan dapat dianggap benar. Di dalam dunia Posmodern, pembacaan Caputo dan pembacaan Kristen Injili keduanya dapat dianggap benar meskipun seharusnya keduanya bertentangan satu sama lain.

Kontribusi-Kontribusi Positif

Paham Dekonstrukturisme tidak sepenuhnya buruk. Seperti hal-hal lainnya, Dekonstrukturisme memiliki aspek-aspek kebenaran dan, jika digunakan dengan baik, juga dapat memberikan kontribusi-kontribusi positif untuk studi teologi. Pertama, paham Dekonstrukturisme memang benar saat berpendapat bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Kesadaran yang seperti ini dapat membantu seseorang di dalam studi teologi untuk selalu menanyakan, apakah asumsinya di dalam teologi adalah pengaruh dari budaya dan lingkungannya, ataukah asumsi tersebut didasari oleh Alkitab, yang diinspirasikan oleh Allah. Lebih dari itu, Dekonstrukturisme juga dapat mendorong diskusi-diskusi yang menanyakan apakah sebuah pernyataan di Alkitab adalah pernyataan yang preskriptif (sebuah kebenaran yang melampaui budaya dan waktu, dan harus dilakukan di manapun dan kapanpun), ataukah pernyataan tersebut hanyalah deskriptif (deskripsi akan apa yang terjadi di zaman biblikal yang tercakup di dalam konteks budaya).

Meskipun begitu, pemahaman ini sebaiknya tidak diaplikasikan secara ekstrim seperti yang orang-orang Posmo lakukan; dengan mengatakan bahwa kebenaran objektif itu sama sekali tidak ada atau sama sekali tidak dapat diketahui. Apa yang orang-orang Posmo lakukan kelihatannya didasari oleh kebingungan antara kebenaran dan pengetahuan akan kebenaran, seakan kedua hal tersebut sama saja. Mereka menempatkan kebenaran di dalam dunia “bahasa” yang dapat dipengaruhi oleh komunitas dan budaya, yang akhirnya menjadi subjektif. Padahal seharusnya kebenaran ditempatkan di dunia “realitas,” yang seharusnya objektif. Karena itu, meskipun kebenaran yang 100% objektif memang sangat sulit, atau bahkan tidak mungkin untuk didapatkan, kebenaran yang dipahami setiap orang juga tidak mungkin 100% subjektif. Realita objektif akan selalu menghantui interpretasi seseorang, dan sebuah interpretasi akan realitas pasti memiliki kadar kebenaran yang objektif. Tugas manusia di dalam dunia akademis (dan bahkan di dalam dunia manapun) adalah untuk menerapkan metode-metode kritis agar setiap sistem pemikiran dapat menjadi sedekat mungkin dengan realita objektif.

eyboss

Kontribusi yang kedua sangat berhubungan dengan yang pertama, yaitu bahwa Posmodernisme memberikan peran bagi pengaruh komunitas di dalam diskusi-diskusi epistemologi (studi tentang pengetahuan). Memang, orang-orang Posmo memahami hal ini secara negatif saat mereka berkata bahwa setiap individu pasti subjektif karena apa yang mereka anggap sebagai “pengetahuan” atau “kebenaran” adalah pengaruh dari komunitas dan bukan kebenaran universal. Namun, pemahaman ini tidak harus negatif. Seperti yang Millar Erickson katakan, “Apakah fakta bahwa sebuah konklusi pengetahuan selalu disebabkan oleh sebuah situasi tertentu menunjukkan bahwa konklusi tersebut tidak benar? Bukankah hal ini hanya menunjukkan bagaimana sebuah konklusi pengetahuan muncul dan diadopsi, dan bukan tentang benar atau tidaknya konklusi tersebut?” Dengan kata lain, jika Posmodernisme berkata, “Pengetahuan X berasal dari komunitas, jadi pengetahuan X tidak dapat dipercaya,” Erickson berkata, “Pengetahuan X berasal dari komunitas, tetapi bukan berarti bahwa pengetahuan X tidak dapat dipercaya.” Bahkan, pemahaman negatif Posmodernisme tentang hal ini dapat menyerang sistem pemikiran mereka sendiri. Jika pengetahuan yang berasal dari komunitas tidak dapat dipercaya, kita juga dapat menempatkan pengetahuan Posmodernisme sebagai pengetahuan yang berasal dari komunitas dan tidak dapat dipercaya.

Meskipun begitu, kontribusi Posmodernisme dalam hal ini dapat muncul untuk studi teologi. Kekristenan juga memberikan peran yang sama untuk komunitas, tetapi dengan penekanan yang berbeda. Iman kekristenan adalah iman yang berdasarkan pengakuan komunitas dan apa yang disaksikan komunitas (saat para murid menyaksikan Kristus mati dan bangkit kembali). Pengakuan komunitas ini dituliskan dan diteruskan sebagai tradisi kepada gereja. Jadi, teologi kekristenan juga mengakui bahwa pengetahuan mereka merupakan pengetahuan yang dipengaruhi oleh komunitas. Namun, tidak seperti Posmodernisme, kesaksian komunitas ini malah menjadi kepastian bagi mereka bahwa apa yang mereka percayai itu benar. Saat satu orang memberikan kesaksian akan satu kebenaran di luar apa yang diakui oleh komunitas, keraguan dapat muncul. Akan tetapi, saat satu komunitas memberikan kesaksian yang sama akan satu kebenaran, kebenaran tersebut dapat dipastikan merupakan kebenaran yang lebih mendekati realita. Kriteria epistemologi yang seperti inilah yang berguna untuk diskusi-diskusi teologi.

Ketiga, Posmodernisme juga membawa keragua-raguan yang berguna di dalam apa yang sebelumnya telah dianggap jelas. Hal ini penting terutama di dalam diskusi teologi natural, di mana setiap orang melihat “bukti-bukti” keberadaan Allah dari alam semesta secara berbeda. Kita tidak bisa lagi berkata seperti Thomas Aquinas: Jika kita melihat matahari, dengan jelas kita melihat Pencipta di baliknya. Setiap orang melihat “bukti” secara berbeda berdasarkan pengaruh komunitas mereka masing-masing. Karena itu, asumsi-asumsi sebaiknya dihindari di studi teologi, dan para teolog harus menjadi makin waspada untuk tidak memaksakan interpretasi tertentu terhadap “bukti,” entah itu dari alam atau dari sebuah teks, saat lawan diskusi mereka berangkat dari komunitas berbeda dan bahkan tidak mempercayai bahwa alam atau teks tersebut memiliki otoritas.

Di artikel selanjutnya, saya akan mengeksplorasi tantangan-tantangan dan kontribusi-kontribusi dari penolakan akan metanarrative oleh Posmodernisme. Stay tuned, ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s