Gerakan Posmodernisme III: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Rejection of Metanarratives

Pelopor gerakan Posmodernisme yang lain bernama Jean-Francois Lyotard (1924-1998). Bagi Lyotard, Posmodernisme adalah sebuah gerakan yang diwarnai oleh keruntuhan konsep metanarrative. Metanarrative, yang dapat diartikan secara literal sebagai “cerita besar,” adalah kisah-kisah atau cerita-cerita yang dipercayai dapat mengartikan seluruh fenomena-fenomena di dunia. Contoh: metanarrative kekristenan adalah seluruh cerita Alkitab, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan menebus ciptaan melalui Yesus Kristus, dll. Pada saat zaman Modern, sebuah metanarrative muncul yang menjelaskan segala sesuatu melalui akal sehat manusia. Optimisme yang tinggi diberikan untuk akal dan kemandirian individu. Di zaman Modern, semua orang (setidaknya di negara-negara Barat) mempercayai bahwa kemajuan teknologi dan budaya tidak dapat dihindari. Bagi Lyotard, semua ini adalah metanarrative zaman Modern.

buzz-woody-everywhere-metanarrative-metanarrative-everywhere

Di zaman Modern, sebuah metanarrative muncul yang menjelaskan segala sesuatu me-lalui akal sehat manusia. Metanarrative ini disebut sains dan teknologi. Optimisme yang tinggi diberikan untuk akal dan kemandirian individu. Di zaman Modern, semua orang (setidaknya di negara-negara Barat) mempercayai bahwa kemajuan teknologi dan budaya tidak dapat dihindari. Bagi Lyotard, semua ini adalah metanarrative zaman Modern. Akibat dari metanarrative ini antara lain adalah penjajahan yang dilakukan negara-negara Barat kepada negara-negara yang dianggap “kurang maju” secara budaya. Di zaman Posmodern, semua metanarrative ditolak karena “cerita” yang dipercayai oleh komunitas satu tidak sama dengan “cerita” yang dipercaya oleh komunitas lain. Oleh karena itu, paham Posmodernisme mengaku tidak memiliki “cerita” tersendiri sebagai inti dari paham mereka. Posmodernisme mengakui “cerita-cerita” yang berbeda dari perspektif komunitas-komunitas yang berbeda.

154062807_science-communication_-iStockphoto_Thinkstock

Hal ini menyebabkan orang-orang Posmo untuk menjadi apatis dalam “mencari kebenaran,” seperti yang saya telah jelaskan di artikel sebelumnya. Penolakan meta-narrative ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti yang Paul Lakeland jelaskan di bukunya Postmodernity: Christian Identity in a Fragmented Age (1997):

  1. Metanarrative mendiskriminasi komunitas-komunitas minoritas karena ko-munitas yang mayoritas menawarkan sebuah “cerita” yang menjelaskan dunia tanpa menghiraukan orang-orang minoritas. Contoh: metanarrative Modern melahirkan gerakan kolonialisme karena metanarrative Modern bersifat kebaratan dan tidak menghiraukan komunitas-komunitas non-Barat.
  2. Gerakan Posmo menolak bahwa ada otoritas obyektif yang dapat diketahui di luar perspektif manusia (seperti yang saya jelaskan di artikel sebelumnya). Karena sebuah “cerita” seperti metanarrative yang menjelaskan seluruh fenomena di dunia dapat dilihat sebagai otoritas, gerakan Posmo menolaknya.
  3. Metanarrative biasanya tidak sesuai dengan realitas plural di dunia.
  4. Metanarrative telah lama digunakan sebagai alat untuk menindas orang lain.
  5. Pada akhirnya, bagi gerakan Posmo, metanarrative tidak dapat diketahui kebenarannya, dan kita tidak dapat tahu metanarrative mana (dari metanarrative-metanarrative berbeda di dunia) yang benar.

Tantangan-Tantangan

Penolakan metanarrative di paham Posmodernisme memberikan beberapa tantangan bagi studi teologi. Pertama, terdapat banyak orang-orang Posmo yang menilai metanarrative teologis (bahwa Allah itu ada) sebagai cerita fiksi yang telah banyak digunakan untuk memerintah dunia Barat dengan tangan besi (contoh: orang yang menolak kekristenan di Eropa pada Abad Pertengahan, bahkan sampai zaman Reformasi, akan dihukum mati). Karena paham Posmo menolak metanarrative, mereka menolak pengertian tradisional tentang Allah.

Hal ini menjadi tantangan bagi studi teologi, karena studi teologi secara garis besar mengasumsikan keberadaan Allah. Studi teologi mengasumsikan sebuah pengetahuan yang harus dapat diaplikasikan secara universal karena studi tentang Allah hampir selalu menuntut Allah yang menciptakan dunia universal. Paham Posmo menolak pengertian yang seperti ini karena pengertian ini adalah metanarrative dan dapat digunakan untuk mendiskriminasi orang lain yang tidak sepaham. Oleh karena itu, jika diambil secara ekstrim, paham Posmo memiliki kemampuan untuk menghancurkan asumsi yang paling dasar dari studi teologi itu sendiri.

Kedua, paham Posmo juga memberikan tantangan bagi studi teologi karena paham ini mengubah cara pandang moral manusia. Karena metanarrative ditolak, ‘kebenaran’ menjadi plural, sehingga apa yang dianggap sebagai ‘hal yang benar untuk dilakukan’ (moralitas) dapat berbeda-beda sesuai komunitas masing-masing. Maka dari itu, saat studi teologi berbicara tentang masalah moral dan etika, standar etika yang universal tidak dapat lagi diterima.tumblr_m0itd3pnzm1r3mwhao1_500

Di dalam teologi praktis, hal ini dapat berarti bahwa manusia dapat memiliki standar etika yang berbeda-beda. Bahkan mungkin istilah “standar” sudah tidak lagi dapat dipakai, karena pluralism berarti tidak ada lagi standar tertentu. Asalkan sistem etika seseorang konsisten secara internal dan berguna untuk komunitas mereka sendiri, sistem etika ini dapat dianggap benar. Di dalam prakteknya, paham Posmo yang seperti ini sangat mudah dapat menyebabkan kekacauan. Karena metanarrative yang obyektif dan dapat digunakan untuk mengatur moralitas sudah tidak ada, maka seseorang dapat secara bebas melakukan apapun yang mereka mau. Sebuah pemahaman tentang pihak ilahi yang mengatur segala interaksi sosial sekali lagi dianggap tidak berguna. Manusia dapat mengatur dunia manusia sendiri.

Kontribusi-Kontribusi

Meskipun begitu, penolakan metanarrative oleh paham Posmo ini juga memberikan beberapa kontribusi bagi studi teologi. Pertama, sains di zaman Posmodern tidak lagi menjadi absolut, dan muncul pengakuan akan kemungkinan adanya misteri di alam semesta. Teori-teori kontemporer mendukung gagasan ini, seperti teori Uncertainty Principle, Quantum Mechanics, dan Chaos Theory. Sains di zaman Posmodern tidak memiliki optimisme yang tinggi (seperti sains di zaman Modern) terhadap kehebatan sistem hermenutikanya sendiri. Untuk studi teologi, hal ini membuat “peperangan” antara sains dan teologi menjadi berkurang. Sains yang bersifat arogan di zaman Modern telah usai dan sekarang sains dapat mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala hal di alam semesta. Kemungkinan untuk misteri menjadi terbuka dan ruang untuk teologi yang bersifat mistis dan spiritual makin melebar.

Kedua, penolakan metanarrative Posmodernisme disebabkan karena keterbatasan manusia untuk mengetahui kebenaran yang bersifat universal di tengah-tengah dunia yang bersifat plural. Penolakan ini memberikan keuntungan untuk studi teologi, karena studi teologi (khusunya kekristenan) mengakui hal yang sama, bahwa manusia tidak mampu mengetahui kebenaran yang universal. Akan tetapi, teologi memberikan solusi alternatif untuk masalah yang sama tersebut. Respon dari studi teologi bukanlah dengan menolak metanarrative sama sekali seperti paham Posmodern, seakan-akan semua metanarrative adalah hasil dari ciptaan manusia yang terbatas. Metanarrative teologis, seperti yang ditawarkan kekristenan, berdasarkan dari pemahaman bahwa Allah yang maha-tahu dan tidak terbatas memberikan pengetahuan ini kepada manusia. Pemahaman seperti ini tidak seharusnya ditolak mentah-mentah, tetapi harus diteliti lebih lanjut.

Ketiga, cara berpikir Posmodern yang skeptis dan apatis menghasilkan suatu dunia yang dipenuhi oleh perselisihan antara paham-paham berbeda dan berlawanan tanpa titik temu. Hal ini memang tidak memberikan kontribusi ke studi teologi secara langsung, tetapi hal ini menghasilkan suatu kesempatan. Makin banyak orang-orang muda di dunia Barat yang merasa tidak memiliki “arti” dalam hidup dan mereka mencari “arti” ini. Hal ini memberikan kesempatan bagi teologi untuk menawarkan pemahaman alternatif yang memiliki arti.screen-shot-2015-11-01-at-9-17-52-pm

Bukan hanya itu, penolakan metanarrative oleh paham Posmo juga bersifat self-destructive. Paham Posmo sendiri dapat dianggap sebagai sebuah metanarrative yang menjelaskan kenyataan sosiologis yang memiliki metanarrative-metanarrative berbeda. Oleh karena itu, menurut sistem pemikiran Posmo, gerakan Posmodernisme sendiri dapat ditolak sebagai metanarrative. Di sini kesempatan lain muncul bagi teologi. Studi teologi dapat menawarkan cara alternatif untuk menilai metanarrative. Teologi, khusunya kekristenan, dapat menilai keberadaan metanarrative-metanarrative lain yang berbeda-beda melalui metanarrative yang diwahyukan Allah sendiri, yaitu Injil Yesus Kristus, Firman Allah yang abadi.

Memang, menawarkan satu metanarrative di tengah-tengah budaya yang mengakui pluralisme adalah keputusan yang beresiko menurunkan derajat kekristenan menjadi hanya satu metanarrative di tengah metanarrative-metanarrative lain. Di tengah-tengah dunia Posmodern, seorang figur yang eksklusif seperti Kristus hanya dianggap sebagai salah satu dari figur-figur lain yang mempromosikan “kasih”. Meskipun begitu, paham Posmo tidak bisa menghakimi metanarrative kekristenan sebagai metanarrative yang “salah” atau “irasional,” karena konsep irasional hanya terdapat di zaman Modern. Di tengah-tengah dunia Posmo terdapat tuntutan untuk menghormati pluralisme, sehingga suatu paham tidak bisa dikatakan “salah.” Hal ini memberikan peluang bagi teologi kekristenan untuk berargumen secara bebas.

Di artikel terakhir nanti, saya akan menjelaskan tentang pandangan negatif Posmo yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah produk dari kekuasaan. Hal ini membawa kesulitan tersendiri bagi studi teologi, yang notabene adalah sebuah “pengetahuan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s