Gerakan Posmodernisme IV (Final): Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Power is Knowledge

Pelopor gerakan Posmodernisme satu lagi bernama Michel Foucault (1926-1984). Bertentangan dengan pemahaman banyak orang bahwa pengetahuan memberikan kekuasaan (knowledge is power), Foucault memiliki ide bahwa pengetahuan adalah produk dari kekuasaan (power is knowledge). Bagi Foucault, “pengetahuan” adalah hasil ciptaan pihak-pihak yang berkuasa. Pemahaman ini memang sangat cocok untuk zaman Posmo. Karena gerakan Posmo secara ekstrim mengakui Pluralisme (bahwa kebenaran itu banyak), maka gerakan ini juga menyadari bahwa di zaman Modern terdapat suatu masalah di dunia yang bernama “Otherness,” yang terjadi saat pihak-pihak minoritas dianiaya karena mereka dianggap berbeda. Karena itu, sangatlah natural jika gerakan Posmo tidak menyukai hal-hal yang dianggap “pengetahuan” atau “kebenaran” karena seringkali pengetahuan adalah rekayasa pihak-pihak yang berkuasa untuk menganiaya kaum minoritas. Contoh yang sering dipakai adalah gerakan Nazi di zaman perang dunia II. Kelompok Nazi merekayasa “pengetahuan” bahwa orang-orang keturunan Arya adalah kelompok ras yang lebih unggul. Karena itu, mereka menggunakan “pengetahuan” ini untuk menganiaya kelompok ras lain, terutama ras Yahudi.UPL8641589340954574123_Foucault_1

Meskipun ada aspek-aspek kebenaran di dalam paham “power is knowledge” ini, paham ini menjadi ber-bahaya bagi studi teologi terutama jika digunakan secara ekstrim. Saat kita mempelajari tentang teologi, kita ingin mencari kebenaran tentang suatu ke-beradaan ilahi yang dapat diaplikasikan secara universal. Menurut gerakan Posmo, hal ini memiliki potensi untuk menghasilkan “kebenaran” yang dapat kita pakai untuk menganiaya orang lain karena mereka berbeda. Sebagai contoh, orang-orang Posmo selalu mengkritik teologi kekristenan karena teologi ini menganggap orang-orang yang tidak percaya Yesus adalah orang-orang yang harus dihukum di neraka (Otherness). Maka dari itu, teologi apapun yang mengaku absolut lagi-lagi dianggap “salah,” karena teologi tersebut menjadi “kebenaran” yang dihasilkan oleh kekuasaan mayoritas dan dapat digunakan untuk menganiaya minoritas.

Meskipun begitu, paham ini berguna bagi studi teologi jika digunakan secara berhati-hati. Semua orang mengakui bahwa pengetahuan dapat digunakan untuk memaksakan kekuasaan, dan bahkan, “pengetahuan” terkadang memang merupakan hasil rekayasa orang-orang yang berkuasa. Para teolog pun mengakui bahwa pengetahuan-michel-foucault-quote-logo-e1456766586860pengetahuan teologi dan agama pernah digunakan untuk menganiaya manusia. Orang-orang Kristen mengakui bahwa terdapat suatu zaman di mana gereja bukan lagi pihak yang dianiaya tetapi malah menganiaya (di zaman Abad Pertengahan, banyak orang-orang yang dihukum mati karena tidak setuju dengan gereja). Karena itu, gerakan Posmo mengingatkan kita sekali lagi bahwa teologi yang benar adalah teologi yang melawan penganiayaan dan ketidak-adilan. Jika studi teologi mengimplikasikan bahwa Allah itu ada, maka semua manusia adalah ciptaan yang memiliki status yang sama di hadapan Allah sang Pencipta.

Orang-orang Posmo sangat benar saat memperjuangkan hal ini, tetapi mereka salah saat mereka menganggap bahwa semua pengetahuan adalah rekayasa dari kekuasaan dan dipakai untuk penganiayaan. Karena jika hal ini benar, maka paham ini pun dapat digunakan bagi gerakan Posmo sendiri: bahwa pengetahuan yang dipromosikan oleh Posmodernisme pun merupakan rekayasa orang yang berkuasa dan dapat digunakan untuk menganiaya. Observasi secara umum menunjukkan bahwa sudah banyak orang-orang Posmo yang menganggap dan menghakimi orang-orang non-Posmo sebagai orang-orang bodoh. Orang-orang beragama sekali lagi dianiaya karena mereka percaya bahwa kebenaran absolut itu ada.

Konklusi

Di empat artikel ini saya telah menjelaskan nilai-nilai Posmodernisme dan tantangan-tantangan serta kontribusi-kontribusi yang diberikannya di dalam studi teologi. Menurut saya, masalah terbesar di dalam paham Posmo adalah penolakan mereka terhadap kebenaran-kebenaran absolut. Di dalam studi teologi, terdapat asumsi bahwa kebenaran objektif itu ada, maka dari itu kita mempelajari tentang Allah yang membuat kebenaran menjadi objektif. Meskipun begitu, studi teologi harus menghadapi budaya Posmo di zaman ini, dan para teolog harus menghadapinya dengan berani dan bukan malah mengisolasi diri mereka dari budaya populer. Iman di dalam Allah harus dapat dipresentasikan dengan cara-cara yang dapat dipahami bagi orang-orang berbudaya Posmo, tanpa membiarkan teologi dibentuk dan diatur oleh budaya tersebut.

Khususnya sebagai orang-orang Kristen, kita memiliki kewajiban untuk menghadapi gerakan Posmo dengan cara menawarkan iman yang bukan minimalis. Kita tidak dapat lagi menawarkan iman kekristenan dengan berkata, “Percayjesus-kinga Yesus saja, yang lain nggak penting.” Kita harus mempresentasikan iman kita sebagai metanarrative, sebagai cerita kosmis yang mencakup Penciptaan sampai Ciptaan Baru. Seperti yang saya katakan di artikel sebelumnya, sudah banyak orang-orang muda di zaman Posmo yang mencari arti hidup. Tugas kita adalah mempresentasikan iman di dalam Kristus sebagai cerita kosmis yang dapat memberitahu arti hidup manusia. Teologi Kristen setuju dengan gerakan Posmo bahwa kemajuan akal dan rasio manusia pada akhirnya hanyalah sia-sia. Tetapi berbeda dengan gerakan Posmo yang menolak metanarrative, teologi Kristen mempresentasikan sebuah cerita yang berasal dari Allah sendiri yang menjadi manusia dan hadir di tengah-tengah kita.

Soli Deo Gloria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s