Gereja Sebagai Keluarga

Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Efesus 2:17-20)

Kita semua tahu bahwa Tuhan menciptakan kita dengan beragam perbedaan. Sayangnya, hari ini banyak orang cenderung melihat perbedaan tersebut dengan cara pandang yang negatif. Perbedaan dilihat sebagai kesempatan merendahkan orang lain atau meninggikan diri sendiri. Perbedaan bahkan tak jarang dianggap sebagai ancaman terhadap identitas kita. Padahal bila kita memahami Kitab Suci dengan baik, kita akan menemukan bahwa perbedaan merupakan kekayaan yang harus dirayakan.

Melihat perbedaan dengan cara pandang negatif bukanlah hal yang baru kita lakukan hari ini. Dosa membuat manusia sejak dulu cenderung melihat perbedaan dengan cara demikian. Termasuk di dalam jemaat yang menerima surat Efesus ini. Di awal perikop ini, Paulus lebih dulu membahas perseteruan yang dulu dialami jemaat dengan Tuhan (ay. 11-13). Akan tetapi, karya Kristus telah memberi mereka status baru. Mereka yang dulunya “jauh” dari Tuhan, kini menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Di ay. 14-16, Paulus beralih membahas bentuk perseteruan yang lain, yakni perseteruan yang muncul antar golongan jemaat. Kalau kita lihat konteksnya (bnd. ay. 11), perseteruan ini ternyata terjadi antara jemaat Yahudi dan jemaat non-Yahudi; dan perbedaan di antara keduanya nampaknya menjadi penyebab utama perseteruan ini.

images
Image was taken from Google Images

Harus diakui bahwa ada jurang perbedaan di antara dua golongan jemaat itu, yang setidaknya mencakup tiga hal (1) soal cara dan gaya hidup; (2) soal budaya dan kebiasaan; dan (3) soal status dan kebanggaan nasional. Hal-hal ini menyebabkan relasi dua kelompok ini menjadi tidak baik. Menariknya, Paulus tidak memungkiri bahwa perbedaan itu tetap ada. Tetapi, ia mengingatkan bahwa Kristus telah membawa babak baru dalam menyikapi perbedaan tersebut. Di ay. 17, Paulus mengatakan bahwa Kristus memberitakan damai sejahtera kepada mereka yang “jauh” (orang non-Yahudi) maupun mereka yang “dekat” (orang Yahudi).  Di ay. 18, ia menambahkan bahwa Kristus membuat mereka semua memiliki akses kepada Bapa. Lewat pernyataan ini, Paulus menegaskan bahwa kematian Kristus bukan hanya memperdamaikan jemaat dengan Allah, tetapi juga membawa damai antar jemaat dan menjadikan mereka satu di dalam-Nya. Dengan kata lain, ada pendamaian vertikal maupun horizontal dalam Kristus.

Akibat dari pendamaian ini, Paulus mengatakan bahwa status mereka kini berbeda (ay. 19). Mereka bukan lagi orang asing (xenoi) dan pendatang (paroikoi). Kata xenoi biasanya digunakan untuk menyebut “tamu,” sedangkan kata paroikoi merujuk pada penduduk asing yang merantau (yang biasanya dianggap sebagai penduduk kelas dua). Dengan menggunakan dua kata ini, Paulus hendak menyampaikan bahwa karya Kristus seharusnya membuat mereka tidak lagi saling “mengasingkan” atau merendahkan satu sama lain. Tidak ada lagi tamu ataupun penuduk kelas dua di dalam gereja, sebab, Paulus menambahkan, karya Kristus telah membuat kita menjadi kawan sewarga dari orang-orang kudus. Maksudnya kita memiliki status penting bersama dengan orang-orang kudus di dalam Kerajaan Allah. Namun, Paulus tidak berhenti di sana: lebih dekat lagi, ia menambahkan bahwa kita kini menjadi anggota-anggota keluarga (oikeioi) Allah. Menjadi anggota keluarga berbicara soal perlindungan, penerimaan, dan rasa saling memiliki, sehingga melalui gambaran ini, Paulus hendak menegaskan bahwa Kristus memang tidak meniadakan perbedaan, tetapi Ia memampukan kita melihatnya dengan cara yang berbeda. Perbedaan bukan lagi sesuatu yang harus menimbulkan perpecahan; sebaliknya, perbedaan merupakan anugerah yang memperkaya.

Dari pembahasan ini ada satu hal penting yang bisa kita pelajari. Perbedaan memang selalu ada, tetapi karya Kristus seharusnya membuat kita melihat dengan cara berbeda. Selama perbedaan itu bukan menyangkut hal mendasar (landasan ay. 20), belajarlah berubah dan menerima. Ingatlah, gereja seharusnya menjadi “rumah” (home) bagi semua anak Tuhan, apapun latar belakang mereka.

*Ringkasan Kotbah Kebaktian Umum GKA Trinitas 12 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s