Aktualisasi Diri Kristiani

“Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal;” (Yakobus 3:1-2a)

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31)

Meskipun istilah ‘aktualisasi diri’ pertama kali dicetuskan oleh Kurt Goldstein, namun istilah ini kini selalu dikaitkan dengan Abraham Maslow. Dalam artikelnya “A Theory of Human Motivation,” Maslow mendefinisikan aktualisasi diri sebagai “hasrat untuk pemenuhan diri, yakni kecenderungan seseorang untuk menjadi nyata/terlihat dalam hal yang menjadi potensinya. Kecenderungan ini mungkin bisa diungkapkan sebagai hasrat untuk menjadi lebih dan lebih dari yang ia bisa, untuk menjadi apapun yang orang itu bisa capai.” Maslow menjelaskan bahwa bentuk spesifik dari kebutuhan ini, tentunya akan sangat berbeda dari orang ke orang. Ia menulis, “Di satu orang, kebutuhan ini mungkin berbentuk hasrat untuk menjadi ibu ideal, pada orang lain mungkin terwujud dalam hal atletik, dan pada orang yang lain lagi, mungkin terwujud dengan menggambar lukisan atau dalam penemuan. Ini tidak selalu berarti sebuah dorongan kreatif meski dalam beberapa orang yang memiliki kapasitas untuk mencipta, kebutuhan ini akan nyata dalam bentuk demikian.” Apa yang menarik ialah ia menyatakan hanya sedikit orang yang bisa memenuhi kebutuhan ini (sekitar 2% saja).

Sementara pandangan Maslow ini memiliki banyak problem, Alkitab memberi dua catatan terkait dengan “aktualisasi diri.” Pertama, Alkitab mengajar kita untuk memahami peran dan panggilan yang Allah tetapkan bagi kita. Teks Yakobus tadi memberitahu kita tentang sebuah masalah, yakni adanya orang-orang yang berambisi menjadi guru. Pada masa itu, jabatan guru memang sangat dekat dengan penghormatan, sebab seorang guru harus dihargai seperti mengormati sorga (baca: Allah; m. Abot 4:12). Selain penghormatan, jabatan ini juga menguntungkan secara ekonomis, sebab dipercaya seseorang akan mendapat pahala besar bila menjamin kemakmuran seorang guru. Hal ini tentu sangat menarik bagi jemaat Yakobus yang miskin serta mengalami tindasan sosial dan ekonomi. Tetapi Yakobus mengingatkan mereka untuk berhenti berambisi menjadi guru. Ia mengingatkan bahwa ada konsekuensi berat yang harus dihadapi ketika seseorang menjadi guru. Apa yang juga hendak ditekankan Yakobus di sini ialah soal panggilan. Yakobus tidak melarang seseorang menjadi guru, asal itu bukan semata-mata karena alasan sosial dan ekonomi; berfungsilah menurut panggilan Tuhan. Jadi, jangan mengambil sebuah peran (aktualisasi diri) hanya karena alasan kesenangan, sosial, dan ekonomi; melangkahlah karena Tuhan memang memanggil kita ke sana.

Kedua, Alkitab mengajar kita untuk berfungsi dengan baik dalam konteks kemuliaan Allah. Salah satu problem yang dijawab oleh Paulus di dalam surat 1 Korintus ialah soal makan makanan bekas penyembahan berhala. Masa abad pertama bisa diibaratkan seperti sebuah “pasar agama” yang toleran. Konsekuensinya, kekristenan mau tidak mau pasti bersinggungan juga dengan agama-agama lain, khususnya dalam pesta keagamaan mereka. Di 1Kor. 10:21, Paulus mengingatkan bahaya spiritual dari pesta keagamaan tersebut. Namun, Paulus nampaknya juga mengantisipasi keberatan yang dimunculkan orang Korintus: bukankah daging di pasar juga daging persembahan berhala? Bagaimana bila mereka diundang makan di rumah orang lain? Di sini Paulus tidak memberikan jawaban hitam putih, tetapi ia memberi prinsip penting yang harus diingat oleh jemaat Korintus: lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan. Prinsip ini berlaku untuk setiap hal yang orang Kristen lakukan (bnd. “atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain”). Ini berarti pengejaran kita terhadap “aktualisasi diri” juga seyogyanya ada dalam koridor memuliakan Allah. Sebuah upaya “aktualisasi diri” yang tidak memuliakan Allah tentu bukan hal yang diperkenan Allah. Memuliakan Allah di sini tentu bicara bukan hanya soal tujuan, tetapi juga cara dan sarana. Kita tidak bisa mengejar kehendak Allah dengan cara atau sarana yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Singkatnya, hari ini kita belajar bahwa kita dituntut bukan hanya berperan sesuai rencana Allah, tetapi juga berfungsi sejalan dengan tujuan utama Allah menciptakan kita.

* Ringkasan Kotbah Kebaktian Umum GKA Trinitas 28 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s