Gerakan Posmodernisme IV (Final): Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Power is Knowledge Pelopor gerakan Posmodernisme satu lagi bernama Michel Foucault (1926-1984). Bertentangan dengan pemahaman banyak orang bahwa pengetahuan memberikan kekuasaan (knowledge is power), Foucault memiliki ide bahwa pengetahuan adalah produk dari kekuasaan (power is knowledge). Bagi Foucault, “pengetahuan” adalah hasil ciptaan pihak-pihak yang berkuasa. Pemahaman ini memang sangat cocok untuk zaman Posmo. Karena gerakan Posmo secara ekstrim mengakui Pluralisme (bahwa kebenaran itu banyak), maka gerakan ini juga menyadari bahwa di … More Gerakan Posmodernisme IV (Final): Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Gerakan Posmodernisme III: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Rejection of Metanarratives Pelopor gerakan Posmodernisme yang lain bernama Jean-Francois Lyotard (1924-1998). Bagi Lyotard, Posmodernisme adalah sebuah gerakan yang diwarnai oleh keruntuhan konsep metanarrative. Metanarrative, yang dapat diartikan secara literal sebagai “cerita besar,” adalah kisah-kisah atau cerita-cerita yang dipercayai dapat mengartikan seluruh fenomena-fenomena di dunia. Contoh: metanarrative kekristenan adalah seluruh cerita Alkitab, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan menebus ciptaan melalui Yesus Kristus, dll. Pada saat zaman Modern, sebuah metanarrative muncul yang menjelaskan … More Gerakan Posmodernisme III: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Gerakan Posmodernisme II: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Deconstructionism Salah satu pelopor gerakan Posmodernisme bernama Jacque Derrida (1930-2004). Derrida mempopulerkan ide yang dia sebut dengan Deconstructionism (kita sebut saja dalam Bahasa Indonesia sebagai Dekonstrukturisme). Menurut ide ini, terdapat beberapa asumsi-asumsi yang dibentuk oleh budaya dan tersembunyi di balik bahasa. Di dalam ide ini, gerakan Posmodernisme menolak asumsi Modernisme bahwa terdapat objek fisik di luar persepsi kita yang dapat kita ketahui. Untuk mempermudah, saya akan memberikan sebuah contoh: Modernisme: Saya melihat sebuah tempat duduk (contoh: bangku). Saya tahu itu … More Gerakan Posmodernisme II: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Gerakan Posmodernisme I: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

“Kita sekarang hidup di zaman posmo!” Samar-samar saya masih dapat mengingat salah satu teman saya meneriakkan kalimat itu di depan muka saya. Sambil memasang ekspresi marah, dia meneriakkan itu agar saya mengerti mengapa dia tidak harus setuju dengan saya dalam perdebatan saat itu. Saya yakin banyak dari pembaca juga sering mendengar istilah “Posmodernisme.” Apa itu gerakan Posmodernisme dan mengapa kita harus mengenal tentang gerakan ini? Di empat artikel ke depan (termasuk artikel ini), saya … More Gerakan Posmodernisme I: Tantangan dan Kontribusinya Terhadap Studi Teologi

Berteologi di dalam Doa

DOA; sebuah kata yang sangat sederhana, yang dapat dimengerti oleh semua orang dari semua kepercayaan. Secara sejarahnya, doa merupakan metode komunikasi yang disampaikan manusia kepada pihak ilahi. Namun karena itu, seringkali orang-orang Kristen menyepelekan doa. Kita berpikir, “Bukankah doa itu gampang? Tinggal ngomong aja ke Tuhan apa yang kita mau.” Saya rasa doa adalah salah … More Berteologi di dalam Doa

Apakah Kita Siap?

Pada tahun 2006, sebuah buku muncul dan menggemparkan seluruh dunia. Buku itu berjudul The Return of Quetzalcoatl. Bukan, buku ini bukanlah salah satu novel seri The Lord of the Rings. Buku ini mempopulerkan kembali pemahaman New Age yang didasari oleh kalender Maya. Salah satu teorinya yang sangat populer mengatakan bahwa kiamat akan datang pada tanggal … More Apakah Kita Siap?